Terlibat Kredit Macet CSI Rp 557 Miliar, Kejagung Tersangkakan Mantan Manager Bank Mandiri

Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan mantan Relationship Manager Bank Mandiri cabang CBC Solo berinisial AP, sebagai tersangka kasus kredit macet Rp557,135 miliar.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Mukri mengatakan penetapan AP sebagai tersangka berdasarkan surat penetapan Direktur Penyidikan pada JAM Pidsus, Warih Sadono tertanggal 4 Desember 2018.

Menurutnya, tersangka AP merupakan pengusul kredit kepada PT Central Steel Indonesia (CSI).

“Perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh tersangka adalah membuat Nota Analisa Kredit (NAK) tanpa melakukan verifikasi dan validasi terhadap dokumen laporan keuangan PT CSI yang tidak benar dan tidak akurat,” kata Mukri kepada wartawan di Jakarta, Kamis (06/12/2018).

Selain itu, lanjutnya, AP juga tidak memonitor kredit yang diberikan kepada CSI, antara lain meliputi rekening dan aktivitas usaha debitur, pemenuhan kewajiban dan persyaratan kredit debitur dan mengambil langkah pencegahan atas penurunan kredit.

Atas perbuatannya AP disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Penetapan AP sebagai tersangka adalah pengembangan dari kasus sebelumnya yang sudah ditangani Kejagung.

Pada 12 April 2018, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat memvonis Mulyadi Supardi alias Hua Ping dan Erika Widiyanti Liong.

Hua Ping divonis 5 tahun 6 bulan dan denda Rp300 juta subsidider 6 bulan. Sementara Erika divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsidier 6 bulan.

Keduanya merupakan Direksi dari PT CSI. Perusahaan tersebut mendapatkan kredit dari Bank Mandiri mencapai Rp 557,135 miliar.

Menurut majelis hakim, kucuran kredit dari Bank Mandiri tidak digunakan untuk modal kerja perusahaan, melainkan dibagi-bagikan kepada para pemegang saham.

Begitu juga dengan upaya pengembalian kredit Bank Mandiri, perusahaan juga sudah mengupayakan lewat jalur penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) tapi sayangnya berakhir dengan kepailitan.

Dalam hitungan penyidik, kerugian negara dalam kasus ini adalah Rp201,176 miliar. Rinciannya, kredit, bunga dan denda Rp557,135 miliar dikurangi nilai aset PT CSI Rp355,959 miliar.(Richard)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan