Tolak Tuduhan Jaksa, Mahasiswa Papua Korban Rasisme Minta MA Batalkan Putusan Pengadilan

Tolak Tuduhan Jaksa, Mahasiswa Papua Korban Rasisme Minta MA Batalkan Putusan Pengadilan.
Tolak Tuduhan Jaksa, Mahasiswa Papua Korban Rasisme Minta MA Batalkan Putusan Pengadilan.

Para mahasiswa Orang Asli Papua (OAP) yang menjadi korban isu rasisme menolak semua tuduhan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Mereka pun menyatakan akan terus berjuang demi harkat dan martabatnya.

Koordinator Tim Advokat untu Orang Asli Papua (OAP), Sugeng Teguh Santoso menyampaikan, anak-anak Papua yang menjadi terdakwa dalam Kasus Kerusuhan Jayapura pada Agustus 2019 lalu akibat menentang rasisme terhadap Orang Asli Papua (OAP) yang menghinakan dan merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan, telah divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri (PN) Jayapura dan Pengadilan Tinggi (PT) Jayapura.

Vonis atau putusan bersalah itu, lanjut Sugeng Teguh Santoso, belum berkekuatan hukum tetap. Belum inkracht van gewijsde. Sebab anak-anak Papua yang divonis bersalah tersebut menolak tuduhan dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum, serta putusan Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Tinggi (PT) atau judex factie

 “Sehingga melalui kuasa hukum yang tergabung dalam Tim Advokat untuk Orang Asli Papua, mengajukan upaya hukum kasasi di Mahkamah Agung Republik Indonesia,” ujar Sugeng Teguh Sansoto, Jumat (10/07/2020).

Adapun anak-anak Papua yang sedang menempuh upaya hukum kasasi di Mahkamah Agung adalah, pertama, OH, terhadap Putusan PT Jayapura No. 33/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 550/Pid.B/2019/PN.Jap.

Kedua, YL, terhadap Putusan PT Jayapura No. 35/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 565/Pid.B/2019/PN.Jap.

Ketiga, PW, terhadap Putusan PT Jayapura No. 36/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 566/Pid.B/2019/PN.Jap.

Keempat, FE, terhadap Putusan PT Jayapura No. 37/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 568/Pid.B/2019/PN.Jap.

Kelima, EH, dkk., terhadap Putusan PT Jayapura No. 38/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 571/Pid.B/2019/PN.Jap.

Keenam, RW, dkk. terhadap Putusan PT Jayapura No. 39/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 572/Pid.B/2019/PN.Jap.

Delapan, ALM, terhadap Putusan PT Jayapura No. 40/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 570/Pid.B/2019/PN.Jap.

Sembilan, DK, terhadap Putusan PT Jayapura No. 41/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 564/Pid.B/2019/PN.Jap.

Sepuluh, DH, terhadap Putusan PT Jayapura No. 42/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 583/Pid.B/2019/PN.Jap.

Sebelas, VKD, dkk., terhadap Putusan PT Jayapura No. 43/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 574/Pid.B/2019/PN.Jap.

Dua belas, PM, terhadap Putusan PT Jayapura No. 44/Pid/2020/Pt Jap., Juncto. Putusan PN Jayapura No. 551/Pid.B/2019/PN.Jap.

Selain menolak tuduhan atau dakwaan, adapun alasan anak-anak Papua mengajukan upaya hukum kasasi di Mahkahmah Agung adalah sebagai bentuk protes atas penegakan hukum yang diskriminatif terhadap anak-anak Papua.

“Dan berharap Mahkamah Agung sebagai lembaga kekuasaan kehakiman, menjatuhkan putusan yang objektif dan adil berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujar Sugeng Teguh Santoso.

Sementara itu, Tim Advokat untuk OAP menduga terdapat fakta-fakta persidangan yang dimuat dalam berkas putusan Pengadilan Negeri Jayapura maupun Pengadilan Tinggi Jayapura atau judex factie yang merupakan fakta persidangan yang salah.

“Kami menduga, putusan judex factie memuat fakta-fakta persidangan yang salah. Hal-hal yang tidak terungkap di persidangan justru dimuat dalam berkas putusan,” kecam Sugeng Teguh Santoso, yang juga Sekretaris Jenderal Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) itu.

Oleh karena itu, Tim Advokat untuk OAP memohon kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia yang mengadili perkara anak-anak Papua ini, untuk membatalkan putusan judex factie dan membebaskan anak-anak Papua yang menjadi terdakwa, dari segala tuntutan hukum.

“Pulihakan hak-hak anak-anak Papua yang dijadikan terdakwa, dalam kedudukan, harkat dan martabatnya,” tandas Sugeng Teguh Santoso.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan