Terjadi Kekerasan Saat Unjuk Rasa di Malang, PMKRI Minta Polisi Lindungi Hak-Hak Mahasiswa Papua

Terjadi Kekerasan Saat Unjuk Rasa di Malang, PMKRI Minta Polisi Lindungi Hak-Hak Mahasiswa Papua.
Terjadi Kekerasan Saat Unjuk Rasa di Malang, PMKRI Minta Polisi Lindungi Hak-Hak Mahasiswa Papua.

Presidium Gerakan Kemasyarakatan Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI), Rinto Namang meminta pihak Kepolisian melindungi dan menjamin hak-hak sipil mahasiswa asal Papua di Malang.

Hal itu diutarakan mengingat terjadinya tindakan kekerasan dan persekusi yang menyebabkan 23 orang mahasiswa asal Papua yang sedang berdemonstasi terluka. Kejadiannya pada Kamis, 15 Agustus 2019.

“Kebebasan berpendapat itu hak setiap orang dalam Negara. Dilindungi UUD 1945. Pelarangan, persekusi, apalagi dengan kekerasan, adalah tindakan inkonstitusional,” tutur Rinto Namang, dalam siaran persnya, Jumat (16/08/2019).

Oleh karena itu, peran aparat Kepolisian, sangatlah penting untuk menjamin agar hak tersebut tidak dikurangi oleh pihak manapun demi tujuan apapun.

Rinto juga meminta agar aparat Kepolisian menindak tegas para pelaku persekusi yang membatasi kebebasan mahasiswa Papua di Malang dengan cara kekerasan tersebut.

“Polisi harus mengusut kasus ini agar ke depannya tidak terjadi lagi hal-hal serupa yang mencederai demokrasi kita ini,” ujarnya.

Setiap pihak, lanjutnya, hendaknya menghormati hak dan kebebasan setiap warga negara untuk berpendapat, tanpa harus bertindak sewenang-wenang.

“Mari kita belajar untuk menjadi warga negara yang demokratis, yang tidak gampang main hakim sendiri. Ini negara demokratis, siapapun boleh berpendapat,” kata Rinto.

Jika tidak setuju dengan pendapat-pendapat yang diutarakan, hendaknya belajar untuk berargumentasi. Jangan malah mengintimidasi. Apalagi dengan mempergunakan kekerasan yang menimbulkan korban pada sesama warga Negara.

Diterangkan Rinto, berdasarkan data KontraS, sejak 2018-2019 telah terjadi 8 kali aksi pembubaran dengan intimidasi. Pembubaran itu berujung persekusi. Hal itulah yang dialami oleh mahasiswa Papua ketika menyampaikan aspirasi mereka di Malang.

“Meningkatnya eskalasi pembubaran dan penyerangan tersebut, berakibat pada tingginya konflik sosial terbuka antara mahasiswa Papua dan masyarakat,” demikian Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir, sebagaimana dilansir dari rilis KontraS Surabaya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*