Breaking News

Tujuh Terdakwa Kasus Kredit Bank Mandiri Diputus Bebas, Kejagung Akan Ajukan Kasasi

Tujuh Terdakwa Kasus Kredit Bank Mandiri Diputus Bebas, Kejagung Akan Ajukan Kasasi.

Kejaksaan Agung (Kejagung) lakukan gerak cepat pasca diputus bebasnya ketujuh terdakwa kasus dugaan korupsi kredit fiktif Bank Mandiri cabang Bandung oleh Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Bandung dengan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).

“Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan ajukan kasasi atas putusan bebas ketujuh terdakwa kasus kredit Bank Mandiri cabang Bandung,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Mukri kepada wartawan, Selasa (08/01/2019).

Kendati demikian, pihaknya akan terlebih dahulu melihat hasil putusannya. Setelah itu, lanjutnya, akan dikaji untuk melihat apakah hakim salah dalam menerapkan hukum, hukum tidak diterapkan sebagaimana mestinya atau hakim melampaui kewenangannya.

“Setelah kita dapat hasil putusannya, diberi waktu tujuh hari untuk mengkaji. Pastinya JPU akan ajukan kasasi,” ujarnya.

Sebelumnya, tujuh terdakwa kasus dugaan korupsi kredit Bank Mandiri diputus bebas oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Senin (07/01/2019).

Ketujuh terdakwa itu terdiri dari Bank Mandiri Cabang Bandung sebanyak lima orang diantaranya, Surya Baruna Semenguk yang saat kredit dicairkan menjabat sebagai Commercial Banking Manager Bank Mandiri Cabang Bandung, Teguh Kartika Wibowo (Senior Credit Risk Manager Bank Mandiri Cabang Bandung), Frans Eduard Zandra (Relationship Manager Bank Mandiri Cabang Bandung), Totok Suharto, dan Poerwitono Poedji Wahjono (pegawai Bank Mandiri). Selain itu dua terdakwa dari PT Tirta Amarta Bottling (TAB) yakni Rony Tedy dan Juventius.

Majelis Hakim yang terdiri dari Martahan Pasaribu, Tety Siti Rohmat Setiawati, Tardi, Judijanto, dan Basari Budhi Pardiyanto memutus bebas atau tidak bersalah.

Dakwaan primer maupun sekunder yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU) tidak terbukti bahwa para terdakwa melakukan perbuatan melawan hukum dalam hal pengucuran kredit senilai Rp 1,1 triliun.

Karena itu, majelis hakim memutuskan membebaskan seluruh terdakwa dari tuntutan, membebaskan para terdakwa dari tahanan dan mengembalikan harkat dan martabat para terdakwa.

Kasus ini sendiri berawal pada 15 Juni 2015, berdasarkan Surat Nomor: 08/TABco/VI/205 Direktur PT TAB mengajukan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Commercial Banking Center Bandung.

Perpanjangan seluruh fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp 880,6 miliar perpanjangan dan tambahan plafond LC sebesar Rp 40 miliar sehingga total plafond LC menjadi Rp 50 miliar. Serta fasilitas Kredit Investasi (KI) sebesar Rp 250 miliar selama 72 bulan.

Dalam dokumen pendukung permohonan perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit terdapat data aset PT TAB yang tidak benar dengan cara dibesarkan dari aset yang nyata. Sehingga berdasarkan Nota Analisa pemutus kredit Nomor: CMG.BD1/0110/2015 tanggal 30 Juni 2015 seolah-olah kondisi keuangan debitur menunjukkan perkembangan.

Dari situ perusahaan tersebut dapat memperoleh perpanjangan dan tambahan fasilitas kredit pada 2015 sebesar Rp 1,170 triliun. Selain itu, debitur PT TAB juga telah menggunakan uang fasilitas kredit antara lain sebesar Rp 73 miliar, yang semestinya hanya diperkenankan untuk kepentingan KI dan KMK, tetapi dipergunakan untuk keperluan yang dilarang untuk perjanjian kredit. Akibatnya keuangan negara Rp 1,5 triliun yang terdiri dari pokok, bunga dan denda.(Richard)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*