Malaysia Dapat Bela Diri Pencak Silat, Indonesia Dapat Tradisinya: Hati-Hati Banyak Budaya Asli Indonesia Bisa Dicuri dan Diklaim Negara Lain

Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) Jhohannes Marbun: Untuk Pencak Silat Malaysia Dapat Bela Diri, Indonesia Dapat Tari: Hati-Hati Banyak Budaya Asli Indonesia Bisa Dicuri dan Diklaim Negara Lain.
Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) Jhohannes Marbun: Untuk Pencak Silat Malaysia Dapat Bela Diri, Indonesia Dapat Tari: Hati-Hati Banyak Budaya Asli Indonesia Bisa Dicuri dan Diklaim Negara Lain.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia harus serius menjaga dan memelihara berbagai budaya aslinya, agar tidak dicuri dan diklaim oleh Negara lain sebagai budayanya.

Hal itu disampaikan Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) Jhohannes Marbun menyikapi penetapan Status Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Dunia yang harus dijaga dan dilestarikan.

Pasalnya, Pencak Silat ditetapkan sebagai bela diri yang dimiliki oleh Malaysia. Sedangkan Tari Pencak Silat, barulah diakui sebagai milik Indonesia. Itu dua hal yang berbeda.

Ada dua yang ditetapkan oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau  United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco), yaitu silat untuk Malaysia, dan tradisi pencak silat untuk Indonesia.

“Menarik nih. Biasanya, jika kebudayaan atau tradisi itu melampaui batas-batas negara, maka setiap 2 tahun, Unesco memberi kesempatan kepada dua atau lebih negara yang sama dalam kebudayaan, untuk bersama-sama mendaftarkannya. Nah, kali ini, untuk Silat, pertanyaannya ada apa?” ujar pria yang akrab disapa Joe itu, Sabtu (14/12/2019).

Joe mengatakan, jangan sampai jenis budaya lainnya yang asli dimiliki Indonesia, juga diklaim dan ditetapkan sebagai warisan budaya dunia milik Negara tetangga.

Misalnya Ulos, menurut Joe, itu adalah warisan Budaya Batak di Indonesia. Selain Ulos, ada sejumlah warisan Budaya Batak lainnya yang harus dijaga dan diperhatikan secara serius.

“Kita tahu, di Malaysia juga banyak diaspora Batak. Jauh sebelum adanya Indonesia atau Negara Malaysia. Sebab, kebudayaan melampaui batas-batas Negara atau borderless,” ujarnya.

Hal yang sama juga harus dilakukan suku-suku bangsa di Indonesia lainnya. Sebab, jika tidak dijaga dan tidak mendapat perhartian serius, maka nasibnya bisa sama dengan sejumlah warisan budaya yang sudah ditetapkan sebagai milik Negara lain.

Bela diri pencak silat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan oleh Unesco, pada, Kamis (12/12/2019) di Kolombia.

Penetapan itu dilakukan melalui proses panjang, sejak 2014 lalu. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menyampaikan, dengan adanya penetapan ini, semakin mengukuhkan pencak silat di kancah internasional.

“Ini tradisi pencak silat diantar ke pentas dunia. Sebetulnya secara sporadis telah terjadi di mana-mana. Hanya saja dengan penetapan ini kalau pakai bahasa ekonomi marketingnya jadi lebih luas,”ujar Hilman farid, di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Penetapan ini, katanya, dapat diambil manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat. Kebudayaan yang melimpah di Indonesia, pencak silat juga bisa masuk dalam budaya populer.

“Kita berharap, kemudian bisa mengambil manfaat dari adanya pengakuan itu untuk keduayaan populer yang kita bawa ke mana-mana terutama tarian dan film,”ujarnya.

Meski tari berbasis tradisi pencak silat sebetulnya cukup banyak. Bahkan sudah terbukti di banyak tempat yang sukses menarik perhatian masyarakat dunia. Demikian film Indonesia yang menampilan adegan pencak silat mampu memukau penonton luar negeri.

“Selalu kita kirim pesilat ke berbagai negara. Nah ini berkembang kita pelan-pelan masuk ke dunia film. Sebetulnya ada beberapa film yang fokus ke koreografi itu basisnya pencak silat. Seperti the raid. Pokoknya itu yang paling utama di dalam market itu. Dengan adanya ini kita berharap teman-teman bisa tampil di kebudayaan popular,”katanya lagi.

Hilman Farid mengklaim, pencak silat baru mulai diperjuangkan secara serius ke Unesco pada tahun 2014 silam, ketika delegasi dari Kemenpora dan Kemendikbud di era Kabinet Indonesia Bersatu II membentuk Tim Teknisnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan