Warganya Sedang Kesusahan Kok Masih Saja Sibuk Pencitraan, Rakyat Kelas Bawah Tagih Janji Walikota Bogor Bima Arya

Warganya Sedang Kesusahan Kok Masih Saja Sibuk Pencitraan, Tagih Janji Walikota Bogor, Ketua DPDP PSI Kota Bogor Sugeng Teguh Santoso Ingatkan Janji Bima Arya Kepada Rakyat Kelas Bawah.
Warganya Sedang Kesusahan Kok Masih Saja Sibuk Pencitraan, Tagih Janji Walikota Bogor, Ketua DPDP PSI Kota Bogor Sugeng Teguh Santoso Ingatkan Janji Bima Arya Kepada Rakyat Kelas Bawah.

Sikap dan perilaku pemimpin yang asyik sibuk pencitraan tidak pantas dicotoh. Apalagi jika warganya yang kebanyakan berada di level masyarakat kelas bawah yang kesusahan, maka yang dibutuhkan adalah pemimpin yang turun ke bawah membuktikan kerja-kerja nyata untuk mengatasi kemiskinan dan berbagai problema warganya.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Solidaritas Indonesia (DPD PSI) Kota Bogor, Sugeng Teguh Santoso mengungkapkan, sejauh ini misalnya, Walikota Bogor Bima Arya tidak layak dianggap sebagai pemimpin masyarakat, lantaran hanya kebanyakan sibuk pencitraan dengan mengabaikan persoalan-persoalan kesusahan warga Bogor.




Seharusnya, Walikota Bogor Bima Arya tidak alergi mengunjungi warganya yang berada di kelas bawah, untuk memastikan terwujudnya pelayanan publik yang memadai bagi warga Bogor. Terutama bagi warga masyarakat kelas bawah.

“Pak Walikota Bogor Bima Arya, turunlah ke grass root. Akan ditemukan realitas lain yang lebih seram daripada pencitraan-pencitraan yang dilakukannya,” tutur Sugeng Teguh Santoso, Rabu (29/01/2020).

Di Bogor, lanjut Sugeng Teguh Santoso yang juga Sekjen Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (Sekjen DPN Peradi) itu, kondisi kian terbalik. Walikota Bogor Bima Arya sibuk pencitraan. Sedangkan Lembaga Swadaya Masyarakat bergerak riil melakukan pembenahan-pembenahan kepada warga kelas bawah di Bogor. Tanpa dukungan Walikota Bogor.




“Kalau untuk Kota Bogor, Lembaga Swadaya Masyarakat Mitra Rakyat Bersatu dengan Ketuanya Pak Jamal Nasir, merekalah yang lebih layak dan kompeten bicara mengenai kondisi masyarakat bawah di Bogor,” ungkap Sugeng Teguh Santoso.

Faktanya, lanjutnya, lembaga itu menurunkan langsung personil-personilnya untuk melayani problem-problem rakyat secara langsung. Terutama melayani hak-hak dasar warga yang tersisihkan dari Pelayanan Publik seperti pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial.

“Nah, Pak Walikota Bogor Bima Arya posisinya dimana? Sebagai Walikota, seharusnya Bima Arya melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya mengurusi rakyat bawah. Jadi, persoalan-persoalan riil yang dihadapi masyarakat mesti segera direspon oleh Pemerintah Kota,” ujar Sugeng Teguh Santoso.




Salah satu hal yang urgen yang harusnya dilaksanakan oleh Pemkot Bogor adalah Pembangunan Rumah Tangga Layak Huni (RTLH). Hingga saat ini, tidak tepat sasaran.

“Pak Walikota jangan kebanyakan gaya di depan kamera. Seolah-olah sudah melayani rakyat. Pak Walikota mengukur pelayanan dengan RTLH dari angka-angka anggaran yang dialokasikan. Juga dengan angka-angka mati. Katanya untuk RTLH. Lah, Pak Walikota Bogor pernah mengecek ke bawah gak? Tepat sasaran atau tidak?” bebernya.

Sugeng Teguh Santoso menyarankan, Walikota Bogor Bima Arya hendaknya semakin getol turun ke grass root. Untuk memastikan secara nyata kondisi realitas warga Kota Bogor.




“Itu perlu cek ke kondisi riil di lapangan. Pak Walikota Bogor Bima Arya jangan asyik sibuk lar-lari seputar Kampung Warna, Surken, keliling Kebun Raya Bogor. Itu semua sudah cantik-cantik kondisinya. Masuk dong ke labirin-labirin kumuh di Kota Bogor. Turun langsung ke masyarakayt miskin di Kota Bogor. Cek keadaan riil masyarakat kelas bawah dengan segala ragam problematika khas orang miskin. Itu baru jempol. Jadi, jangan sibuk lari-lari dong, tuan muda,” tantang Sugeng Teguh Santoso.

Sugeng Teguh Santoso yang sejak kuliah aktif melakukan advokasi rakyat kecil dan rakyat bawah melalui Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta seperti, LBH YLBHI, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) dan lain sebagainya itu, mengatakan seorang pemimpin tidak seharusnya sibuk pencitraan dengan mengabaikan persoalan riil masyarakat miskin di wilayahnya.

“Bayangkan saja, sungguh ironis ada atap rumah warga di Babakan, Pasar Bogor ambruk. Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Bahwa  Program Pembangunan Kota Bogor tidak berlari bersama masyarakat arus bawah,” ungkap Sugeng Teguh Santoso.




Walikota Bogor Bima Arya, kata Sugeng, hanya sibuk berlari-lari keliling Kebun Raya Bogor.

“Sehingga, wajar di sana tidak ada kemiskinan dan gubuk reot. Di sekitar Kebun Raya itu malah banyak bangunan megah dengan mobil-mobil mewah yang hilir-mudik kok. Ke masyarakat bawah dong turun,” ujarnya lagi.

Harusnya, katanya lagi, dokumentasi pencitraan yang dapat dilakukan Bima Arya sebagai Walikota Bogor adalah turun dan bersama masyarakat arus bawah. Bahkan, jika warga arus bawah tidak punya jas yang layak, sebaiknya Walikota Bogor Bima Arya meminjamkannya.




“Dipinjamkan dong, supaya orang kecil ikut berlari. Bukankah mereka juga punya hak untuk berlari? Jangan hanya Pak Walikota saya yang asyik berlari dengan birokrasinya,” ujarnya satir.

Bagi Sugeng, aneh jika ada rumah warga yang ambruk. Padahal Program RTLH jor-joran dicitrakan.

“Lalu, kemana aja lurahnya juga selama ini? Apakah masih berlari lupa menengok warganya? Kan tugas pemerintah melayani warga,” ujarnya.




Lihat saja, kata Sugeng, tidak jauh beda dengan kondisi warga di Kedung Badak, Tanah Sereal, Bogor. Di wilayah ini, malah LSM Mitra Rakyat Bersatu (MRB) juga yang turun melakukan evakuasi dan advokasi.

“Ya, MRB mengevakuasi. Atas nama Pak Edi Rahman, di bawah jebatan kali Ciliwung Jalan Sholis. Lurahnya juga tidak apresiatif. Jadi, Pak Walikota, kalau stamina tidak mendukung jangan dipaksakan lari. Lebih baik jalan santai tapi tujuan tercapai,” ujar Sugeng.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan