Breaking News

Viral Video Warga Marahi Petugas Dishub; Hadapi Warga Masih Dengan Cara dan Gaya Lama, Warga Marah, Kok Birokrasi Tak Berubah Baik!

Viral Video Warga Marahi Petugas Dishub

Viral Video Warga Marahi Petugas Dishub; Hadapi Warga Masih Dengan Cara dan Gaya Lama, Warga Marah, Kok Birokrasi Tak Berubah Baik!

Pelayanan aparatur pemerintahan atau Aparatur Sipil Negara (ASN) belum berubah menjadi baik. Tuntutan masyarakat agar dilakukannya reformasi birokrasi, masih sekedar isapan jempol.

Komunikasi aparatur kepada warga masyarakat pun tidak semakin baik. Lihat saja, sehari-hari di lapangan, aparatur masih belagak bagai raja dan penguasa. Begitulah yang masih kerap dirasakan masyarakat di lapangan.

Charles Hutahaean, pria yang sehari-hari bersentuhan dengan urusan aparatur di lapangan mengungkapkan, selain memancing emosi warga, aparatur di lapangan kerap menyudutkan, memojokkan dan mengintimidasi warga dengan berbagai dalil.

Pria yang adalah Koordinator Pengacara Rakyat (Perak) ini menyampaikan, kejadian yang menimpanya dan beberapa warga pada kemarin pagi, semakin membuktikan belum terjadi perubahan atau reformasi birokrasi itu.

Rabu, 05 Desember 2018, jalanan di jalur utama Jalan Letjen Suprapto, Jakarta Pusat sangat padat pada pagi hari. Maklum jam masuk kerja. Waktu masih menunjukkan pukul delapan kurang.

Puluhan petugas berpakaian Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, bersama Satpol PP, juga anggota Kepolisian dan Marinir dari POMAL (Polisi Militer Angkatan Laut), merangsek mengepung dan mengerumuni seorang pria kurus, yang ternyata adalah Charles Hutahaean.

Charles Hutahaean yang adalah Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Edukasi dan Advokasi Masyarakat Indonesia (LBH Lekasia), tampak sedang marah dan mengeluarkan sejumlah kalimat keras terhadap para aparatur yang juga berteriak-teriak kepada dirinya.

“Ini kantor bersama. Sekretariat bersama Perak. Pengacara Rakyat,” tutur Charles sembari menunjuk sebuah rumah berlantai dua, di Pangkalan Asem, Jalan Letjen Suprapto, Nomor 54, Jakarta Pusat itu.

Beberapa puluh menit sebelumnya, sebuah mobil sedan, merek BMW sedang parkir di trotoar di depan Sekretariat Perak. Beberapa anggota Satpol PP dan Dishub bersama polisi dan Pomal sedang mengerubungi Charles di sekitar mobil itu.

“Tidak boleh parkir di sini Pak. Segera dipindahkan, atau kami akan derek,” ujar Seorang Perempuan Berpakaian Dinas Perhubungan DKI Jakarta, yang di papan namanya tertulis Melia. Melia adalah koordinator Dishub di wilayah itu.

Charles yang baru turun dari lantai dua Kantor Sekretariat Perak itu menganggukkan kepala. Mengiyakan, bahwa dia akan segera memindahkan mobil operasional milik kantornya yang diparkirkan di bahu jalan itu.

“Ya, saya akan pindahkan. Kalau memang mau di bawa juga mobil ini oleh Dishub ya silakan. Tetapi saya mau ambil dulu berkas-berkas saya dari dalam mobil,” ujar Charles.

Melia mempersilakan Charles mengambil berkas-berkas miliknya dari dalam mobil. Seraya menunjukkan Berita Acara yang akan diserahkan ke Charles untuk diteken, Melia menyampaikan bahwa berkas dari Dishub pun harus segera diteken sebagai bukti bahwa mobil Charles ditarik dan diwajibkan membayar sejumlah denda kepada Dinas Perhubungan.

“Enggak apa-apa Bu. Saya akan bayar dendanya. Tolong BAP-nya dikasih ke saya, supaya nanti saya bisa menghubungi pihak Dishub untuk pembayaran denda atas pelanggaran saya karena parkir di trotoar,” jawab Charles.

Sementara sedang berproses mengenai mekanisme, seorang anggota Dishub lainnya bernama Zai Sumiarto datang membentak-bentak Charles. Kemudian, sebuah mobil derek milik Dishub DKI langsung tancap gas dan berhenti mendadak, di depan Kantor Perak, menutupi jalur mobil BMW yang akan dipindahkan.

Ketika proses men-derek hendak dilakukan, seorang warga berusia lanjut datang mendekati petugas. Orang tua bernama Rudianto itu menanyakan ada apa. Jalanan tampak mulai macet, dikarenakan para petugas dan mobil derek yang membentang menghalangi para pengendara.

Zai dan kawan-kawannya anggota Dishub dengan dibantu Satpol PP, Polisi dan Pomal tampak malah berdebat caci maki dengan orang tua bernama Rudianto itu.

Kaget dengan sikap dan perilaku aparatur yang semakin tidak sopan dan hendak mengerubungi pria tua Rudianto, Charles pun marah. Dia mengusir semua aparat petugas yang ada di lokasi. Adu mulut dan saling caci maki pun tak terhindarkan. Sempat terjadi aksi dorong mendorong dan hendak mengurung Charles oleh puluhan aparat. Aksi dorong-dorongan dan bentak membentak itu terjadi hingga ke tengah jalan, jalur lambat di depan Sekretariat Perak itu. Praktis jalanan tertutup, macet panjang.

“Tadi saya sudah sampaikan, ini urusan saya dengan Dishub. Saya tak masalah kalau mobil dibawa. Saya juga bersedia membayar sanksi denda yang dijatuhkan ke saya karena parkir di trotoar. Mengapa main ngegas saja teman-teman aparat ini? Gak becus kalian. Pergi kalian semua dari sini, pergi..” tutur Charles menghalau para pasukan yang bersiaga di lokasi.

Dikarenakan sudah saling emosi, sejumlah peralatan Pekerja Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau yang akrab dikenal dengan Pasukan Oranye, berhamburan. Kebetulan, sejumlah PPSU memang sedang bekerja masuk ke dalam got dan membersihkan selokan di lokasi itu.

Dikarenakan kemacetan akibat keributan kecil itu kian panjang, Charles dan teman-temannya meminta aparat segera berlalu dari lokasi itu. Dengan tampang yang gondok, para aparatur pergi meninggalkan lokasi.

Hentikan Aparatur Tukang Ngolah

Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Edukasi dan Advokasi Masyarakat Indonesia (LBH Lekasia) Charles Hutahaean menyampaikan, pihaknya tidak pernah mempermasalahkan jika ada pelanggaran yang harus menjadi tanggungjawabnya.

“Saya tadi sudah mengatakan, saya hanya mengambil berkas-berkas saya dari dalam mobil. Kunci mobil pun sudah ku berikan ke aparat Dishub, silakan dibawa. Mana BAP-nya, berapa sanksi denda yang akan saya bayarkan. Hanya menunggu mereka kasih ke saya pun dibuat berbelit-belit,” ujar Charles.

Menurut dia, aparat Dishub bersama Satpol PP, Polisi dan anggota Pomal yang hadir mengerubunginya dan orang tua bernama Rudianto itu sudah sangat arogan.

Selain sengaja membuat persoalan kian panjang, juga hendak show force ke masyarakat umum di jalanan, bahwa para aparatur itu bekerja menekan masyarakat bawah yang kebetulan mengalami salah karena parkir di trotoar.

“Sengaja dilama-lamain. Malah bentak-bentak Pak Tua. Saya tersinggung, emosi, kok jadi orang tua yang tak tahu apa-apa yang hendak dipukuli dan malah terus dimaki-maki, dibentak-bentak mereka?” ujar Charles.

Charles yang selama ini banyak mengadvokasi persoalan-persoalan rakyat menduga, watak dan perilaku birokrasi dan aparaturnya kini pun tidak berubah menjadi baik.

“Yang kita temukan selama ini, ada banyak oknum aparatur yang hendak ngolah warga. Mau menjadikan persoalan menjadi uang yang bisa dikantongi pribadi mereka masing-masing. Ini birokrasi dan aparat kita kok malah jadi tukang ngolah warga sih?” ujarnya.

Dia pun berharap, watak, perilaku dan juga perkataan-perkataan aparatur hendaknya manusiawi. Sebab, reformasi birokrasi pun menghendaki adanya pelayanan yang baik bagi masyarakat.

“Seharusnya, mereka bicara sopan santun. Tidak menekan-nekan. Memberikan penjelasan mengapa harus ditarik mobil itu misalnya. Kemudian, jika warganya sadar dan mengaku salah, ya dikasih keringanan, persuasif. Bukan malah ngegas dan mencoba mencari-cari celah kesalahan warga,” tuturnya.

Karena itulah, Charles berharap, Gubernur DKI Jakarta berserta aparaturnya, melihat dan mendengarkan warga, melakukan pelayanan yang manusiawi kepada masyarakat.

“Dan menindaktegas setiap aparatur yang mbalelo, yang memanfaatkan baju dinasnya untuk ngolah warga. Menindak aparatur seperti itu secara tegas,” ujarnya.

Lurah Tak Mau Campuri Yang Bukan Urusannya

Sekitar satu jam setelah adu mulut yang memacetkan jalanan itu, Lurah Galur, Fajar Laksono mendatangi lokasi. Dia datang dengan dikawal oleh satu orang staf kelurahan bernama Khozim Riyanto dan satu orang anggota Kepolisian bernama Aiptu Marikin.

Aiptu Marikin adalah anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang ditugaskan di Kelurahan Galur, Jakarta Pusat. Wilayah Pangkalan Asem, Jalan Letjen Suprapto itu memang adalah wilayah tugas Lurah Galur dan Babinsa Galur.

Aiptu Marikin berjalan ke lokasi para PPSU yang sedang bekerja di sekitar lokasi itu. Dia membawa sebuah kayu patah, yang merupakan sekop patah.

“Ini patah. Ini harus ditindaklanjuti. Saya mendapat laporan dari PPSU, dilapor ke kami makanya kami datang,” ujar Aiptu Marikin.

Sekop patah itu merupakan alat PPSU yang tanpa sengaja patah karena saling adu argumen dan saling dorong-mendorong, hendak pukul-pukulan dengan aparatur Dishub, Satpol PP, Polisi dan Pomal tadi.

“Bapak dapat laporan dari siapa? PPSU? Sini PPSU. Kalian melaporkan apa ke Pak Lurah dan Pak Babinsa ini?” ujar Charles, ketika dua orang petugas PPSU menghampiri karena dipanggil. “Enggak ada Pak. Kami tidak melapor apa-apa?” ujar pasukan berbaju oranye itu.

Charles mengingatkan Anggota Babinsa Aiptu Marikin itu untuk tidak memperkeruh suasana. Sebaiknya, aparat Kelurahan dan Babinsa mendudukkan persoalan pada porsinya masing-masing.

“Saya juga kehilangan jam tangan. Seharga dua juta rupiah karena aparatur tadi ribut-ribut. Bapak Babinsa mau ganti?” tutur Charles sembari memperlihatkan patahan jam tangan yang tinggal hanya gelang besinya setengah.

Dia mengatakan, sebaiknya Babinsa dan Lurah tidak memelintir kejadian dan persoalan sesungguhnya. Charles mengingatkan, selama ini aparatur pemerintah sering kali memaksakan kehendaknya dan hanya memaksakan kemauannya saja.

“Harusnya bijak menghadapi masyarakat. Lihat dan pastikan persoalan sebenarnya apa. Kemudian, kalau ada persoalan dan komunikasi yang baik kepada warga, seharusnya persoalan tidak melebar kemana-mana. Bijaklah Pak,” ujarnya.

Dia menekankan, jangan karena ada warga yang salah sedikit, seperti pelanggaran ringan karena memakir kendaraan di trotoar, lantas disengaja cari-cari persoalan lainnya, supaya bisa masyarakat ditekan dan ditindas, serta mendapat uang pengampunan untuk aparat dari warga.

Lurah Galur Fajar Laksono mencoba menengahi. Dia menjelaskan, dia meminta Babinsa turun bersama dirinya untuk mengecek lokasi, dan untuk memastikan bahwa tak ada persoalan yang harus dibuat-buat.

“Pak Marikin datang bersama saya. Dan saya hanya mau memastikan para PPSU itu tidak terjadi apa-apa. Sebab mereka itu di bawah kewenangan saya,” ujar Lurah Fajar.

Selain itu, Lurah Fajar menyampaikan, pihaknya juga tidak akan menekan warga, jika memang ada pelanggaran pastinya bisa diselesaikan lewat mekanisme-mekanisme hukum atau pemerintahan yang sudah ada.

“Ya sebaiknya setiap aparatur di kantor, maupun di lapangan, bekerja saja menurut tugas dan fungsinya. Pastikan warga tidak ditekan, tidak dipermain-mainkan, tidak hanya tegas kepada warga biasa yang ada kesalahan sedikit. Aparat harus juga tegas ke semua pihak, termasuk kepada aparaturnya yang salah, tegakkan kebenaran dan keadilan,” tutur Charles.

Setelah memastikan tidak ada pekerja PPSU yang terluka atau ikut-ikutan dengan kejadian tadi pagi, Lurah Galur Fajar Laksono, bersama Khozim Riyanto dan Anggota Babinsa Galur Aiptu Marikin meninggalkan lokasi. “Ya udah tidak ada apa-apa. Tak ada yang terluka, tidak ada yang ikut-ikutan. Kami jalan ya,” ujar Fajar.(JR/Nando/Jepri/Michael)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*