YPDT: Evakuasi Jenazah Korban KM Sinar Bangun di Danau Toba Harus Dilanjutkan

YPDT: Evakuasi Jenazah Korban KM Sinar Bangun di Danau Toba Harus Dilanjutkan.

Pemerintah didesak melanjutkan evaluasi ratusan jenazah yang merupakan korban Kapal Motor Sinar Bangun (KM Sinar Bangun) yang tenggelam pada 18 Juni 2018 lalu. Tidak ada kata menyerah, pemerintah harus melakukan evakuasi itu, sebab dikhawatirkan akan terjadi amukan-amukan bencana jika tidak dilakukan evakuasi itu.

Ketua Umum Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Maruap Siahaan menyampaikan, evakuasi yang dilakukan Badan SAR Nasional dan pemerintah tidak maksimal. Harusnya, menurut Maruap, dilakukan secara maksimal oleh pemerintah.

“Harus dilakukan upaya yang semaksimal yang bisa dilakukan, sebab manusia yang menjadi korban memiliki martabat yang sama dengan kita sebagai manusia ciptaan Tuhan yang termulia,” tutur Maruap Siahaan, dalam keterangan pers, yang diterima, Minggu (26/08/2018).

Siahaan menegaskan, semua pihak perlu menyuarakan kembali bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus hadir bersama-sama dengan keluarga korban untuk memberikan dukungan moral dan pertolongan semaksimal mungkin menemukan para korban tragedi di Danau Toba.

Kehadiran negara, dijelaskan dia, diwakilkan pemerintah pusat, karena tragedi ini sudah menjadi tragedi nasional.

“Pemerintah adalah wakil Tuhan terdepan untuk melayani dan menyelesaikan persoalan masyarakatnya. Karena itu, pemerintah harus melakukan upaya semaksimal mungkin dengan melakukan evakuasi pengangkatan jasad korban dari dasar Danau Toba,” tegasnya.

Dia mengingatkan, jika pemerintahan setempat  atau pemerintah daerah tidak mampu melakukannya, maka tanggung jawab itu harus dilakukan pemerintah pusat. Namun jika pemerintah pusat pun tidak mampu melakukan itu, maka pemerintah harus berkoordinasi dan melibatkan lembaga-lembaga internasional.

“Seandainya berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah pusat termasuk sudah melibatkan masyarakat internasional, maka inilah yang disebut keterbatasan manusia. Manusia memiliki kemampuan yang sangat terbatas, maka ini kita sebut tragedi kita bersama,” tutur Maruap Siahaan.

Adalah menjadi tragedi bersama, jika manusia tidak mampu mengatasi musibah yang seharusnya dapat diantisipasi dan diatasi. “Musibah ini bukanlah nasib yang harus diratapi, tetapi perlu diatasi. Ini dialamatkan kepada kita yang telah diberi amanah dari Tuhan Yang Mahakuasa,” ujar Maruap.

Sebagai manusia yang memiliki keyakinan kepada Tuhan Pencipta Semesta, lanjutnya, Tuhan sudah hadir di tengah-tengah kehidupan manusia hingga saat ini sejak manusia diciptakan seturut citra-Nya (Imago Dei). “Tuhan selalu berpihak kepada mereka yang lemah dan menjadi korban,” ucap Siahaan.

Perlu disadari, Kehadiran Tuhan bukan semata-mata bahwa DIA datang dari Surga ke Bumi, tetapi kehadiran-NYA sudah dinyatakan melalui hikmat, ilmu pengetahuan, dan akal budi kepada ciptaan-Nya termulia, yaitu manusia yang segambar dengan citra-Nya.

“Tuhan menyatakan kehendak-Nya kepada manusia melalui ilmu pengetahuan, hati nurani, empati, dan tindakan mulia kita bagi sesama. Karena itu, hendaknya dimaksimalkan mengatasi berbagai tragedi dan persoalan bencana,” ujarnya.

Menurut dia, ketika keluarga korban berseru kepada Tuhan, maka itu dialamatkan kepada pemerintah yang harus menjawabnya, bukan berpasrah saja dan mengatakan sudah kehendak-Nya.

Dia percaya, Tuhan tidak pernah berkehendak atau merancangkan kecelakaan kepada manusia. Rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera sebagaimana DIA menyatakan-Nya dalam Kitab Suci.

“Tuhan menyatakan kehendak-Nya melalui manusia agar melakukan upaya dan menggunakan teknologi dan ilmu pengetahuan secara maksimal. Jadi keluarga korban yang berseru kepada Tuhan itu harus dijawab pemerintah pusat,” tegasnya.

Sampai kini, lanjutnya, Pemerintah sepertinya tidak memberi pilihan kepada rakyat, dalam kasus ini keluarga korban. Pernyataan pemerintah pusat hendak menghentikan pencarian jasad korban sangat disayangkan semua pihak, terutama pihak keluarga korban.

Pemerintah seharusnya bertanya secara mendalam apa yang dikehendaki dan diharapkan keluarga korban. Pemerintah pusat juga harus terbuka dan menyatakan keberpihakannya kepada keluarga korban yang belum mengetahui kepastian dan kejelasan upaya pemeritah pusat mengatasi tragedi ini.

Maruap Siahaan mengungkapkan, beberapa pihak anggota keluarga korban yang sempat berkomunikasi dengan pengurus YPDT pada Selasa (3/7/2018) siang menyampaikan, mereka masih kuat pengharapannya agar jasad korban dapat ditemukan meskipun dalam keadaan tidak utuh.

Keluarga korban mengharapkan dukungan pemerintah pusat agar tetap melanjutkan evakuasi jasad korban yang telah ditemukan keberadaannya dengan berupaya semaksimal mungkin.

“Setelah jasad-jasad tersebut ditemukan, mereka sebagai korban meninggal pun perlu dimakamkan secara layak,” ujarnya.

Terakhir, Maruap meyakini bahwa akan ada keajaiban dan mujizat Tuhan di muka bumi melalui hikmat, akal budi, dan upaya manusia yang tertinggi dengan melibatkan ilmu pengetahuan yang setinggi-tingginya untuk mengatasi permasalahan manusia.

“Hal itu diamanatkan kepada Pemerintah Indonesia di muka Bumi. Apakah kita berhenti dan menyerah begitu saja? Mari kita jawab tantangan dan pergumulan tersebut,” pungkasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan