Terdampar di Wakatobi, Perut Bangkai Paus Dipenuhi Sampah Plastik

Kehidupan Terancam, Hentikan Buang Sampah Ke Laut

Rencana Pemerintah Keluarkan RPP Cukai Barang Kantong Plastik Akan Bunuh Usaha Kecil.

Bangkai seekor paus yang terdampar di perairan Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menjadi viral.

Isi perut hewan mamalia air itu dipenuhi sampah-sampah plastik dari aneka ragam yang beratnya mencapai 5,9 kilogram.

Kondisi ini menunjukkan kebiasaan membuang sampah sembarangan terbukti merusak ekosistem alam.

Marine Species Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Suprapti mengatakan, pihaknya telah mengamati secara umum terkait dengan temuan paus sperma itu.

Meski begitu, WWF Indonesia belum mengetahui pasti penyebab kematian paus itu. Jika diamati secara umum, ada kemungkinan paus itu mati karena mencerna sampah-sampah di laut.

“Terkait dengan dugaan kematian paus akibat sampah plastik, WWF Indonesia belum dapat menyimpulkannya karena tidak melakukan nekropsi secara langsung dan tidak mendapatkan detail informasi, sehingga tidak mengetahui secara pasti titik persebaran sampah tersebut di saluran pencernaannya dan bagaimana kondisinya,” jelasnya,  dalam keterangan persnya, Kamis (22/11/2018).

Adanya indikasi kematian disebabkan oleh asupan cemaran plastik sampah tersebut bisa saja terjadi. Namun hal ini tidak dapat dipastikan karena tidak dilakukan pengamatan yang komprehensif.

Diantaranya disebabkan kondisi paus sudah membusuk, kondisi paus yang sudah tidak utuh, pembedahan (nekropsi) tidak dilakukan oleh tenaga ahli sehingga analisisnya terputus sampai proses temuan saja.

Dwi menghimbau, jika ada kasus paus terdampar lagi, masyarakat diimbau untuk tidak mendekat ke bangkai paus. Warga yang menemukannya diminta segera menghubungi pihak terkait seperti BKSDA, kepolisian, BPSPL, ataupun dokter hewan forensik, agar jejak informasi yang didapat lengkap.

Aquaculture Staff WWF Indonesia, Idham Malik menyebutkan, tingkat kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke laut masih rendah. Tak hanya itu, penduduk kota juga punya andil besar terhadap sampah di lautan. Sampah plastik mereka buang di sungai, yang kemudian mengalir ke lautan.

“Kalau kita keruk, sungai-sungai di Indonesia, itu dasarnya penuh dengan sampah plastik,” ujarnya.

Volume sampah di kota yang tiap harinya berton-ton, ada yang akhirnya terbuang ke laut. Sampah-sampah inilah yang mengotori lautan dan membuatnya tercemar.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyatakan prihatin dengan ditemukannya 5,9 kilogram (kg) sampah dalam perut seekor paus yang mati. Paus sperma berwarna hitam itu ditemukan mati di Pulau Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Dalam perut paus itu ada sampah dengan jumlah signifikan.

“Laporan tim balai sudah kita terima dan saya minta agar diteliti. Nanti diteliti oleh akademisi perikanan dan kelautan. Ada sekitar 6 kilogram sampah dalam perut paus,” ujarnya.

Jumlah sampah tersebut dinilai cukup signifikan. Oleh sebab itu, Siti minta agar penelitian dilakukan dengan serius oleh peneliti untuk mengetahui secara pasti penyebab utama matinya paus itu.

“Presiden sudah perintahkan kami agar lakukan penanganan sampah yang ada di laut. Sampah itu berasal dari darat 80 persen, itulah kenapa disebut sampah laut bukan sampah di laut dan ini selalu ditangani dari hulu-hilir,” ujarnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan