Sudah 32 Anak Tewas di Lubang Bekas Tambang, Gubernur Kaltim Kok Tidak Ada Tindakan

Sudah 32 Anak Tewas di Lubang Bekas Tambang, Gubernur Kaltim Kok Tidak Ada Tindakan

- in DAERAH, HUKUM, NASIONAL, POLITIK
21
0
Sudah 32 Anak Tewas di Lubang Bekas Tambang, Gubernur Kaltim Kok Tidak Ada Tindakan.

Gubernur Kalimantan Timur dianggap tak berbuat apa-apa untuk mengatasi persoalan lubang bekas tambang yang sudah memakan korban nyawa sebanyak 32 anak.

Jaringan Advokasi Tambang Kalimantan Timur (Jatam Kaltim) Pradarma Rupang mengungkapkan, lubang bekas tambang batubara Samarinda kembali menelan korban. Kali ini kabar duka tersebut harus dialami Nurul Huda Aulia (10th), warga di Jalan KH Harun Nafsi RT 18 Kelurahan Rapak Dalam.

“Pemerintah Provinsi kok tidak bertindak. Kini 32 anak sudah tewas mengenaskan. Nurul adalah Korban ke 32 anak-anak yang tewas di lubang tambang sejak 2011 hingga 2018,” tutur Pradarma Rupang, Kamis (22/11/2018).

Dia melanjutkan, dari temuan Jatam Kaltim, lokasi tenggelamnya korban berada di Jalan Harun Nafsi, Loa Janan Ilir. Masyarakat menemukan tubuh Nurul tidak jauh dari tempat jatuhnya.

“Pantauan Jatam Kaltim, lubang bekas tambang diperkirakan seluas 700 meter persegi. Hasil tinjauan di lapangan tak ditemukan tanda-tanda plang dan rambu yang memberitahukan dan melarang warga memasuki kawasan tersebut,” tutur Rupang.

Dia mengatakan, lubang bekas tambang yang dibiarkan menganga dan diisi air bak danau ini, menurut informasi warga sekitar sudah dibiarkan sejak 2 tahun yang lalu.

Rupang memaparkan, beberapa temuan dan informasi yang dihimpun oleh Tim Jatam Kaltim di lapangan, pertama, pemeriksaan kualitas air di lokasi. Hasil pengukuran Jatam Kaltim terhadap pH meter di dapat 2,76 yang artinya kandungan air sangat asam.

“Ini menandakan sebelumnya ada aktivitas pembongkaran dan galian tanah yang mengandung konsentrasi batubara,” ujarnya.

Kedua, tidak hanya pH , Jatam Kaltim juga mengukur kadar jumlah Total Dissolve Solid (TDS) atau Zat Padat Terlarut–dari air di lubang tersebut yang mencapai 1960.

Dari angka itu, artinya air di kolam ini banyak mengandung logam berat. Logam berat terlarut bersama air saat tanah mengalami pembongkaran. Logam berat itu antara lain besi, mangan, merkuri, zeng, almunium, timbal, arsen.

Tiga, berdasarkan keterangan masyarakat sekitar, adalah benar bahwa di tempat itu dulunya ada aktivitas penggalian batubara dan itu terjadi di tahun 2016.

Empat, lokasi itu bukan kolam alami. Itu terlihat dari wilayah sekitarnya serta kontur permukaan yang juga sebenarnya adalah bukit yang kemudian dikupas menjadi lubang.

“Tempat lokasi almarhum tenggelam terlihat dulunya bukit nampak ada irisan bukit tidak jauh dari lokasi,” ujar Pradarma Rupang. Dan kelima, tidak jauh dari lokasi Jatam Kaltim temukan lokasi bekas tumpukan batubara.

Jatam Kaltim juga melihat, upaya aparat kepolisian untuk mengusut kasus tewasnya anak-anak di lubang bekas tambang itu asal-asalan.

“Pihak Kepolisian Kota Samarinda nampaknya asal-asalan, tidak mendalami dantidak menyelidiki lebih jauh, namun langsung menyimpulkan,” ujarnya.

Olehkarena itu, Jatam Kaltim mempertanyakan profesionalisme kepolisian dalam penanganan kasus ini.

Pradarma Rupang merasa heran dengan begitu entengnya aparat kepolisian mengeluarkan kesimpulan. Hanya karena lokasi tempat tenggelamnya korban tidak masuk salah satu konsesi tambang, dengan cepatnya penyelidikan lantas tidak dilanjutkan.

“Terbukti di lokasi tambang tim Jatam Kaltim juga tidak menemukan ada pemasangan garis polisi untuk mengamankan TKP,” ungkapnya.

Selain ketidakseriusan aparat kepolisian mengusut kasus-kasus itu, Jatam kaltim juga mengkritik lemahnya peran pengawasan Dinas ESDM Kaltim, serta minimnya kinerja penertiban yang dilakukan Polda Kaltim terhadap maraknya aktivitas illegal mining di Kalimantan Timur.

Padahal, ditegaskan Pradarma Rupang, selain meresahkan bagi masyarakat karena pencemaran lingkungan yang ditimbulkan, aktivitas tambang ilegal ini telah merugikan negara.

“Dimana kekayaan negara telah dicuri dan telah mengakibatkan hilangnnya nyawa manusia,” katanya.

Atas berlarut-larutnya kasus ini, serta bertambahnya jumlah korban dalam waktu relatif yang sangat dekat, Jatam Kaltim menuntut agar Gubernur Kaltim mengevaluasi dan mencopot sejumlah pejabat yang berwenang.

“Kami meminta Gubernur Kaltim segera bertindak. Sejumlah pejabat harus dicopot,  termasuk diantaranya Kadis ESDM Kaltim,” ujar Rupang.

Hingga kini, dikatakan Rupang, Walikota Samarinda juga membiarkan aktivtitas illegal mining dengan mudahnya dan leluasa beroperasi, tanpa ditindak.

Seharusnya, kata dia, selaku Kepala Daerah, Walikota Samarinda juga bisa menginstruksikan jajaran kelurahan serta RT untuk turut melaporkan dan mengawasi atas adanya aktivitas yang sudah meresahkan ini.

“Sebagai Kepala Daerah tentunya penghargaan bisa diberikan bagi mereka yang turut menjaga lingkungannya dari aktivitas pengrusakan lingkungan seperti tambang ilegal,” ujar Rupang.

Atas kasus-kasus itu, Jatam Kaltim menagih keseriusan Polda Kaltim untuk memastikan penanganan hukumnya.

“Kami meminta agar kasus lubang tambang benar-benar diproses hingga ke pengadilan. Hingga korban ke 32, baru 1 orang yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan dengan jeratan pidana 2 bulan kurungan dan denda 1.000 rupiah,” ujarnya.

Pada Selasa, 20 November 2018, sekitar pukul 07.00 WITA, Nurul Huda Aulia (10 tahun) yakni siswa Kelas 4 SD bersama 5 temannya  berencana sejak kemarin untuk joging bersama ke perumahan BPK.

Karena terlalu jauh, mereka memilih untuk bermain di Gang Muhjahidin. Rencana joging pagi itupun berubah saat mendapat informasi ada danau warna hijau yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer dari kediaman mereka.

Berkumpul di depan Gang Karya, akhirnya mereka ber-enam berjalan kaki menyusuri jalan melalui lorong gang, kebun, sawah, memanjat tebing, jalan menanjak dan sedikit memasuki hutan namun akhirnya keenamnya sampai tujuan.

“Sesampai di lokasi, selain berfoto ria, bermain air, aktivitas berenang juga dilakukan. Namun aktivitas berenang di danau hanya dilakukan oleh anak laki-laki saja,” ungkap Rupang.

Saat mau pulang, korban mengajak Dini dan Gina untuk ikut berenang, namun ajakan berenang itu ditolak oleh kedua temannya itu. “Saat korban cuci kaki di pinggir danau, korban terpeleset dan tenggelam di danau tersebut,” ujarnya.(JR)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like