Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Aceh, Kenduri Pesta Makan Bersama di Meunasah

Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Aceh, Kenduri Pesta Makan Bersama di Meunasah.
Tradisi Perayaan Maulid Nabi di Aceh, Kenduri Pesta Makan Bersama di Meunasah.

Tradisi yang baik yang masih berlangsung hingga saat ini di Nanggroe Atjeh Darussalam (NAD) atau Aceh. Di sejumlah desa, seperti di Masyarakat Gampong Deah Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu digelar dengan kenduri. Keduri dengan pesta makan bersama di Meunasah.

Penulis dan Pemerhati Budaya Aceh, Teuku Saifullah menuturkan, Gampong Deah Pangwa di Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Aceh yang masih memiliki tradisi yang unik dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh Masyarakat Gampong Deah Pangwa Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya Aceh penuh dengan kemeriahan dan keakraban. Seperti yang terjadi pada Sabtu (09/11/2019).

“Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW selalu diperingati oleh Masyarakat Gampong Deah Pangwa setiap tahunnya, bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 2019 atau Maulid Pertama, sesuai dengan kalender Islam,” tutur Teuku Saifullah, Senin (11/11/2019).

Saifullah menuturklan, sebagai daerah yang penduduknya seratus persen beragama Islam, perayaaan maulid Nabi Muhammad bagi masyarakat Gampong Deah Pangwa memiliki arti penting di dalam kehidupan adat dan budaya.

Makanya tidak mengherankan, apabila memasuki bulan Rabiul Awal yakni bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW, tradisi perayaan Maulid tampak meriah di Desa ini.

“Peringatan maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Aceh dikenal dengan istilah Maulod. Di dalam pelaksanaan peringatan maulid tersebut, dilakukan dengan cara berkenduri atau dikenal dengan istilah masyarakat Aceh disebut Khenduri Maulod,” tuturnya.

Bahkan, perayaan maulid di Aceh, tidak hanya dilakukan pada hari yang ditentukan dalam kalender saja, tidak pada hari H saja. “Akan tetapi dilakukan pada waktu-waktu apa saja selama masa waktu 3 bulan. Dapat dikatakan Maulid di Aceh merupakan perayaan dengan waktu terlama,” katanya.

Sesuai dengan penanggalan bulan dalam Islam, pelaksanaan tradisi perayaan maulid dilakukan mulai dari bulan Rabiul Awal yang disebut dengan Maulod Awai, Rabiul Akhir disebut dengan Maulod Teungoh, dan Jumadil Awal dikenal dengan Maulod Akhe.

“Tradisi perayaan maulid di Gampong Deah Pangwa dilakukan dengan cara berkenduri. Bagi masyarakat yang mampu melakukan kenduri, maka akan berkenduri dan membagikan makanan kepada masyarakat lain yang berkumpul di Meunasah,” jelas Saifullah.

Dia melanjutkan, bagi masyarakat Gampong Deah Pangwa, jika tidak melakukan kenduri maulid merasa ada sesuatu yang kurang. Sehingga tidak mengherankan apabila pada bulan Maulid, masyarakat berbondong-bondong membawa makanan yang telah dimasak ke Meunasah.

Saat membawa makanan ada tempat khusus yang disebut dengan Idang. Di dalam idang tersebut diisi nasi dan juga lengkap dengan lauk pauk, hingga berlapis-lapis di dalamnya dan dikenal dengan Idang Meulapeh. “Idang tersebut diantar ke Meunasah dan akan dibuka saat menikmati kenduri,” jelasnya.

Menarik untuk mengintip menu makanan tradisi perayaan Maulid Nabi di Gampong Deah Pangwa. Sudah pasti menu yang disuguhkan berbeda dengan hari-hari biasanya. Namun dimasak khusus dengan menu-menu yang spesial.

“Menariknya lagi, Nasi dibungkus dengan daun pisang yang terlebih dahulu dilayu di atas bara api yang bentuknya seperti piramida atau biasa disebut dengan Bu Kulah. Sehingga selain rasanya yang khas ditambah lagi dengan aroma daun pisang, semakin merangsang untuk disantap,” ungkap Saifullah.

Menu atau lauk pauknya juga sangat khas. Khusus untuk Perayaan Maulid Nabi ini ada menu tersendiri yaitu Kuah Dalica.

“Dalam kenduri ini, menu yang jarang ditemui pada waktu-waktu lain seperti Kuah Dalica, yakni dimasak khusus untuk perayaan Maulid Nabi,” terang Saifullah.

Menu lainnya adalah berbagai masakan daging sapi dan juga daging ayam serta bebek. Serta aneka sayuran yang ditumis. Namun untuk daerah tertentu di Aceh ada masakan daging khusus, seperti di Aceh Besar ada kuah Beulangoeng atau kuah belanga besar. Sedangkan untuk wilayah pesisir pantai utara Aceh ada masakan kari.

Pada saat pelaksanaannya, warga desa berbondong-bondong menuju ke meunasah. Warga dari desa lain juga di undang untuk menikmati santapan hidangan Maulid.

“Sebelum menikmati hidangan Maulid, terlebih dahulu dilakukan Zikir Maulid. Setelah itu, baru dilanjutkan dengan acara santapan hidangan kenduri Maulid,” lanjutnya.

Panitia akan membagikan nasi dan juga lauk pauknya kepada warga yang telah duduk teratur untuk disantap saat itu. Setelah itu, rombongan undangan juga diperbolehkan membawa pulang nasi dan lauk pauknya ke rumah.

“Ada kebanggaan bagi warga yang berkenduri, apabila makanan yang dikendurikan olehnya habis dimakan dan dibawa pulang oleh warga lainnya,” ujar Teuku Saifullah.

Untuk pelaksanaan kenduri maulid ini, dilaksanakan pada siang hari. Malam harinya kegiatan dilanjutkan dengan ceramah agama atau Dakwah Islamiah, dengan mengundang mubaligh. Biasanya para mubaligh yang terkenal akan diundang untuk mengisi tausiyah agama.

“Pada malam harinya, warga baik tua maupun muda, pria maupun wanita berbondong-bondong menuju ke meunasah untuk menyaksikan dan mendengarkan ceramah agama. Bahkan warga juga ikut membawa alas duduk masing-masing dari rumah agar dapat lebih leluasa mendengarkan ceramah agama dilapangan terbuka,” jelasnya lagi.

Begitulah kemeriahan pelaksanaan tradisi Maulid di di Gampong Deah Pangwa, Pidie Jaya, Aceh, seluruh warga larut dalam berbagai proses pelaksanaannya.

Kenduri maulid bagi Masyarakat Deah Pangwa telah menjadi tradisi dan dilaksanakan secara turun temurun. Pelaksanaan peringatan Maulid Nabi merupakan salah satu contoh semangat kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa perubahan dalam hidup manusia ke jalan yang benar.

Disebut-sebut, kata Teuku Saifullah, kemeriahan perayaan Maulid Nabi di Aceh memiliki dasar sejarah yang kuat, yakni dalam sebuah surat wasiat Sultan Aceh yang diterbitkan pada 12 Rabiul Awal 913 Hijriah atau 23 Juli 1507 oleh Sultan Ali Mughayat Syah, yang ditemukan Tan Sri Sanusi Junid, setelah diterjemahkan salah satu poinnya adalah mengenai pelaksanaan Maulid Nabi yang dapat menyambung tali silaturahmi antar gampong di Kerajaan Aceh Darussalam.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan