YLKI: Usulan Kenaikan Tarif Tol Cikampek Tidak Masuk Akal

YLKI: Usulan Kenaikan Tarif Tol Cikampek Tidak Masuk Akal.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mempersoalkan usulan kenaikan tarif tol Cikampek yang semakin tidak masuk akal.

Alasannya, saat ini tol Cikampek sangat tidak memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ada, baik dari sisi kualitas infrastruktur jalan, kecepatan rata-rata kendaraan dan antrian di loket pembayaran.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menyampaikan, semua kondisi yang terjadi di Tol Cikampek itu sebagai dampak dari pembangunan elevated toll  dan Light Rail Transit (LRT) yaitu Kereta Api Penumpang yang beroperasi di kawasan perkotaan yang konstruksinya ringan dan bisa berjalan bersama lalu lintas lain atau dalam lintasan khusus, disebut juga trem.

“Usulan kenaikan tarif tol Cikampek itu tidak masuk akal,” tutur Tulus Abadai, di Jakarta, Jumat (24/08/2018).

Supaya fair, lanjut Tulus, tarif tol Cikampek justru seharusnya diturunkan. Hal itu dikarenakan saat ini konsumen dirugikan dari sisi pelayanan.

Contoh aktual, katanya, jarak tempuh Jakarta-Bandung bisa ditempuh 6-7 jam. V/C ratio jalan tol Cikampek sangat rendah, lebih dari skor 1. Kecepatan rata-rata yang ideal adalah antara 0,6 sampai 0,7.

“Jadi usulan kenaikan tarif tol Cikampek harus ditolak. Usulan kenaikan itu baru layak dilakukan setelah kondisi lalu-lintas jalan tol Cikampek normal, yakni jika pembangunan elevated toll dan LRT selesai,” ujarnya.

PT Jasa Marga selaku operator jalan tol Cikampek dan jalan tol Sediyatmo (tol Bandara Soekarno-Hatta), mengusulkan kenaikan tarif tol untuk kedua ruas tol tersebut.

“Kalau usulan tol bandara masih rasional, tapi juga harus diaudit dari sisi implementasi Standar Pelayanan Minimal yang ada. Jika tidak mampu memenuhi SPM , pun harus ditolak,” pungkas Tulus.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mengusulkan kenaikan tarif Tol Jakarta-Cikampek. Saat ini, tarif yang dikenakan ke masyarakat untuk melintasi Tol Jakarta-Cikampek yakni Rp 15.000.

Menurut General Manager PT Jasa Marga Cabang Jakarta-Cikampek, Raddy R Lukman, usulan kenaikan tarif tol itu akan disampaikan kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR pada November 2018.

Kan November 2018. Kami akan mengusulkan. Mengenai keputusannya (persetujuan) itu nanti di BPJT,” ujarnya di Kantor Pusat Jasa Marga, Jakarta, Jumat (24/8).

Dia pun membeberkan, nantinya kenaikan tarif tol Cikampek yang diusulkan akan menyesuaikan laju inflasi dua tahun terakhir di sekitar lokasi tol. Pada tahun lalu, laju inflasi di sekitar Tol Jakarta-Cikampek tercatat 5-7 persen.

“Tahun kemarin mungkin 5-7 persen-lah. Jauh banget dibanding dulu-dulu, kan bisa 12-14 persen dua tahunan,” katanya.

Dia menambahkan, usulan kenaikan tarif yang akan dilakukan pihaknya itu merupakan amanat dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43/2014 tentang Jalan Tol, di mana penyesuaian tarif tol dilakukan 2 tahun sekali.

“Mekanismenya (kenaikan tarif) memang jatuhnya tahun ini. Dua tahunan naik kan, dan itu bergantung dengan besaran inflasi dua tahun sebelumnya,” ujar Raddy.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*