Terjadi Serangan Gas Beracun di Suriah, Utusan Khusus PBB Turun Tangan

Utusan khusus Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) sedang menyelidiki kasus serangan gas beracun yang terjadi di Kota Aleppo, Suriah, yang disebut sebagai daerah kekuasaan para pemberontak.

Utusan khusus Persatuan Bangsa Bangsa (PBB)  sedang menyelidiki kasus serangan gas beracun yang terjadi di Kota Aleppo, Suriah,  yang disebut sebagai daerah kekuasaan para pemberontak.

 

Dalam serangan itu dilaporkan, empat orang tewas dan beberapa orang terluka akibat serangan gas beracun yang diduga gas klorin.

 

Staffan de Mistura yang merupakan utusan PBB untuk menyelidiki penyebaran gas beracun yang terjadi di Aleppo. Staffan mengatakan, kejadian ini setara dengan kejahatan perang.

 

Akibat dari penyebaran gas tersebut, warga setempat dan anak-anak dikabarkan kesulitan bernapas dan harus dilarikan kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

 

Untuk mengantisipasi bertambahnya korban jiwa, warga disarankan untuk menggunakan masker agar tidak menghirup gas beracun.

 

Menurut seorang pria yang tinggal di Kota Aleppo yang saat ini sedang dirawat dirumah sakit setempat mengatakan, ia melihat ada dua buah rudal yang mendarat tidak jauh dari tempat saat ia berkumpul bersama teman-temannya.

 

Tidak lama setelah kedua rudal tersebut mendarat, tiba-tiba bau gas beracun muncul dan menyebabkan orang orang di sekitarnya kesulitan untuk bernafas.

 

“Dan beberapa menit kemudian, bau gas mulai menyebar dan aku merasa mataku terbakar dan kesulitan bernafas, baunya sangat menyengat” katanya.

 

Menurut salah satu dokter yang menangani para korban yang terkena gas beracun tersebut, para korban diyakini telah menghirup gas klorin.

 

“Ketika kami memeriksa korban ini, kami menyadari itu karena klorin,” ucap salah satu dokter yang sedang memberikan perawatan kepada korban.

 

Sementara itu, Staffan mengatakan sejauh ini mereka membutukan istirahat hingga 48 jam untuk mendapatkan bantuan yang cukup.”Kami akan terus menggunakan semua rute dan mekanisme yang tersedia untuk melakukan hal ini, termasuk jalur lintas dan lintas batas operasi dari Turki.” kata Staffan.

 

Dalam satu bulan ini, dikabarkan sudah terjadi 42 kali serangan yang dilakukan oleh para pemberontak di Timur Tengah. Serangan itu dilakukan terhadap beberapa rumah sakit dan juga klinik yang ada di daerah tersebut.

 

Dalam serangan yang dilakukan oleh para pemberotak, warga sipil yang tidak terhitung jumlahnya menjadi korban.(Tornando)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan