Sudah Rahasia Umum, Pejabatnya Gampang Disogok Untuk Muluskan Keluarnya Ijin, Penyidik Mabes Polri Diminta Segera Tetapkan Jajaran Direksi PT Surveyor Indonesia Sebagai Tersangka

Rakyat Sendiri Menambang Timah Kok Ditangkapi Aparat, Tolong Dengarkan Persoalan Warga Desa dari Bangka Belitung.

Bukan rahasia lagi jika pihak PT Surveyor Indonesia (PT SI) banyak main uang untuk mempermulus penerbitan ijin pertambangan.

Bahkan, masyarakat awam pun sudah mendengar dan menyaksikan sepak terjang PT SI di Bangka Belitung yang banyak makan uang sogokan untuk menerbitkan ijin tambang timah illegal.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat Bangka Belitung (LBH Bangka Belitung) Bujang Musa menyampaikan, dalam kasus pemberian ijin palsu penambangan illegal timah di kampong halamannya itu, pihak PT Surveyor Indonesia (PT SI) harus bertanggung jawab.

Menurut pria yang akrab disapa BM itu, PT Surveyor Indonesia diduga kuat menerima suap dari para penambang illegal, sehingga meloloskan sejumlah persyaratan dalam pengurusan perijinan oleh PT Surveyor Indonesia.

“Pihak yang bertanggung jawab adalah Surveyor Indonesia, karena perusahaan ini telah dibayar untuk melakukan verifikasi dokumen legal dan teknis secara independen,” ujar Bujang Musa, di Jakarta, Rabu (27/02/2019).

Dia menehaskan, PT SI tidak bisa mengeluarkan laporan survei kepada penambang ilegal. Oleh karena itu, dalam persoalan ini, PT SI seharusnya bisa disamakan dengan perusahaan-perusahaan penambang ilegal lainnya yang sudah menjadi tersangka.

“Sudah menjadi rahasia umum bahwa Surveyor Indonesia dengan dibayar bisa mengubah dan mempercepat laporan,” ujar Bujang Musa.

Bujang Musa mengungkapkan, untuk kasus tambang timah illegal yang tengah diusut Mabes Polri, dilaporkan bahwa Kepala Kantor Wilayah lembaga Surveyor Indonesia (SI) mengakui menerima uang dan membagi-bagikannya kepada para anak buah, dalam rangka memperlancar dikeluarkannya ijin kepada perusahaan, yang ternyata adalah penambang illegal.

“Pengakuan itu seharusnya dijadikan bukti kuat menyeret dan mengembangkan lagi bahwa ada sejumlah petinggi di lembaga itu yang bermain dalam penerbitan ijin tambang timah illegal. Penyidik harus segera menyeret para bos-bos mereka juga,” ujarnya.

Dia pun mendesak penyidik agar tidak takut atau malah masuk angin untuk mengusut keterlibatan Direksi PT Surveyor Indonesia (PT SI), khususnya Tri Widodo, agar segera dijadikan tersangka. Tri Widodo adalah Kepala Divisi Batubara sebelum menjabat sebagai Direktur di PT SI.

Sepak terjang Tri Widodo, menurut dia, tidak bersih. Sebab, selama Tri Widodo menjabat sebagai Direktur, banyak utang perusahaan yang macet. Juga dilaporkan, Tri Widodo menimbulkan kerugian seperti terlibat pemalsuan uang untuk sekolah Pasca Sarjana atau S2 di Australia, termasuk juga melakukan pembelian barang bekas dengan membuat laporan bahwa barang itu asli.

Lagi pula, lanjutnya, Kepala Kantor Wilayah PT SI Bangka Belitung, Dedy Irwan pun sudah mengaku menerima duit dari penambang liar ilegal.

Dirtipidter Mabes Polri Brigjen Pol M Fadil Imran mengatakan, penyidik tengah mengembangkan penyidikannya ke berbagai pihak untuk mengusut keterlibatan dan dugaan suap pemberian ijin tambang illegal timah di Bangka Belitung.

Berkas penyidikan pun sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung (Kejati Babel). “Untuk berkas Dirut PT PMP, hari ini dilimpahkan ke Kejati Babel,” tutur Brigjen Pol M Fadil Imran, Rabu (27/02/2019).

Penyidik belum menetapkan tersangka baru dalam kasus ini. Namun, lanjut dia, penyidik terus menggeber keterlibatan pihak-pihak, termasuk para petinggi PT Surveyor Indonesia (PT SI).

“Untuk tersangka baru belum, masih tahap melengkapi alat bukti. Sedangkan dari pihak PT Surveyor Indonesia, sudah ada beberapa orang yang sudah diperiksa, sudah ada BAP (Berita Acara Pemeriksaan) mereka,” ujar Brigjen Pol Fadil Imran.

Dia menyatakan pihaknya masih akan memburu tersangka baru dalam kasus ini. “Kalau ada penetapan tersangka baru, akan segera kami umumkan. Kami harus kuat dalam konstruksi pembuktiannya. Mohon dukungannya,” ujarnya.

Sebelumnya, untuk mengusut tuntas kejahatan penambangan timah ilegal, penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Polri berjanji akan mengagendakan pemanggilan terhadap pihak Surveyor Indonesia (SI) dan berbagai pihak terkait.

“Semua akan kita panggil, termasuk pemberi izin,” ujar Fadil Imran.

Penyidik baru menetapkan 1 orang sebagai tersangka. Fadil mengatakan, penyidik masih memburu dan terus mengembangkan proses penyidikan agar semua pelaku yang terlibat bisa dijerat, termasuk pihak-pihak pemberi izin.

“Sekarang masih tahap I. Tersangkanya sementara ini baru 1 orang,” tuturnya.

Polisi tengah membongkar praktik penambangan timah yang diduga tidak berizin, di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Penyidik melakukan penindakan terhadap PT Panca Mega Persada (PT PMP), yang dilaporkan telah melakukan penambangan ilegal di wilayah itu. Fadil menjelaskan, Tim Penyidik di Bangka telah melakukan penindakan terhadap smelter PT PMP yang berlokasi di Sungai Liat itu.

Penindakan itu dilakukan polisi berdasarkan laporan masyarakat. Fadil menyebut timnya turut menyita 9.200 timah yang dikemas dalam 9 karung berukuran besar.

Menurut dia, kegiatan penambangan itu diduga bukan dari pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Menurut Fadil, PT PMP menampung biji timah hasil penambangan seorang kolektor bernama Akiong.

“(Sedangkan) penanggung jawab PT PMP dalam hal ini Direktur PT PMP, Saudara SST alias Asui,” ujarnya.

Praktik itu berpotensi melanggar Pasal 161 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. “Pemeriksaan saksi dan gelar awal di Polres Sungai Liat,” ujarnya.

Selain menyita timah yang sudah dikemas, polisi turut mengamankan 1 truk, 2 forklift, serta 2 unit telepon seluler (ponsel). Barang bukti lainnya yang juga disita adalah 1 bundel buku catatan pasir timah, batangan timah sebanyak 15 ikat dengan berat 15 ribu kg, serta 2 unit alat peleburan timah.

Untuk pengembangan kasus ini, Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Mabes Polri telah menangkap Direktur PT Panca Mega Persada (PT PMP) Siauw Sui Thin alias Asui. Asui diduga telah melakukan tindak pidana dengan memanfaatkan dan mengolah pemurnian bijih timah yang tidak memiliki IUP dan IUPK.

Fadil Imran mengatakan, modus operandi yang dilakukan pelaku adalah dengan menampung bijih timah. Bijih tersebut berasal dari luar IUP atau kolektor atas nama Akiong yang berlokasi di daerah Jebus, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.

“TKP-nya ada di Jalan Raya Jelatik No 1A Kecamatan Sungai Liat Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung. Pelaku sudah diamankan ke Polres Sungailiat dan 11 orang saksi juga sudah diperiksa intensif,” ujarnya.

Penyidik telah menyita sejumlah barang bukti, yakni,  1 unit truk berserta STNK, pasir timah sebanyak 9 karung jumbo dengan berat 9.203,8 kilo gram, 2 unit alat peleburan bijih timah, sejumlah ponsel pintar beserta buku catatan. “Kasus ini masih kami kembangkan terus,” kata Fadil.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*