Ungkap Tindak Pidana Pencucian Uang Dari 4 Kejahatan Narkotika, BNN Sita Aset Dan Uang Sebesar Rp 32 Miliar Lebih

Ungkap Tindak Pidana Pencucian Uang Dari 4 Kejahatan Narkotika, BNN Sita Aset Dan Uang Sebesar Rp 32 Miliar Lebih.
Ungkap Tindak Pidana Pencucian Uang Dari 4 Kejahatan Narkotika, BNN Sita Aset Dan Uang Sebesar Rp 32 Miliar Lebih.

Badan Narkotika Nasional (BNN) mengendus adanya kejahatan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang berasal dari kejahatan narkotika. Dari kejahatan ini, BNN menyita aset, kendaraan, rumah dan uang dalam rekening, dengan total aset mencapai Rp 32, 28 miliar.

Hal itu terungkap dari sejumlah kejahatan narkotika yang sudah ditangani BNN. Kepala Biro Humas dan Protokol Badan Narkotika Nasional (BNN), Brigjen Pol Sulistyo Pudjo Hartono membeberkan, aset senilai Rp 32, 28 miliar itu disita dari 5 orang tersangka.

“Ada empat kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang berasal dari kejahatan narkotika. Tersangkanya 5 orang. Dari mereka disita aset seperti kendaraan, rumah, dan uang dalam rekening dengan total aset senilai Rp 32,28 miliar,” ujar  Brigjen Pol Sulistyo Pudjo Hartono, dalam siaran persnya, Rabu (13/11/2019).

Sulistyo Pudjo mengatakan, perihal pengungkapan kasus ini pun telah digelar dalam konperensi pers yang dilakukan di Kantor BNNP Sumatera Utara, Jalan Willem Iskandar No 1 A Pasar V Barat I, Medan Estate, Kota Medan, Sumatera Utara, pada Rabu, 13 November 2019, pukul 09:30 WIB.

“Kegiatan dipimpin Deputi Bidang Pemberantasan, dan dihadiri oleh Pejabat BNN,” ujarnya.

Sulistyo Pudjo merinci, empat kasus TPPU berhasil diungkap oleh BNN dari kejahatan narkotika itu yakni, pertama, Kasus TPPU Senilai Rp 5,07 miliar.

Untuk yang ini, Petugas BNN mengamankan Ferdi yakni seorang napi di Rutan Kelas I Tanjung Gusta, Medan, pada 8 Agustus 2019.

Ferdi diduga kuat menggunakan dan memanfaatkan rekening atas nama orang lain untuk menyembunyikan transaksi keuangan hasil tindak pidana narkotika.

Untuk menjalankan aksinya, Ferdi memerintahkan tersangka inisial ITU untuk membuka rekening bank atas nama tersangka ITU dan keluarganya. Dengan tujuan untuk menampung keuangan hasil penjualan narkotika.

Dari tangan Ferdi,  petugas BNN menyita 3 unit mobil, 1 unit rumah, dan uang dalam rekening sejumlah bank. Sehingga total aset dari tersangka senilai Rp 5,07 miliar.

Kedua, kasus TPPU Senilai Rp 2,21 milia. Seorang napi di Rutan Kelas I Tanjung Gusta Medan, Irwanto diamankan BNN pada 8 Agustus 2019.

Irwanto diduga kuat menggunakan dan memanfaatkan rekening atas nama orang lain untuk menyembunyikan transaksi keuangan hasil tindak pidana narkotika.

Dalam kasus ini, Irwanto memerintahkan tersangka inisial AZ untuk membuka rekening bank atas nama tersebut untuk menampung keuangan hasil penjualan narkotika.

Dari tersangka Irwanto, petugas menyita aset seperti 3 unit rumah, sebidang tanah, 3 unit mobil, 1 unit sepeda motor, dan uang dalam rekening. Adapun total aset tersebut senilai Rp 2,21 miliar.

Ketiga, Kasus TPPU senilai Rp 4,53 miliar. Kasus ketiga ini melibatkan seorang tersangka yaitu AP. AP ditangkap pada pada 30 September 2019, di sebuah warung kopi, di Jalan Jamin Ginting, Medan.

“AP ditangkap karena diduga kuat menggunakan rekening atas nama tersangka untuk menyembunyikan transaksi keuangan dan atau membelanjakan hasil transaksi penjualan narkotika,” ujar Sulistyo Pudjo.

Tersangka menggunakan rekening bank atas namanya sendiri untuk menampung transasi keuangan hasil penjualan narkotika. Dan membelanjakannya untuk membeli aset seperti mobil dan rumah.

Dari tangan  tersangka petugas menyita, 3 unit mobil, 3 unit truk, 5 unit rumah, 3 bidang tanah, senilai Rp 4,53 miliar.

Keempat, Kasus TPPU Senilai Rp 20,7 Miliar. Petugas BNN mengamankan dua orang tersangka dalam kasus ini.

Seorang perempuan dengan inisial AAK menjadi tersangka pertama. AAK diamankan di Imigrasi Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, pada 30 Juli 2019. “Setelah kabur kurang lebih satu tahun di Malaysia,” ujar Sulistyo Pudjo.

AAK ditangkap karena diduga kuat meminjamkan rekening bank miliknya sebanyak 10 rekening kepada suaminya yaitu Murtala, yang merupakan narapidana kasus TPPU narkotika, untuk bertransaksi narkotika.

Sedangkan tersangka kedua yaitu MT ditangkap di Bireun, Aceh pada 12 Agustus 2019. Ia diamankan  meminjamkan rekening kepada Murtala yang merupakan pamannya, untuk transaksi narkotika.

Petugas BNN menyita aset dari AAK berupa rumah, pom bensin, mobil, ruko dan tanah. Sedangkan dari tangan  MT, aset yang disita berupa mobil. Total aset dari dua tersangka tersebut ditaksir bernilai Rp 20,7 miliar.

Sulistyo Pudjo melanjutkan, seluruh tersangka dijerat dengan pasal 3,4,5 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan atau Pasal 137 huruf a, b Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. “Dengan ancaman hukuman, maksimal pidana 20 tahun penjara,” ujar Sulistyo Pudjo.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan