Breaking News

Tehnoprenuer Millenial Masuk Dunia Politik Perlu Diapresiasi

Tehnoprenuer Millenial Masuk Dunia Politik Perlu Diapresiasi. Tehnoprenuer Millenial Masuk Dunia Politik Perlu Diapresiasi.

Kaum-kaum millennial terus menggelorakan untuk masuk ke dunia politik praktis. Kehadiran teknopreneur millennial, misalnya, perlu mendapat apresiasi dengan terjun ke dunia politik praktis, agar bisa mendorong kemajuan bangsa dan Negara.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (Sekjen ISRI) Cahyo Gani Saputro menanggapi kian maraknya gerakan millennial di hampir semua aspek kehidupan.





Cahyo mengatakan, langkah mengapresiasi para teknopreneur millenial terkemuka Indonesia untuk masuk dunia politik perlu dilakukan.

“Karena mereka telah membuktikan perjuangannya yang semula dari produk star-up rintisan berhasil menjadi star-up unicorn bahkan decacorn. Itu adalah buah dari ilmu yang didapatnya dalam dunia pendidikan, yang kemudian dipraktekkan, diamalkan dan dimaterialisasi dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Cahyo Gani Saputro, di Jakarta, Selasa (23/07/2019).

Menurutn ya, teknopreneur millennial bukan sekadar teoritis normatif, tetapi juga aplikatif. Yang mana, katanya, secara nyata justru ajaran Bung Karno telah dipraktekkan, dengan berkonstribusi untuk negara mengadakan suatu pekerjaan atau lapangan kerja.





Mereka juga telah mengorganisir ratusan ribu hingga jutaan rakyat untuk mendapatkan penghidupan yang layak dari produknya.

“Dimana, yang tadinya pekerjaan tersebut kurang bergengsi, sering dianggap sepele, sekarang justru banyak diminati. Dengan produk-produknya, teknopreneur millenial membuat Si Marhaen yang jumlahnya jutaan orang ini, dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka menjadi berdaya bahkan hidup layak. Marhaenisme sebagai ajaran Bung Karno telah menjadi praktek, dibumikan,” tuturnya.

Cahyo Gani Saputro menjelaskan, masyarakat perlu mendalami Pidato Bung Karno pada saat penerimaan gelar Doktor Honoris Causa Bidang Hukum oleh Universitas Gajah Mada (UGM) pada tanggal 19 September 1951 yang berjudul Ilmu Dan Amal= Geest Wil Daad,  yang juga menjadi motto Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI).





Penggalan Pidato Bung Karno itu berbunyi, “…Segenap tindak tandukku sekedar saya arahkan kepada perjoangan, dan pengabdian kepada tanah-air dan bangsa. Ya benar, saya telah banyak sekali membaca buku-buku. Tetapi sebagai tadi saya katakan: pembawaanku tidak puas dengan ilmu an-sich. Bagi saya, ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi kepada praktek hidupnya manusia, atau praktek-hidupnya bangsa, atau praktek hidupnya dunia kemanusiaan.

Memang Alhamdulillah sejak muda, saya ingin mengabdi kepada praktek hidup manusia, bangsa dan dunia kemanusiaan itu. Itulah sebabnya saya selalu mencoba menghubungkan ilmu dengan amal; menghubungkan pengetahuan dengan perbuatan, sehingga pengetahuaan ialah untuk perbuatan dan perbuatan dipimpin oleh pengetahuan. Ilmu dan amal, kennis dan daad, harus “wahyu-mewahyui” satu sama lain, ‘kennis zonder daad is doellos. Daad zonder kennis is richtingloos”. Demikianlah seorang sarjana pernah berkata. …”





Selain itu, Cahyo juga mendorong para tehnoprenuer millenial untuk ikut berkontribusi dalam membangun bangsa Indonesia. “Dengan ide-ide segar dan inovasi-inovasinya untuk kemajuan Bangsa dan Negara,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*