Stay at Home Malah Bikin Anyep Semakin Anyep

Jika Tak Ada Solusi Pemenuhan Kebutuhan Pokok Warga Akan Bikin Solusi Sendiri

Stay at Home Malah Bikin Anyep Semakin Anyep, Jika Tak Ada Solusi Pemenuhan Kebutuhan Pokok, Warga Akan “Bikin Solusi” Sendiri. Foto: Ilustrasi di Masa Pandemi Virus Corona (Covid-19), Salah satu hasil karya Jefri Jepri Johannes Pangaribuan Alias Kuple. (Istimewa).
Stay at Home Malah Bikin Anyep Semakin Anyep, Jika Tak Ada Solusi Pemenuhan Kebutuhan Pokok, Warga Akan “Bikin Solusi” Sendiri. Foto: Ilustrasi di Masa Pandemi Virus Corona (Covid-19), Salah satu hasil karya Jefri Jepri Johannes Pangaribuan Alias Kuple. (Istimewa).

Jefri Jepri Johannes Pangaribuan alias Kuple, warga Jatiasih, Bekasi, berkeluh kesah. Pria yang sedang mengikuti “Pelatihan Kerja” itu mendadak berhenti beraktivitas, karena anjuran Pemerintah untuk stay at home, dalam rangka memutus rantai penyebaran wabah Virus Corona atau Covid-19.

Sembari ikut pelatihan kerja, sebenarnya Jepri alias Kuple sesekali narik Ojek Online (Ojol). Bahkan dirinya sempat gabung di grup WA Ojol. Tetangganya di Jatiasih juga tak sedikit yang narik Ojol. Kehidupan sosial ekonomi yang kian sulit dan terasa rumit kali ini, membuat warga di lingkungannya kian mumet.

“Ojol tetap narik, walaupun kondisi anyep. PNS mah tunjangannya banyak. Masuk terus per bulan ke ATM. Beda dengan kondisi di Gang Kampung-Kampung di Jatiasih. Sekarang, setiap portal dijaga Karang Taruna. Portal buka-tutup. Perlahan barang-barang milik pribadi seperti HP jual butuh cepat. Dan, banyak motor digadai. Ditambah sebentar lagi menjelang hari raya,” tutur Jepri alias Kuple dalam perbincangan WA, Jumat (10/04/2020).

Kebutuhan sembako pun sudah mulai menipis. Kuple berharap, jika memang Negara peduli dengan nasib warga di gang-gang seperti di Jatiasih itu, ada baiknya Aparatur Sipil datang mengantarkan kebutuhan pokok gratis kepada warga.

“Maunya sih, sekalian orang Kecamatan ada yang anterin sembako ke rumah warga,” sahutnya.

Kuple yang semasa Pemilu dan Pilpres 2019 lalu masuk menjadi salah seorang anggota Timses Partai dan Capres tertentu itu mendadak tak suka ngomongin pejabat.

“Mendadak banyak yang ganti nomor. Sama kayak caleg. Padahal, pas Pileg, kaos gak butuh, dibagiin. Sekarang, masker pun tak mampu dibagiin,” keluh Kuple.

Bayangkan saja, lanjutnya, dia mengecek harga satu buah masker saja bisa dihargai puluhan ribu rupiah. “Kalah harga beras per liter,” imbuh Kuple.

Pria yang mahir desain grafis dan mantan aktivis mahasiswa ini sudah mulai tak sabar juga tiap hari mendengarkan keluhan warga di lingkungannya.

Meski begitu, Kuple yang pernah membuka usaha Café Cawan Pelita namun bangkrut mendadak itu hanya bisa berkeluh kesah.

“Tiap malem dengerin curhatan Ojol dan warga. Kalau bensin sih kayaknya masih stabil. Ceban per liter, eceran,” ujarnya.

Dari curhatan yang diikutinya, Kuple dan para Ojol lainnya sempat berpikir untuk mendatangi semua rumah-rumah pejabat. Untuk datang makan, minta kerjaan, minta uang, atau kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan warga.

“Sudah mulai kacau nih keresahan Ojol. Kayaknya sih mending begitu, ke rumah pejabat aja dah. Hehehehe,” ujar Kuple.

Sialnya lagi, katanya, warga sendiri yang malah disuruh bergotong-royong menyediakan tempat isolasi bagi anggota masyarakat yang positif kena Virus Corona. Alangkah sadisnya negeri ini terhadap warganya sendiri.

“Lah, masa jadi warga sendiri yang bergotong-royong nyediakan tempat isolasi bagi yang positif Corona? Bukankah gedung-gedung pemerintah dan milik Negara banyak yang kosong? Villa-villa pejabat dan milik pemerintah juga banyak tuh. Mengapa tak disana aja dipakai untuk tempat isolasi? Wah makin kacau nih,” ujar Jepri Kuple.

Kuple belum tahu langkah apa lagi yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi kehidupan yang kian sulit itu. Dia men-share beberapa karikatur, tentang kondisi masyarakat akibat Pandemi Virus Corona. Siapa tahu berguna untuk memotivasi atau berharap akan ada perubahan kondisi yang lebih baik. “Berdoa di rumah aja,” tutupnya.

Sementara, Hendro Wijaya, salah seorang Grab Biker yang masih beroperasi di wilayah Cakung, Jakarta Timur, juga mengeluhkan kondisinya. Dia mendengar, pemerintah akan menyalurkan dana Jaring Pengaman Sosial untuk menolong warga yang miskin, yang sangat membutuhkan.

Namun, Hendro Wijaya pesimis, dana miliaran bahkan triliunan rupiah itu tak sampai ke orang-orang miskin dan yang membutuhkan.

“Saya butuh itu. Tapi, seperti yang udah-udah, dana bantuan begitu malah diberikan ke saudara-saudaranya pejabat itu. Diberikan ke orang-orang yang malah berkecukupan. Nanti, laporannya ke atas, sudah beres dibagikan. Kan kacau begitu,” ujarnya.

Hendro berharap, distribusi anggaran Jaring Pengaman Sosial itu, sungguh diawasi dan diberikan kepada warga miskin dan kurang mampu. Kalau perlu, Ojol dilibatkan untuk melakukan distribusi.

“Jangan yang itu-itu lagi, itu-itu lagi yang dapat. Kan kacau itu jika masih begitu. Bisa ngamuk dong warga,” cetusnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan