Wujudkanlah Three Ecumenical Movement

Catatan Pdt Saut Hamonganan Sirait Akhir Sidang Raya XVII PGI di Waingapu Menuju Toraja Tentena: Wujudkanlah Three Ecumenical Movement.
Catatan Pdt Saut Hamonganan Sirait Akhir Sidang Raya XVII PGI di Waingapu Menuju Toraja Tentena: Wujudkanlah Three Ecumenical Movement.

Catatan Pdt Saut Hamonganan Sirait

Akhir Sidang Raya XVII PGI di Waingapu Menuju Toraja Tentena

Sebagai catatan akhir dari Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) yang berlangsung di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Pendeta Saut Hamonangan Sirait mendorong Three Ecumenical Movement yang akan dilakukan dan diperjuangkan ke Sidang Raya PGI berikutnya, di Tana Toraja, Tentena, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pdt Saut Hamonangan Sirait mulai menorehkan, suatu ketika, Peter Demberger, Seorang Pendeta Jerman yang cukup lama melayani di Indonesia, memergoki sepasang insan yang duduk begitu mesra di ruang restoran.

Begitu mengetahui kedua orang tersebut, Demberger sedikit berteriak, “Wao, kalau Pendeta Liesje dan Saut telah bertemu, Sidang Raya selesai sudah,” seru Pdt Demberger dengan aksen Jermannya yang sangat kental.

Pertemuan waktu itu memang sedang membicarakan Sidang Raya PGI Tahun 2000 di Palangkaraya. Saya dicalonkan HKBP dan Kak Lies dicalonkan SA Sulutteng, untuk jabatan yang sama, Sekum.

Bukan kebetulan, kami dicetak di Rumah Oikumene sejak mahasiswa. Kak Liesje adalah senior yang sangat banyak memberi pengetahuan dan turut membentuk sikap Oikumenis kami.

Pada waktu itu, ada semacam konvensi, hukum tidak tertulis dari Sidang Raya ke Sidang Raya, Hanya Doktor yang bisa menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Umum PGI.

Kami berdua bukan doktor pada waktu itu. Saya pribadi memang dengan niat sadar dan sengaja ingin melawan arus itu. Pas juga saat itu saya masih lajang, jomblo atau brondong dalam bahasa millenial sekarang.

Bagi saya, gelar akademis mesti dihormati, tetapi bukan jaminan dan kepastian untuk kepemimpinan dan kemampuan manajerial, yang harus diraih di lapangan-lapangan organisasi. Bukan di bangku-bangku perkuliahan.

Banyak yang menentang dengan terbuka. Hampir seluruh alumni Ketum dan Sekum PGI, yang memang semuanya doktor, sangat keras menentang orang yang belum meraih gelar doktor untuk jadi Sekum apalagi Ketum PGI. Gelar doktor itu bagai Kasta Brahmana untuk urusan jabatan di PGI. Bahkan bagi sinode-sinode.

Saya tetap maju untuk membuktikan bahwa jenjang akademis memang mesti dihormati, tetapi kemampuan mengorganisir dan memimpin tidak akan bisa diraih dengan hanya eksperimentasi di bangku kuliah dan perpustakaan.

Universitas dari kata universe, seharusnya menyadarkan kaum intelektual bahwa seluruh dimensi di universe ini adalah ilmu dan ilmiah.  Justru di lapanganlah yang genuine ilmiah, paling riil dan faktual.

Kak Liesje, tanpa saya duga mengatakan mundur, dan menjanjikan dukungan penuh kepada saya. Itu terjadi pada hari pertama.

Komitmen kaderisasi menjadi dasar utama Kak Liesje untuk mendukung adik-adiknya. Sidang Raya Palangkaraya tetap dimenangkan para Doktor.

Pada Sidang Raya di Mamasa dan di Nias,  Sekumnya sudah Magister. Bahkan pada Sidang Raya di Waingapu ini, Ketum dan Sekum, keduanya magister.

Di celah-celah waktu kosong, pertemuan dengan Kak Liesje sering terjadi di Sidang Raya ini. Terakhir di Pantai Walakiri yang indah.

Kami tertawa lepas mengenang semua dan bercerita kepada para sahabat, penuh gembira. Namun ada yang menohok sanubari, manakala Kak Liesje menantang, “Iyo, gana mo beking apa, Saut,  S’karang? So bagitu lama to, waktu so habis ne,” ungkapnya, meski dalam nada canda.

Pertanyaan Kak Liesje yang saat ini Ketum GPI dan telah dilantik menjadi anggota MPL PGI, cukup melanda dan mendera jiwa saya.

Dunia sekarang, yang semakin sulit dibatasi nilai dan wibawa institusi, yang tidak begitu ramah lagi dengan Pemimpin Kharismatis, tentu memerlukan daya dan kerangka strategi baru. Apalagi peningkatan usia manusia.

Dunia sekarang malah mendefinisikan batas usia kaum muda 60 tahun. Mortalitas dan morbiditas  semakin menurun. Immortalitas atau susah mati, sering disebut orang banyak nyawa,  secara relatif absolut meningkat.

Di tengah-tengah keadaan itu, kritik terhadap hasil Sidang Raya di Waingapu ini telah bermunculan dengan argumentasi yang kuat. Paling tidak ada 3 isu yang mendera kepemimpinan sekarang.

Pertama, Jiwa Oikumene yang akan mati kalau tidak menyatakan semangat berbagi. Dari  91 anggota PGI, ada 2 Sinode memasukkan 2 pelayan-nya. Dan Panitia Nominasi memasukkan di Majelis Pekerja Harian (MPH), yang sangat terbatas itu. Semangat berbagi jelas dan terbukti telah direduksi, tergerus.

Kedua, fakta yang berangkat dari laporan MPH PGI menyangkut Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Rumah Sakit PGI Cikini, yang merupakan simbol historik kehadiran Jiwa Oikumene bagi Bangsa Indonesia untuk pendidikan dan kesehatan.

Belum lagi pada properti idle yang bisa hancur, rusak dan malah lenyap. Disadari atau tidak, keseluruhannya memiliki sejarah dan jiwa yang berangkat dari Kesadaran Oikumenis.

Membiarkan atau mematikan hal itu di tengah kevakuman raihan prestasi, atau jejak baru yang membarakan semangat Oikumene, merupakan sikap yang sangat berbahaya bagi Gerakan Oikumene itu sendiri.

Ketiga, Sosial Politik Oikumene, yang mencakup seluruh dimensi kehidupan. Relasi dengan sesama institusi Oikumenis, secara faktual  tidak sinergis. Malah melahirkan suasana yang tidak kondusif. Pada ujungnya, melahirkan keprihatinan demi keprihatinan yang meluas.

Konsentrasi tidak akan mungkin dapat dikonsolidasikan dalam takaran yang minimal sekalipun. Dalam konstelasi yang demikian, energi untuk berperan dalam konteks sosial-politik menjadi hanya sekadar tampil.

Tidak mengherankan apabila Sinode-sinode di Papua, khususnya GKI Papua, pada pembahasan di sie Papua, dengan tegas mengatakan akan keluar dari PGI, bila tidak ada kebijakan dan tindakan konkret dari PGI terhadap realitas pahit di sana.

Belum lagi kohesi bangsa yang begitu rentan segregasi dalam dasawarsa belakangan ini. Pendekatan pola lama yang masih diwarnai roh orde baru berupa audiensi dengan penguasa, bersifat seremonial.

Termasuk dengan organisasi-organisasi keagamaan dalam bentuk formal-formalan dan kemudian mengeluarkan pernyataan bersama. Itu sudah waktunya untuk dibuang.

Pergerakan-pergerakan di bawah, terutama Aktivis-Aktivis Nasionalis Religius, justru yang lebih banyak mewarnai, membantu pemerintah bila on the track. Dan menekan pemerintah dengan segala daya untuk mengeluarkan kebijakan dan program yang pro-rakyat.

Semuanya itu adalah Urusan Tuhan yang mesti dinyatakan PGI. Kalau PGI masih mau disebut Alat Tuhan. Perlu juga diingat, Tuhan bisa mengalihkan mandate-NYA kepada semua lembaga dan ciptaan-NYA yang beragama manapun, bahkan kaum atheis, homo dan lesbi sekalipun. Ingatan kita jelas, Batu-batu sekalipun digunakan untuk memuji dan memuliakan namaNYA.

Three Ecumenical Movement

Berangkat dari keprihatinan luhur, cuatan hati dan kegamangan yang tidak disadari selama Sidang Raya XVII PGI di Waingapu ini, terkait kondisi sekarang, saatnya untuk sesegera mungkin bagi MPH PGI merumuskan dan merealisir tiga prioritas utama yang bisa disebut Three Ecumenical Movement.

Pertama, penting membuat rumusan dengan parameter dan indikator penguatan sinode-sinode. Hal ini akan berimplikasi dengan penguatan daerah dengan signifikan.

Pemetaan  sinode-sinode secara holistik, yang secara pasti menginformasikan skala prioritas kebijakan dan program. Akses terhadap Pimpinan Sinode dibuka dan dibantu untuk memperoleh jalur koneksitas langsung. Bahkan, terhadap Kepala Daerah, para Wakil Rakyat, MPH PGI harus merancang strategi yang jitu dan cepat.

Kedua, Kemitraan Lintas Agama  untuk membuat platform dan melaksanakan bersama program mengatasi kemiskinan, intoleransi, narkoba, korupsi, kebodohan, kerusakan alam. Kaum expert dari seluruh lembaga agama secara representatif diangkat menjadi pengurus dan pelaksana.

Ketiga, Komisi Khusus Papua, yang akan merumuskan masalah secara faktual dan menyelesaikannya dengan segera. Komisi ini merupakan special mechanism  bagi PGI dengan tingkat kewenangan yang lebih luas.

MPH PGI menjadi fasilitator dan pertanggungjawaban kepada MPL. Tiap-tiap komisioner yang duduk dalam Komkisi Khusus (Komsus) dapat mengangkat missioner, berupa Kelompok Kerja atau Pokja di Jakarta dan Papua.

Kewenangan untuk financial supporting, dapat diserahkan kepada Komsus sendiri. Bak lemak menggoreng dirinya sendiri.

Rezim MPH PGI sekarang mencerminkan kesinambungan dan pembaruan. Ketua Umum telah memasuki kwartal siklus kepemimpinan. Sekum siklus pertama dan Wasekum siklus kedua.

Di samping itu, satu Ketua yang menjadi Eksekutif di Pemerintahan, Gubernur Sulut, mengandung makna theologis baru.

Banyak yang mengecam dan menyesalkan. That is  as usual. Indonesia dan Gereja membutuhkan kebaharuan dan kepada tiap orang. Tuhan membuka kesempatan. Bila dengan jeli melihat dan seharusnya menjadi ratapan gereja-gereja, “Bukankah Negara selama dasawarsa ini lebih banyak melahirkan karya ilahi ketimbang Gereja-Gereja tersendiri?” Mari kita dengan jujur mengakui.

Saya berpikir dan roh saya bergemuruh, masuknya Gubernur Sulut yang telah begitu lama saya kenal, Bang Olly, jangan-jangan di-BKO-kan Tuhan dari Negara ke Gereja, temporal. Karya keilahian di negara hendak digelorakan lagi di Gereja.

Selamat berkarya kepada Majelis Pekerja Lengkap (MPL), Majelis Pertimbangan (MP) dan Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPH PGI) yang baru.

Teramat khusus kepada Duo Magister, Abangku Pendeta Gomar Gultom, Ketua Umum. Dan Adikku, Pendeta Jacky Manuputty, Sekum.

Mari mengeluarkan Oikumene dari dalam karung dan membebaskannya dari para penyandera.

***

Pdt Saut Hamonangan Sirait

Mantan Direktur Departemen Pemuda HKBP

Mantan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Jakarta (GMKI Jakarta)

DPP Persatuan Intelijensia Kristen Indonesia (DPP PIKI)

Mantan Ketua DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI)

Mantan Ketua Umum DPP Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo)

Dosen Sekolah Tinggi Teologia HKBP (STT HKBP) Pematang Siantar

Pendiri Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI)

Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Nasional

Pendiri Kelompok Pelita Sejahtera (KPS)

Sekretaris Mantan Wakil Ketua Panwaslu Pusat

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI)

Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Republik Indonesia (DKPP RI)

Peraih Ban Hitam, DAN Tiga, Kehormatan Karatedo Tako Indonesia. Tapi belum 1 jurus pun lulus.

Mantan Sekretaris Komite Etik Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) bersama Todung Mulya Lubis, Komarudin Hidayat dan Anies Rasyid Baswedan, yang memecat La Nyalla dari Eksekutif Komite PSSI, eeh La Nyalla malah menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) sekarang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*