Tuntut Perbaikan Sistem Perlintasan Kereta Api, Malah Korban Tabrakan Yang Dikriminalisasi

Tuntut perbaikan sistem perlintasan Kereta Api, malah korban tabrakan yang dikriminalisasi.

Korban tabrakan kereta api didiskriminasi karena menuntut adanya perbaikan system perlintasan rel kereta api.

 

Korban bernama Didi menunut PT Kereta Api Indonesia PT KAI) untuk melakukan perbaikan sistem keamanan lalu lintas di perlintasan rel kereta api yang pelaksanaan penjagaan perlintasan rel kereta api dijalankan oleh PTBravo Sekurity Indonesia sebagai penyedia jasa tenaga kerja penjaga perlintasan rel kereta api di Perlintasan kereta api jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat.

 

Aktivis Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Jakarta Nasrul Dongoran, yang menjadi kuasa hukumnya Didi menyampaikan,  kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada tanggal 19 mei 2016  di Jalan Gunung Sahari,  di perlintasan rel kereta api antara Kereta Api Senja Utama Solo Nomor Seri 133 dengan kendaran Toyota Avanza Nopol B-2198-TFO dan kendaraan Bus Transjakarata gandeng Nopol B-7258-TGB.

 

Korban kecelakaan lalu lintas bernama Didi Junedi (38) sebagai pengemudi Toyota Avanza dan Adil Setiawan selaku sopir Bus Transjakarta yang mengalami  luka-luka dilarikan ke rumah sakit.

 

“Dan kendaraan milik Didi mengalami ringsek menyeluruh pada body mobil Toyota Avanza,” ujar Nasrul, di Jakarta, Sabtu (27/08/2016).

 

Atas kejadian kecelakaan lalu lintas Didi menuntut PT. Kereta Api Indonesia untuk melalukan perbaikan sistem keamanan lalu lintas di perlintasan rel kereta api tersebut.

 

“Tuntutan ini dikarenakan keterlambatan petugas penjaga palang Kereta api terlambat menutup pintu perlintasan sehingga pengemudi kendaraan tidak dapat mengetahui kedatangan kereta api saat melintas,” terang Nasrul.

 

Nasrul mengatakan, proses hukum kecelakaan itu pun sudah ditangani di Dirlantas Polda Metro Jaya. Awalnya, korban Didi Juhendi (38) diperiksa sebagai Saksi, eh malah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan surat panggilan Nomor: Spgl/472/VIII/2016/Dit Lantas pada tanggal 16 Agustus 2016.

 

Didi yang didampingi oleh Tim Kuasa Hukum dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Jakarta melihat ada upaya kriminalisasi terhadap Didi sebagai korban kecelakaan.

 

“Jelas secara kasat mata ada upaya kriminalisasi terhadap Didi yang semula menuntut perbaikan malah dijadikan sebagai tersangka. Harusnya PT Kereta Api Indonesia dan PT Bravo Sekurity Indonesia melakukan sejumlah perbaikan fasilitas dan manajemen keamanan di seluruh perlintasan kereta api dengan kordinasi dengan instansi terkait karena kecelakaan lalu lintas membawa kerugian bagi masyarakat,” papar Nasrul.

 

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan sudah tidak ada masalah dalam pelayanan PT KAI. Hal itu disampaikan Menteri saat meninjau Stasiun Yogyakarta, Sabtu (6/8).

 

Ini merupakan kunjungan daerah perdana Budi Karya semenjak dilantik sebagai menteri. Budi diterima oleh Direktur Aset Tanah dan Bangunan KAI Doddy Budiawan, EVP Daop 6 Yogyakarta Hendy Helmi dan jajaran KAI lainnya. Budi langsung manyusuri peron stasiun dan menghampiri sejumlah penumpang yang sedang duduk menunggu kereta datang. “Gimana Bu fasilitas kereta api sekarang? Apa saran ibu (untuk perbaikan)?,” tanya Budi kepada seorang ibu yang sedang memangku anaknya. “Fasilitas Stasiun Tugu sudah sangat memadai,” ujar ibu tersebut. Ia meminta agar sarana KA Prameks dapat ditambah.

 

“Kini sedang dipersiapkan Kereta Rel Listrik atau KRL untuk jalur Yogya-Solo-Kutoarjo sebagai respon terhadap permintaan masyarakat,” ujar Budi.

 

Pemerintah secara sistematis akan menjadikan kereta api transportasi unggulan di perkortaan. Menurutnya, perlu adanya penelitian terkait ekspektasi masyarakat terhadap kereta api maupun keinginan dari pemerintah itu sendiri.

 

“Kita formulasikan, kereta umum, medium, dan turis. Penumpang ada beberapa strata dari D sampai A. kalau yang A bisa buat turis karena turis membutuhkan privasi yang lebih pelayanan yang lebih,” jelasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan