Breaking News

Tokoh Pejuang Buruh Kembali Tegaskan Cita-Cita Welfare State

Tokoh Pejuang Buruh Kembali Tegaskan Cita-Cita Welfare State.

Tokoh Pejuang Buruh yang juga Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (DPP SBSI) Prof Dr Muchtar Pakpahan, SH, MA kembali mengingatkan cita-cita buruh di Indonesia adalah sama dengan cita-cita yang sudah ditetapkan di dalam Konstitusi Negara Republik Indonesia Undang Undang Dasar 1945 yakni walfare State atau Negara yang adil dan makmur.

 

Hal itu kembali disampaikan Muchtar Pakpahan saat memimpin kegiatan Leadership Training Center (LTC) Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) bagi puluhan anggota SBSI yang tergabung dalam Dewan Pengurus Cabang Federasi Pegawai Aparatur Sipil Negara Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FPASN SBSI) Cabang Jakarta, di Kantor DPP SBSI, Jalan Tanah Tinggi II, Nomor 25, Johar Baru, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Rabu (15/02/2017).

 

“Negara ini, dan masyarakatnya, termasuk buruh, memiliki cita-cita mewujudkan walfare state. Sebuah negara dengan masyarakatnya yang adil dan makmur. Itu juga yang menjadi tujuan Indonesia sebagaimana ditetapkan di dalam Undang Undang Dasar 1945, negara yang adil dan makmur, negara welfare state,” ujar Muchtar Pakpahan.

 

Muchtar pun menceritakan kilasan perjalanan perjuangan buruh di Indonesia, hingga terbentuk Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) yang kini dipimpinnya. Di dalam kegiatan yang melibatkan puluhan guru, pengajar dan pegawai negeri sipil (PNS) itu, Muchtar menegaskan pentingnya komitmen dan keteguhan hati untuk berjuang mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.

 

Muchtar mengatakan, terbentuknya Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) pada 25 April 1992 sebagai serikat buruh independen yang pertama di Indoneseia. Ia bersama empat Tokoh Nasional yakni Tokoh Nahdatul Ulama (NU) yang merupakan Presiden Keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, Putri Presiden Pertama Republik Indonesia Rachmawati Soekarnoputri, Tokoh Politik pergerakan yang juga salah seorang pendiri Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kini dikenal sebagai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sabam Sirait dan dokter yang menjadi pejuang masyarakat dr Sukowaluyo Mintorahardjo.

 

“Kami secara intens berdiskusi dan berdialog, dan sama-sama mendirikan serikat buruh Independen dengan nama Serikat Buruh Sejahtera Indonesia atau SBSI, dengan tekad bulat bercita-cita mewujudkan negara walfare state,” tutur Muchtar Pakpahan.

 

Sebelum mendirikan serikat buruh, Muchtar mengatakan, dirinya pun sangat sering bergerak dan hidup bersama-sama buruh yang tertindasa, melakukan mengadvokasi masyarakat kecil, dan semua perjuangan itu tidak pernah dimintakannya imbalan.

 

“Ketika saya membela buruh kemana-mana, saya tidak pernah dibiayain. Tapi saya tidak pernah kekurangan,” ujar Muchtar.

 

Di era pemerintahan otoriter Orde Baru masih berkuasa di Indonesia, Muchtar pun dianggap sebagai musuh  besar dari pemerintah. Hal itu dikarenakan sepak terjang Muchtar yang sering menentang kebijakan Presiden Soeharto yang tidak pro rakyat tertindas.

 

Karena aktivitas dan perjuangannya itu, Muchtar Pakpahan pun kerap ditangkap oleh aparatur Orde Baru, sering keluar masuk penjara, dikarenakan tidak henti-hentinya Muchtar menyuarakan perlawanan terhadap rejim penindas seperti rejim kekuasaan Soeharto itu.

 

Pada tahun 1978, Muchtar Pakapahan juga memulai karir sebagai seorang pengacara atau lawyer. Pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) ini pun dilantik sebagai advokat pada 1986. Sejak memulai pekerjaan sebagai advokat, Muchtar Pakpahan kian bringas dan sangat aktif membela rakyat kecil dengan konsultasi hukum gratis.

 

Kemudian Muchtar bersama empat orang sahabatnya yang juga merupakan tokoh di Indonesia, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rahmawati Soekarnoputri, Sabam Sirait dan Dr. Sukowaluyo Mintohardjo sepakat untuk mendirikan Serikat buruh.

 

Berdirinya SBSI, tidak terlepas juga dari peran keempat tokoh pejuang– Tokoh Nahdatul Ulama (NU) yang merupakan Presiden Keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, Putri Presiden Pertama Republik Indonesia Rachmawati Soekarnoputri, Tokoh Politik pergerakan yang juga salah seorang pendiri Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kini dikenal sebagai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sabam Sirait dan dokter yang menjadi pejuang masyarakat dr Sukowaluyo Mintorahardjo.

 

“Kami berlima sering bertemu, kemudian sepakatlah kami membuat SBSI. Kemudian, untuk mengurus ijin kalau ada pertemuan, sahabat saya Gus Dur bilang bahwa saya yang mengurusi,” ujar Muchtar. Terbentuknya SBSI pada 25 April 1992, Muhtar manambahkan, karena mereka berlima mempunyai cita-cita yang sama untuk menciptakan negara yang Walfare State.(Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*