Suara Yang Bergelora dari Sidang Raya XVII PGI, Biduk Oikumene Memasuki ‘Penyataan’

Sebuah Catatan Pdt Saut Hamonangan Sirait: Suara Yang Terus Bergelora dari Sidang Raya XVII PGI, Biduk Oikumene Memasuki ‘Penyataan’.
Sebuah Catatan Pdt Saut Hamonangan Sirait: Suara Yang Terus Bergelora dari Sidang Raya XVII PGI, Biduk Oikumene Memasuki ‘Penyataan’.

Pdt Saut Hamonangan Sirait, seorang Pendeta, aktivis, jemaat, pemimpin organisasi, yang turut dalam perhelatan Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 8 November 2019 hingga 13 November 2019.

“Untuk tiap masa, ada orangnya, dan untuk tiap orang ada masanya.”

Empat Tokoh Oikumene Kaliber Dunia hadir dalam hidup saya. Bercerita langsung mengenai keprihatinan dan tantangan yang mereka hadapi.

Prof Dr Johannes Ludwig Chrisostomus Abineno adalah Ketua Umum PGI tahun 1964-1980. Drama yang dipenuhi konflik perpecahan menjadi panggung utama yang dihadapi.

Dampak Perdjuangan Semesta atau Perdjuangan Rakjat Semesta (Permesta), yang dideklarasikan 2 Maret 1957, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 15 Februari 1958, Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S–sengaja tidak menyebut PKI, karena fakta sejarah. Belum lagi, Darul Islam Kartosuryo di Jawa Barat. Dan, Kahar Muzakar di Makassar.

Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) berada dalam kumparan yang penuh dilema dan tidak bisa tidak, harus ditanggapi dengan theologis dan etis.

Letkol Ventje Sumual di Permesta dan Kolonel Maludin Simbolon di PRRI, menjadi pentolan militer, adalah anak gereja.

Sebelum itu, 25 April 1950, Republik Maluku Selatan (RMS) mendeklarasikan diri dan pemimpinnya Dr Christ Soumokil, yang baru bisa ditangkap pada tahun 1966.

Di tengah kancah gerakan separatis itu, persoalan Papua muncul, wilayah yang menjadi medan zending gereja pada masa itu. Sebagai dosen di Sekolah Tinggi Theologia Jakarta (STT Jakarta), pergumulan Prof Dr Johannes Ludwig Chrisostomus Abineno menata konsolidasi gereja-gereja dan konstelasi bangsa, sangat menarik perhatian kami murid-muridnya.

Peran utama yang dilakukan DGI adalah mencegah dan mengurangi korban dan melakukan kesadaran mengenai pentingnya kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dari Merauke sampai Sabang.

Hal menarik yang mungkin relevan saat ini adalah  Penentuan Pendapat Rakyat atau Pepera di Papua. Beliau pernah bercerita, bahwa pada saat Pepera, bukan hanya DGI, tenaga-tenaga zending, terutama non-Belanda,  banyak yang turun langsung ke Papua. Terpapar fakta, bahwa selama 3,5 abad Belanda menjajah Indonesia, penginjilan justru mengalami kemerosotan yang luar biasa. Portugis yang lebih dulu menjajah, justru lebih berperan dalam penginjilan di Nusantara. Sangat mungkin hal itu yang membuat para zending non Belanda berangkat ke Papua dengan emosi yang pro Indonesia.

Pada masa Abineno, pintasan pembentukan  gereja-gereja yang dipenuhi pelbagai onak dan duri di tengah bangsa, mulai mamasuki tahap akhir, untuk memasuki fase selanjutnya.

Prof Dr Peter Latuihamallo yang menggantikan Bapak Abineno, menjadi Ketua Umum PGI yang mempersiapkan peralihan Biduk Oikumene menuju samudera raya yang lebih terarah.

Namun, di tengah konsolidasi gereja dan negara yang semakin kokoh, kekuasaan negara yang bertumpu pada satu orang dan mulai melakukan kontrol terhadap seluruh organisasi, menjadi bahaya yang sangat besar. Terutama menyangkut eksistensi gereja dan kehidupan negara yang sehat.

Persoalan independensi let the church be the church, menjadi pergumulan tidak mudah. Kooptasi negara terus merangsek untuk membonsai kekuatan civil society dan tunduk pada selera penguasa.

Pada masa inilah muncul squence words strategis untuk tetap berdiri teguh dalam prinsip. Bersama Dr Soritua Albert Ernst Nababan atau yang dikenal dengan SAE Nababan, dan Jenderal TB Simatupang (Letjen TNI Purnawirawan Tahi Bonar Simatupang), kata yang menjadi sikap dasar: positif, kritis, realistis dan konstruktif (Kreatif).

Pada saat pembukaan Sidang Raya Tahun 1984 di Ambon, hal yang paling menggetarkan adalah ungkapan Bapak Latuihamallo. Ketegangan sudah melanda terkait kekuasaan Soeharto yang absolut. Seluruh pimpinan ormas harus mendapat restu istana, tanpa kecuali. Ijin penyelenggaraan Sidang Raya atau Muktamar menjadi kartu truf pemerintah.

Di saat itulah, keteguhan jiwa Prof Latuihamallo menggelegar melalui bahasa simbolik, terhadap utusan pemerintah,  Panglima ABRI atau Pangab Jenderal Benny Moerdani. Dengan ringan Prof Latuihamallo menyambut, “Bapak Jenderal Benny Moerdani yang kami segani”.

Peserta yang konsentrasi mendengar terperangah dengan kata segani itu. Bisik-bisik mempertanyakan, mengapa tidak memakai kata hormat, sebagaimana lazimnya?  Hanya sebuah kata, tetapi mengandung makna yang penuh magma. Kata yang menanamkan spirit perlawanan, bentuk yang paling kritis, yang tidak bisa dilawan atau dilenyapkan dengan kekuatan dan kekuasaan manapun. Tidak juga dengan jenis senjata terhebat sekalipun. Prof Dr Latuihamallo mewariskan suatu sikap yang sangat imaniah, batu karang yang teguh.

Pada suatu kesempatan berdua dalam perjalanan dari Green Evert Puncak menuju Jakarta, Bapak Latui, panggilan akrab beliau, menceritakan lika-liku menghadapi RMS dan gerakan separatis lain. Bersama Bapak Abineno  dan Dr Soritua AE Nababan. Termasuk upaya beliau untuk terlibat langsung bersama Jenderal Soehadiman mendirikan Sentral Organisasi  Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi), untuk mempertahankan Pancasila dan NKRI.

Bentuk Menuju Wujud

Konferensi 23-28 Mei 1950 merupakan konferensi Pembentukan. Suatu gerakan yang paling awal untuk Keesaan Gereja-Gereja di Indonesia. Di tengah munculnya gerakan separatis dan primordialisme yang sangat kuat menghantam bangsa, tindakan gereja-gereja untuk meng-esa merupakan sumbangsih yang sangat signifikan.  Pergulatan nasional menjadi embanan tersendiri dalam masa Abineno-Latuihamallo.

Masa pembentukan telah berkembang, bagai tanaman yang bertumbuh dalam tempaan musim yang berubah-ubah, ketegangan, perpecahan, dan tarik menarik dalam pelbagai kepentingan.

Dalam era pembentukan itu, Sidang Raya di Jakarta tahun 1964, membahas  konsep Tata Sinode Oikumene Gereja di Indonesia (SINOGI), namun kandas pada Sidang Raya di Makassar pada tahun 1967.

Pada Sidang Raya di Pematangsiantar tahun 1971, SINOGI diputuskan bersama Pemahaman Iman Bersama. Pada Sidang Raya di Tomohon, dilakukan pembahasan mengenai simbol-simbol keesaan dan melahirkan Prasetya Keesaan, Pemahaman Iman Bersama, Piagam Saling Mengakui dan Saling Menerima, dan Tata Dasar Gereja.

Sidang Raya di Ambon, berangkat dari kesinambungan melakukan pembaruan, dengan nomenklatur mewujudkan keesaan. Lima Dokumen Keesaan Gereja diputuskan. Kata Dewan berubah menjadi Persekutuan.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) yang pertama, Dr SAE Nababan, merupakan figur sentral tersendiri dalam kayuhan Biduk Oikumene itu.

Beliau telah menjadi Sekretaris Umum DGI sejak tahun 1967.  Denyut dan gelora Perahu Oikumene yang berlayar ke seluruh pelosok tanah air, sangat melekat pada dirinya. Dari Pembentukan menuju Perwujudan, tidak lepas sikap theologis dan komitmen Oikumenisnya hingga menjadi Ketum PGI.

Dalam masa kepemimpinan Nababan, Presiden Soeharto telah menjadi the ruling man. Dr HJ Naro yang saat itu Ketum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), menyebut penumpukan kolesterol kekuasaan untuk mengkritik kekuasaan Pak Harto yang sudah tak terbatas. Tidak lama kemudian dia terlempar dari tampuk kepemimpinan partainya.

Manakala Undang-Undang Ormas Nomor 5 tahun 1985  mengharuskan seluruh ormas, termasuk organisasi keagamaan untuk mengubah dasar, mengantinya dengan asas tunggal Pancasila, Dr SAE Nababan tampil dengan semangat perlawanan “Sampai langit runtuh, Yesus Kristus sebagai dasar gereja tidak akan berubah selamanya”. Robeklah dan hilangkanlah 1 Korintus 3:11 dari Alkitab.

Hal itu disampaikan Nababan manakala Menteri Agama, Alamsyah Ratu Perwiranegara menyampaikan pesan yang sesungguhnya merupakan tekanan. Sikap tegas Nababan menjadi inspirasi dan membangun sikap theologis bagi sinode dan ormas yang tidak hanya yang berbasis Kristen. Rumusan yang diusulkannya  memberi ruang tersendiri, manakala lepas dari Ketua Umum PGI karena menjadi Ephorus HKBP.

Meski Dr SAE Nababan telah lepas dari Ketum PGI menjadi Ephorus HKBP, Soeharto tidak menghentikan upayanya untuk menundukkan Nababan. Melalui Kodam I Bukit Barisan, Soeharto menerjang Nababan dengan mengacau Sidang Sinode HKBP.

Sebanyak1000 tentara dengan topi baja yang berumbai daun dan senjata laras panjang dengan sangkur yang terpasang mengepung lokasi Sinode di Sipoholon, Tapanuli Utara (Taput).

Gagal mengacau Sinode Godang, Pangdam Bukit Barisan, Mayjen HR Pramono mengeluarkan Surat Keputusan atau SK untuk memberhentikan Nababan sebagai Ephorus. Dan mengangkat Pejabat (Pj) Ephorus HKBP Dr Sountilon Siahaan.

Perlawanan dari warga jemaat dan para pelayan HKBP terhadap penggunaan kekuasaan di luar keadaban itu memakan korban 6 nyawa, ribuan yang luka, dan ratusan yang ditangkap tanpa pengadilan.

Biduk Oikumene yang mengarungi samudera nusantara, turut memberi sumbangsih yang besar bagi keutuhan bangsa. Justru menjadi penguasanya, Soeharto menghancurkan gereja.

Nababan tetap tidak pernah surut dan telibat dalam gerakan reformasi bangsa secara total. Beliau kemudian duduk dalam semua jabatan puncak di Christian Conference of Asia (CCA), Lutheran World Federation  (LWF), United Evangelical Mission (UEM) dan World Council of Churches atau Dewan Gereja Dunia (DGD).

Di antara para theolog yang mengayuh Biduk Oikumene Indonesia, seorang figur yang sangat dahsyat, bukan theolog, tetapi tentara sejati adalah Bapak Jenderal Tahi Bonar Simatupang.

Beliau merupakan salah satu founding father Republik Indonesia. Jenderal paling cerdas sejak di akademi dan pengganti Jenderal Soedirman, degan Kepala Staf Angkatan Perang RI, membawahi Angkatan Darat (AD), Angkatan Udara (AU), Angkatan Laut (AL) dan Polisi.

Pemikiran theologia kenegaraan dan kerangka strateginya sangat mempengaruhi Indonesia dan gereja-gereja. Selain menjadi Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) dan Majelis Pertimbangan (MP) PGI, beliau juga terpilih menjadi Ketua Konferensi Gereja-gereja Asia (CCA) dan Ketua Dewan Gereja se-Dunia.

Biduk Oikumene  bergerak dan terus bergerak, hingga tiba dan melampaui fase berat bangsa, menuju dan memasuki era reformasi. Dr Sularso Sopater, Dr Nathan Setiabudi, Dr Andreas AngguruYewangoe dan Henriette Hutabarat Lebang, memasuki era millenial dengan Teknologi 4.0 yang serba digital dengan post truth yang sangat fenomenal.

Menyatakan Gereja Kristen Yang Esa

Mengarungi  samudra pembentukan masuk dalam degup samudera perwujudan, dari Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI) menjadi Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), maka pertanyaan yang seharusnya muncul di dalam diri pengayuh-pengayuh Biduk Oikumene saat ini adalah, Sampai di mana kita kini? Masihkah dalam samudera perwujudan? Atau sudah mulai memasuki fase baru,  samudera penyataan.

Bapak Yewangoe dan Abang John Titaley sudah membuka diskursus menyangkut samudera baru itu, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia. Tidak lagi di Indonesia, tetapi INDONESIA.

Bapak Nababan, pengayuh biduk dalam samudera perwujudan  membuka ingatan yang berangkat dari surat-surat Paulus kepada jemaat-jemaat di.

Pernyataan Nababan itu sesungguhnya merupakan clue tersendiri untuk membuka garis pemikiran Alkitab menyangkut bangsa yang mewujud sebagai negara dalam realitas politiknya.

Perjumpaan Tuhan dengan Abraham, berbicara tentang nation: Engkau akan menjadi bangsa yang besar (Kejadian 12:2).

Penaklukan Fir’aun oleh Yusuf, sang budak dan terpenjara, merupakan narasi menyangkut penataan negara, dalam arti kekuasaan dan nilai-nilainya.

Demikian juga dengan perjumpaaan Allah dengan Musa: “Engkau akan menjadi bagiku kerajaan imam dan bangsa yang kudus”, semakin mengarah pada nation state. Bahkan Logia Yesu dalam Matius 28: 19, sangat tandas dan tegas menyebut seluruh bangsa.

Memasuki samudera penyataan Gereja Kristen Yang Esa (GKYE), dengan Biduk Oikumene Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (tanpa di), sudah waktunya.

Persoalan integritas bangsa, bukan saja Papua yang sangat mengkhawatirkan, tetapi hadirnya kekuatan yang teramat berat: Negara  Khilafah.

Generasi Pembentukan, bangga dengan Generasi Perwujudan dan saatnya memberi penghargaan dan penghormatan, terutama kebanggaan bagi Generasi Perwujudan dengan masuknya Biduk Oikumene ke Samudera Penyataan. Khairos, momentum, Waktu Tuhan mestinya di Waingapu, di Gereja Payeti, tempat Yewangoe, Bapak yang kucinta menjalani vikariat.

Penuh hormat untuk Ompu i Pdt Dr SAE Nababan. Ijinkan kami mengayuh Biduk Oikumene ini menuju Samudera Penyataan, NYATA.***

Pdt Saut Hamonangan Sirait

Mantan Direktur Departemen Pemuda HKBP

Mantan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Jakarta (GMKI Jakarta)

DPP Persatuan Intelijensia Kristen Indonesia (DPP PIKI)

Mantan Ketua DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI)

Mantan Ketua Umum DPP Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo)

Dosen Sekolah Tinggi Teologia HKBP (STT HKBP) Pematang Siantar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*