Sudah P21, Berkas Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan Akan Dilimpahkan ke Pengadilan

Jaksa Agung HM Prasetyo menyatakan berkas perkara mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Karen Galaila Agustiawan tersangka korupsi investasi perusahaan di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009 yang merugikan negara Rp 568 miliar sudah dinyatakan lengkap atau P21.

Selanjutnya akan diserahkan ke Direktur Penuntutan (Dirtut) pada JAM Pidsus Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk dipelajari kembali sebelum di rancang surat dakwaan.

“Berkas sudah P21. Meskipun ditangani kejaksaan penyidikannya tapi prosedur kalau P21 dari Dirdik di serahkan ke Dirtut untuk dipelajari lagi dan disusun surat dakwaannya baru dilimpahkan ke pengadilan,” kata Prasertyo di Kompleks Kejagung, Jakarta Selatan, Jumat (21/12/2018).

Sementara, Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapus Penkum) Kejagung, Mukri mengatakan masih ada satu tersangka yang berkas perkaranya belum dinyatakan lengkap oleh jaksa penuntut umum (JPU) yakni Chief Legal Councel and Compliance, Genades Panjaitan. “P21 cuma untuk tersangka Karen, satu tersangka belum P21,” ujarnya ketika dikonfirmasi.

Sedangkan, dua tersangka lainnya mantan Direktur Keuangan PT Pertamina, Frederik Siahaan serta mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu sudah masuk dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

“Untuk dua tersangka sudah proses persidangan di pengadilan, saat ini masih proses,” katanya.

Sementara, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Siaman mempertanyakan adanya satu tersangka yang berkas perkaranya belum dinyataan lengkap oleh JPU. “Kenapa harus satu-satu tersangkanya untuk disidangkan, kenapa tidak sekaligus saja,” katanya.

Dengan berkas perkara mantan Dirut PT Pertamina, Karen Galaila Agustiawan dinyatakan P21, maka menjadi tugas JPU untuk dapat membuktikan bahwa tersangka memang melakukan tindak pidana korupsi.

“Buktikan dipersidangan, itu tugas utama jaksa, yakinkan hakimnya dengan bukti-bukti yang ada,” tegasnya.

Kasus ini sudah menetapkan empat orang tersangka yakni mantan Dirut PT Pertamina, Karen Galaia Agustiawan. Sedangkan tiga tersangka lainnya yakni Chief Legal Councel and Compliance, Genades Panjaitan dan mantan Direktur Keuangan PT Pertamina, Frederik Siahaan serta mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina, Bayu.

Para tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kasus itu berawal pada 2009 PT Pertamina (Persero) telah melakukan kegiatan akuisisi (Investasi Non Rutin) berupa pembelian sebagian asset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaan ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya Feasibility Study (Kajian Kelayakan) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris, yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah 31.492.851 dolar AS serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah 26.808.244 dolar AS tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada PT Pertamina (Persero) dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional yang mengakibatkan adanya kerugian keuangan Negara cq. PT. Pertamina (Persero) sebesar 31.492.851 dolar AS dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp 568 miliar sebagaimana perhitungan akuntan publik.(Richard)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*