Warga Masyarakat Indonesi Terusir dari Tanahnya, Dunia Kian Sengsara, Gerak Lawan Keluarkan Komunike Musyawarah

Warga Masyarakat Indonesi Terusir dari Tanahnya, Dunia Kian Sengsara, Gerak Lawan Keluarkan Komunike Musyawarah.

Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerak Lawan menyerukan bahwa warga masyarakat Indonesia di seluruh Tanah Air terusir dari lahan dan tanah serta permukimannya. Selain itu, kini, masyarakat dunia kian sengsara.

Karena itu, perlawanan terhadap lembaga-lembaga kapitalistik seperti International Monetery Fund (IMF) dan World Bank (Bank Dunia) yang melakukan kondisi-kondisi buruk itu harus terus disuarakan.

Gerak Lawan terdiri dari organisasi-organisasi masyarakat sipil yakni, Aksi! For Gender, Sosial and Ecological Justice, Bina Desa, FPPI, Front Nahdiyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam, Front Perjuangan Pemuda Indonesia, IGJ, IHCS, JATAM, KIARA, KNTI, KRuHA, Manikaya Kauci, Solidaritas Perempuan, Solidaritas Buruh Migran Indonesia, Purplecode Collective,  SNI, SPI, YLBHI.

Salah seorang Jurubicara Gerak Lawan, Merah Johansyah menyatakan, perlawanan tidak boleh berhenti, meski banyak hambatan yang harus dihadapi masyarakat.

Merah Johansyah yang merupakan Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) itu pun menyampaikan Komunike Musyawarah dari Gerak Lawan, Minggu (14/102/2018).

Komunike Musyawarah yang diberi judul Dunia-Warga Yang Melampaui Kuasa Bank (World Beyond Bank), Persahabatan Yang Jujur Adalah Alat Politik Utama Dari Pergerakan Kita, berisi penjelasan dan sikap Organisasi Masyarakat Sipil yang tergabung di Gerak Lawan terhadap pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali. Berikut adalah isi Komunike Musyarawarah itu;

 

Komunike Musyawarah

 

Dunia-Warga yang melampaui Kuasa Bank (World Beyond Bank)

Persahabatan yang jujur adalah alat politik utama dari pergerakan kita

 

Yang kami hormati,

 

Saudara-saudara Warga masyarakat Bali, perempuan dan laki-laki, yang tetap setia membela kesucian pulau dan kehidupannya.

Saudara-saudara Warga masyarakat di seluruh Indonesia yang terusir dari tanah ruang-tinggalnya atau rusak hidupnya oleh perluasan industri ekstraksi kayu dari hutan tropis, pertambangan, perkebunan besar, ekstraksi lewat bank, dan pasar uang.

Saudara-saudara Warga masyarakat di berbagai Negara di belahan Bumi Selatan dan Utara yang sejarah hidup dan ruang-hidupnya hendak dihapuskan dari peta Bumi dan ingatan bersama, lewat pembangunan koridor-koridor infrastruktur yang mengatas-namakan kepentingan kita – semua dan ikut dibiayai oleh uang pajak dan keringat kita.

Saudara-saudara yang kehilangan dan terluka karena kematian anggota keluarga, sanak keluarga, kekasih, kerabat, karena membela diri/ruang-hidupnya dari kejahatan korporasi yang didukung oleh sekutu-sekutu kolusi dan korupsinya.

Kami hendak melaporkan, bahwa sejak 10 Oktober 2018 yang lalu di Pesisir Selatan Pulau Bali tengah berlangsung forum “Dunia Warga yang Melampaui Kuasa Bank” – sebuah musyawarah besar untuk mempertukarkan pengalaman rakyat sehari-hari di belasan Negara termasuk Indonesia, India, Korea, Khmer, Filipina, dan Thailand, dalam melawan pemaksaan/kekerasan untuk melindungi proyek-proyek investasi yang menyengsarakan warga.

Hampir empat ratusan peserta musyawarah merupakan bagian dari jejaring persahabatan dan kerja sama yang terus membesar sejak musyawarah pertama di 2005.

Kami ada di sini untuk mempertukarkan dan menghimpun pengetahuan penting yang kami pelajari dari pengalaman melawan perampasan kehidupan.

Bersamaan waktunya dengan pertemuan kami, kongsi-bisnis Bank Dunia dan IMF-Dana Keuangan Internasional, tengah mengorganisir para manajer negara-negara anggota klub, antara lain untuk memetakan seberapa besar hutang baru bisa ditanda-tangani oleh masing-masing negara anggota klub persatuan-hutang, termasuk oleh Republik Indonesia, tuan rumah rapat tahunan ini.

Kongsi-bisnis Bank Dunia dan IMF – mesin ekstraksi uang dan mesin pemaksa yang beroperasi di negara-negara anggota PBB – masih gigih hendak mempertahankan wibawa penjajahan – ekonomi atas Negara – negara koloninya.

Hal ini peran keduanya dalam perampasan dan pemaksaan investasi strategis terutama di negara-negara obyek ekstraksi yang tengah membesar (“newly emerging economics”) telah banyak digantikan oleh jejaring kongsi-kongsi ekstraktor-energi, bahan dan uang yang beroperasi lintas negara.

Komposisi pelaku ektraksi dan akumulasi uangnya juga telah berubah mencolok dibandingkan, misalnya, dengan awal 1970an – ketika Bank Dunia ikut merancang Rencana Induk Investasi/Ekstraksi uang dari pulau Bali.

Meskipun begitu, peran kunci dari mesin birokrasi-negara dan mesin pemaksa kepatuhan warga-negara pada investasi tidak susut sedikitpun.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan peran awak pengurus Negara Hindia-Belanda dalam pembesaran infrastruktur ekstraksi hasil-bumi termasuk jalan raya Daendels dan pembangunan pelabuhan dan pergudangan di kota-kota logistik-ekstraksi seperti Batavia, Surabaya, Medan, atau Makassar.

Jangan juga kita lupakan pesan vital dari para pemegang penguasa politik lokal merangkap pelaku bisnis-besar, dan partai politik yang hidup dari sokongan industri ekstraktif.

Saudara-saudara yang terhormat, di hadapan mesin-mesin birokrasi raksasa kaki-seribu termasuk Bank Dunia dan IMF, di area politik yang rusuh dan anti-kehidupan seperti itu, di manakah posisi kita manusia warga-bumi?

Pertama-tama, secara poitik, kita – termasuk pelaku musyawarah ini, adalah bukan warga koloni bank atau dana ini-itu yang manapun.

Kita yang saling terhubung lewat kesamaan pengalaman hidup dalam persahabatan anti penjajahan/perbudakan sekarang mesti lebih kokoh belajar dan bekerja bersama untuk mempraktikkan sikap politik ini dalam kerja kita sehari-hari.

Jalan pikirannya sangat sederhana. Ketika denyut dan brutalitas penghisapan kekayaan untuk akumulasi kekayaan naik pesat, warga bumi sebagai bagian dari sistem-sistem kehidupan se-Bumi harus menemukan caranya sendiri untuk mengunci dan menge-rem perusakan, satu-demi-satu, di ruang-hidup kita masing-masing, bersama-sama.

Kami bersepakat bahwa kami harus bergerak dengan sebuah panduan tentang kesetia-kawanan, penolakan penghianatan terbuka maupun gelap-gelapan, dan pemihakan tanpa kompromi pada kepentingan politik jangka panjang rakyat warga bumi.

Kedua, dari proses pertukaran catatan pengalaman, kami memperoleh pelajaran berharga, bagaimana kita bisa bergerak bersama-sama dalam sebuah ikatan kesepakatan solidaritas dengan sesama yang hidup untuk membela keutuhan kehidupan.

Ungkapan sederhana ini kami anggap vital untuk menarik kontras, bukan saja di antara musyawarah “Dunia Warga yang Melampaui Kuasa Bank” dengan rapat rutin tahunan duo-penghisap darah tersebut, tetapi di antara musyawarah kami di satu pihak, dengan rapat dari organisasi-organisasi kemasyarakatan terkemuka Indonesia dengan wakil dari kedua institusi keuangan tersebut.

Bagaimana mungkin, organisasi-organisasi tersebut percaya bahwa soal perubahan-ikllim, ektraksi bahan mentah, industrial, penguatan warga desa, pembaruan “sektor keuangan” yang bisa hidup selamanya, perbaikan pelayanan publik, pembongkaran korupsi, investasi infrastruktur -untuk menyebutkan beberapa – bisa dilakukan dengan duduk berunding satu meja dengan para pimpinan Bank Dunia dan IMF? Siapa yang hendak diatas-namakan kepentingan dan suaranya? Bagaimana bisa terjadi hilang-ingatan massal tentang peran kunci justru dari Bank Dunia dan IMF dalam penciptaan kesengsaraan terorganisir di mana-mana?

Musyawarah kami juga memberikan konfirmasi bahwa proses politik pemilihan presiden dan anggota parlemen di Indonesia tahun depan harus dibaca di hadapan sejarah panjang ekstraktivisme di wilayah kedaulatan Republik.

Para peserta musyawarah yang telah mengambil risiko untuk melawan ketidak-adilan dan perampasan hak tahu, mereka tidak datang untuk sebuah lomba deklaramasi untuk menemukan kata-kata yang paling gagah dibaca atau yang paling merangsang bulu kuduk.

Tugas kita sekarang sebagai warga kehidupan adalah bekerja keras bersama untuk menggeser arah perubahan, yang menaruh hormat setinggi-tingginya pada keselamatan bumi dan keselamatan warganya.

Demikianlah laporan singkat kami dari hari ketiga musyawarah “Dunia-Warga yang Melampaui Kuasa Bank”. GERAK LAWAN – Gerakan Rakyat Melawan Neokolonialisme dan Imperialisme.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan