Tak Kunjung Tangkap Tersangka, Polisi Ditantang Buru Penipu, Advokat Senior Hartono Buka Sayembara Berhadiah Rp 500 Juta

Tak Kunjung Tangkap Tersangka, Polisi Ditantang Buru Penipu, Advokat Senior Hartono Buka Sayembara Berhadiah Rp 500 Juta. - Foto: Tersangka Penipuan dan Penggelapan Abdullah Nizar Assegaf alias ANA.(Ist)
Tak Kunjung Tangkap Tersangka, Polisi Ditantang Buru Penipu, Advokat Senior Hartono Buka Sayembara Berhadiah Rp 500 Juta. - Foto: Tersangka Penipuan dan Penggelapan Abdullah Nizar Assegaf alias ANA.(Ist)

Advokat Senior Hartono Tanuwijaya kembali membukan sayembara menangkap orang. Sayembara kali ini ditujukan masyarakat umum dan kepada Polisi. Jika polisi bisa menangkap tersangka penipuan dan penggelapan yang bernama Abdullah Nizar Assegaf alias ANA, polisi akan diberikan hadiah sebesar Rp 500 juta.

Hal itu disampaikan Hartono Tanuwidjaja kepada wartawan, di Jakarta, Senin (21/09/2020).  Dia mengatakan, Abdullah Nizar Assegaf alias ANA adalah tersangka penipuan dan penggelapan terhadap korban bernama Deepak Rupo Chugani, di Kepolisian Resort Jakarta Utara (Polres Jakut).

“Bagi siapa yang bisa nangkap tersangka penipuan dan penggelapan atas nama Abdullah Nizar Assegaf alias ANA, akan diberikan hadiah sebesar Rp 500 juta,” ujar Hartono Tanuwidjaja.

Hartono mengatakan, sayembara yang dilakukannya berlaku juga bagi aparat Kepolisian. Kendati sesungguhnya tanggung jawab dan tugas Polisi untuk menghadirkan tersangka Abdullah Nizar Assegaf ke Kejaksaan Negeri Jakarta Utara (Kejari Jakut), Polisi tetap akan diberikan hadiah Rp 500 juta bagi yang bisa menangkap ANA.

“Sebetulnya sih itu tugas Polisi untuk menghadirkan Abdullah Nizar Assegaf alias ANA ke Kejaksaan Negeri Jakarta Utara dalam agenda tahap dua,” ujar Hartono.

Hartono mengadakan sayembara penangkapan tersangka dalam kasus penipuan terhadap Deepak Rupo Chugani yang juga merupakan kliennya. Hartono mengatakan, aparat penegak hukum sangat lamban menangkap tersangka.

“Kami serius menyelenggarakan sayembara penangkapan tersangka ANA ini. Soal dinilai tindakan ini menyindir atau meledek pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab, kami sama sekali tidak bermaksud demikian. Bagi kami bagaimana agar proses hukum kasus ANA ini tuntas, itu saja,” tutur Hartono.

Tersangka ANA dilaporkan ke Polres Jakarta Utara atas dugaan kasus penipuan dan penggelapan pada 11 Oktober 2017 lalu.

Polres Jakarta Utara kemudian menetapkan ANA sebagai tersangka. Namun, setelah penetapan tersangka, sampai saat ini penyidik Polres Jakut tidak pernah menerbitkan surat perintah penahanan.

Perbuatan memperdaya saksi korban Deepak Rupo Chugani dilakukan tersangka Abdullah Nizar Assegaf dengan cara menawarkan sebidang tanah.

Tersangka kemudian meminta kepengurusan surat-surat tanah tersebut dengan meminta uang pembayaran Rp 7 miliar.

Tersangka Abdullah Nizar Assegaf memberikan empat lembar cek Bank Mitra Niaga Cabang Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun ketika cek tersebut dicairkan hanya tiga lembar yang diterima bank dengan nilai Rp 3 miliar. Sedangkan satu lembar cek lagi ditolak dengan alasan tak ada uangnya.

Tak Kunjung Tangkap Tersangka, Polisi Ditantang Buru Penipu, Advokat Senior Hartono Buka Sayembara Berhadiah Rp 500 Juta. - Foto: Tersangka Penipuan dan Penggelapan Abdullah Nizar Assegaf alias ANA sedang bersama mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin.(Ist)
Tak Kunjung Tangkap Tersangka, Polisi Ditantang Buru Penipu, Advokat Senior Hartono Buka Sayembara Berhadiah Rp 500 Juta. – Foto: Tersangka Penipuan dan Penggelapan Abdullah Nizar Assegaf alias ANA sedang bersama mantan Menteri Perindustrian Saleh Husin.(Ist)

Selanjutnya tersangka memberikan lagi cek. Namun ternyata ceknya kosong lagi. Terbukti pihak bank memberikan Surat Keterangan Penolakan (SKP) pencairan yaitu dari Bank Mitra Niaga sebesar Rp 4 miliar tanggal 14 Juni 2017, Bank Central Asia (BCA) sebesar Rp 3,5 miliar tanggal 24 November 2017. Dan Bank Mandiri sebesar Rp 4 miliar dengan alasan saldo tidak mencukupi.

Padahal, ungkap Hartono, sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) No 372/Tebet Barat atau tanah yang dijual tersangka kepada korban sudah dihapus di Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau sudah berubah menjadi HGB No 3002 atas nama orang lain lagi.

Terkait kasus ini, Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Utara (Kasipidum Kejari Jakut), Satria Irawan menyampaikan, sampai hari ini masih menunggu penyerahan tersangka oleh Polres Jakarta Utara kepada Kejari Jakarta Utara.

Ia mengaku, berkas perkara tersangka Abdullah Nizar Assegaf sudah lengkap dan sudah bisa di sidangkan jika tersangka sudah ditahan.

“Kalau kami kembalikan ke Polres Jakut menjadi repot kami nanti pada saat tersangka ANA dapat ditangkap aparat Polres Jakarta Utara. Tidak bisa langsung diserahkan (ditahapduakan) ke kami karena berkasnya sudah di Polres Jakarta Utara. Maka berkas itu tetap kami simpan di sini, dan kami menunggu saja kapan penyidik Polres Jakarta Utara menyerahkan tersangka ANA kepada kami,” ujar Satria.(Nando)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan