Sudah Disediakan Alat Tercanggih Dan Anggaran Ratusan Miliar Rupiah, Kok Hanya Garap Buronan Cere, Trimedia Panjaitan: Jaksa Kok Enggak Bisa Menangkap Buronan Kakap Joko Soegiarto Tjandra

Sudah Disediakan Alat Tercanggih Dan Anggaran Ratusan Miliar Rupiah, Kok Hanya Garap Buronan Cere, Trimedia Panjaitan: Jaksa Kok Enggak Bisa Menangkap Buronan Kakap Joko Soegiarto Tjandra. – Foto: Anggota Komisi III DPR Fraksi PDIP, Trimedia Panjaitan. (Net)
Sudah Disediakan Alat Tercanggih Dan Anggaran Ratusan Miliar Rupiah, Kok Hanya Garap Buronan Cere, Trimedia Panjaitan: Jaksa Kok Enggak Bisa Menangkap Buronan Kakap Joko Soegiarto Tjandra. – Foto: Anggota Komisi III DPR Fraksi PDIP, Trimedia Panjaitan. (Net)

Kinerja Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung (Jamintel) dipertanyakan, lantaran tidak bisa melancak dan tak kunjung menangkap buronan kasus korupsi Joko Soegiarto Tjandra.

Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDIP, Trimedia Panjaitan pun mempertanyakan kinerja Jaksa Agung, khususnya Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung (Jamintel) Jan S Maringka dalam memburu para buronan.

Padahal, menurut Trimedia Panjaitan, Komisi III DPR sudah menyetujui anggaran yang sangat besar dan juga menyetujui pembelian alat-alat sadap yang canggih untuk dipergunakan Jamintel dan jajaran dalam memburu para buronan.

“Ya justru itulah yang kita mau tanyakan ke Kejaksaan. Tahun lalu kan kita sudah setujui diberi alat sadap yang canggih untuk Bidang Intelijen Kejaksaan. Itu, kalau enggak salah 800 sampai 900 miliar anggarannya. Itu bagaimana? Bukan yang kelas cere-cere aja dong diintelin,” ungkap Trimedia Panjaitan, di Jakarta, Selasa (21/07/2020).

Trimedia Panjaitan mengaku kecewa jika Jamintel Kejaksaan Agung hanya bekerja biasa-biasa saja, dan jika hanya sanggup menangkap buronan cere dan kelas teri.

“Makanya, jangan enggak sesuai dengan alat yang dibeli. Padahal, maksud kita supaya lebih canggih intelijen Kejaksaan ini. Makanya dikasih anggaran 800 miliar lebih anggarannya itu. Nah, itu bagaimana efektivitas alat itu?” ujarnya.

Trimedia Panjaitan juga meminta Jaksa Agung Republik Indonesia Dr ST Burhanuddin untuk menjelaskan perihal penangkapan buron di Kejaksaan yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

Padahal, Kejaksaan Agung mengaku memiliki Program Tangkap Buronan (Tabur) yang disebut sebagai upaya optimalisasi penangkapan buronan pelaku kejahatan dalam rangka penuntasan perkara, baik tindak pidana umum maupun tindak pidana khusus.

Dalam Program Tangkap Buron ini, Kejaksaan Agung menetapkan target bagi setiap Kejaksaan Tinggi di seluruh Indonesia yaitu minimal 1 kegiatan pengamanan terhadap buronan kejahatan untuk setiap triwulan.

Menurut Trimedia Panjaitan, anggaran besar dan alat-alat sadap yang tercanggih yang disetujui DPR untuk dipergunakan oleh Kejaksaan Agung itu harus dijelaskan oleh Koprs Adhyaksa kepada masyarakat dan para stakeholders.

“Kita ingetin. Itu dikasih di eranya pak Prasetyo sebagai Jaksa Agung dibeli itu. Bukan jaman Jaksa Agung yang sekarang. Nah, tugas Jaksa Agung yang sekarang, mencek alat itu. Benar, sesuai gak dengan nilainya? Efektif gak? Masa kita beli 800 miliar enggak ada nangkapin kakap. Cuma nangkapin yang kelas cere saja. Misalnya Bupati yang udah lama enggak ditanggap, nemu. Gitulah.padahal alatnya senilai 800 miliar,” jelasnya.

Karena itu, Jaksa Agung Burhanuddin juga tidak boleh berdiam diri saja dan jangan hanya berdalih saja ketika kinerja Kejaksaan dipertanyakan oleh masyarakat.

“Nah, itu juga harus kita ingatin Jaksa Agung. Itu ada alat Intelijen yang kita setujui sebesar 800 miliar anggarannya. Kalau pun ada hal-hal yang rahasia yang harus disampaikan, yang penting Jaksa Agung menyampaikan, apakah alat itu bagus, bisa digunakan dengan efektif. Nah kita bisa yakin,” tandas Trimedia Panjaitan.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan