Soal Gempa Bumi, BMKG Minta Masyarakat Diedukasi Secara Tepat

Hampir Seluruh Wilayah Indonesia Berpotensi Terjadi Gempa

Hampir Seluruh Wilayah Indonesia Berpotensi Terjadi Gempa, BMKG Minta Masyarakat Diedukasi Secara Tepat. Foto: Kepala Sub Bidang Informasi Gempa Bumi BMKG, Bapak Nova Heryandoko ketika ditemui di Gedung C, Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (11/03/2020).(Istimewa).
Hampir Seluruh Wilayah Indonesia Berpotensi Terjadi Gempa, BMKG Minta Masyarakat Diedukasi Secara Tepat. Foto: Kepala Sub Bidang Informasi Gempa Bumi BMKG, Bapak Nova Heryandoko ketika ditemui di Gedung C, Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (11/03/2020).(Istimewa).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengakui hamper seluruh wilayah Indonesia terdeteksi berpotensi terjadi gempa. Dengan prediksi beragam. Mulai dari skala kecil bahkan sangat besar pun ada. Di dasar laut juga gempa bumi bisa terjadi.

Oleh karena itu, masyarakat perlu diedukasi secara tepat untuk menyadari bahwa Bumi Indonesia memang berpotensi gempa, dan tidak perlu dipenuhi rasa cemas atau takut, jika sudah mengerti dan mengetahuinya.

Hal itu ditegaskan Kepala Sub Bidang Informasi Gempa Bumi BMKG, Bapak Nova Heryandoko ketika ditemui di Gedung C, Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (11/03/2020).

Menurut Heryandoko, pengetahuan dan sosialisasi bahwa wilayah-wilayah Indonesia memiliki potensi-pontesi gempa bumi, akan membantu masyarakat memperoleh informasi dini dan tidak perlu dengan kecemasan berlebihan.

“Masyarakat perlu diedukasi mengenai wilayah Indonesia dengan pesebaran pemetaan gempa bumi. Tidak perlu cemas. Sebab, tak semua gempa bumi itu seperti yang dikhawatirkan,” tutur Nova Heryandoko.

Paling tidak, menurut Nova Heryandoko, untuk wilayah Indonesia, dan hampir seluruh dunia juga begitu, terdapat dua jenis gempa. Pertama, sesar atau patahan. Dua, subduksi. Sesar dalap dijelaskan, berupa sayatan. Untuk mempermudah pemahaman, gempa sesar adalah mirip sayatan ketika melakukan operasi sesar pada manusia.

Sedangkan subduksi, berupa benturan dua lempengan besar. “Subduksi yang paling berpotensi bisa menimbulkan tsunami,” ujar Nova Heryandoko.

Nah, gempa bumi yang terjadi di Sukabumi, Jawa Barat kemarin, jelasnya, adalah jenis sesar.

Mengenai kerusakan yang ditimbulkan gempa bumi, Nova Heryandoko mengatakan bhawa BMKG tidak berwenang menghitung kerugian.

“Kami hanya melakukan deteksi dini. Kalau soal kerugian atau menghitung kerusakan yang diakibatkan gempa, itu biasanya ke BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana),” ujarnya.

Saat ini, dikatakannya, Indonesia memiliki alat pendeteksi gempa yang cukup canggih. Seismometer buatan Jerman. Jumlahnya mencapai 372 unit yang ditempatkan di wilayah-wilayah di seluruh Indonesia, terutama di lokasi yang memiliki potensi terjadinya gempa bumi.

Seismometer buatan Jerman itu, menurutnya, termasuk alat yang tercanggih hingga saat ini. Indonesia memilikinya sejak penanganan gempa dan tsunami Aceh pada 2004 lalu. Saat itu, Bangsa Jerman bekerjasama dengan Indonesia untuk mengatasi bencana tsunami Aceh.

Untuk proses pendeteksian dini, BMKG melakukan pemantauan selama 24 jam. Petugas di BMKG bekerja dua shif. Siang dan malam. Setiap informasi dari seismometer direkam dan dicatat.

Jika kekuatannya sudah mencapai 5 skala richter, maka BMKG segera mengirimkan informasi, mengeluarkan press release dan menyebar informasi terjadinya gempa bumi itu secara rinci. Karena memang, BMKG hanya bertugas melakukan pemantauan dan deteksi dini. Hasilnya harus ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait yang berwenang untuk menindaklanjutinya.

“Memang itu sudah ketentuan di BMKG. Kalau kekuatan gempanya di bawah 5 skala richter, tidak diumumkan. Karena yang dianggap gempa itu adalah yang kekuatannya mencapai 5 skala richter,” tutur Nova Heryandoko.

Kemudian, begitu gempa terjadi, BMKG harus sudah menyebarkan informasi itu segera. “Penyebaran informasinya tidak boleh lebih dari 5 menit. Segera. Sebelum 5 menit harus sudah disampaikan informasi adanya gempa bumi itu,” jelasnya.

Apabila ada kerusakan ada menimbulkan dampak parah pasca gempa, dia mengatakan, jika kekuatannya masih 5 skala richter maka perlu ditelusuri mengapa parah dampaknya. Sebab, gempa dengan kekuatan 5 skala richter biasanya tidak akan menimbulkan korban.

“Misalnya, rumah hancur, rubuh dan lain sebagainya. Itu dampak dari gempa. Nah, perlu ditelusuri, apakah masyarakat tahu tanah atau lokasi rumah itu lembek atau memang berada di jalur sesar? Ataukah karena factor bangunannya yang lapuk? Itu semua bisa ditelusuri. Masyarakat seharusnya tak mendirikan rumah dengan bahan yang mudah lapuk, dan jangan di zona atau jalur sesar gempa,” jelas Nova Heryandoko.

Oleh karena itulah, menurut dia, BMKG bukan untuk menanggulangi gempa bumi, namun berfungsi memberikan deteksi dini. Agar ke depan, masyarakat sudah mengerti dan tahu bahwa gempa bisa saja terjadi di zona-zona yang terdeksi. Sehingga masyarakat pun harusnya sudah siap dengan segala resiko dan situasi yang memungkinkan terjadi.

Selasa, 09 Maret 2020, terjadi gempa bumi di Sukabumi, Jawa Barat. Gempa itu menimbulkan kerusakan parah pada sejumlah bangunan dan rumah.

Berdasarkan potensi hasil kajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), wilayah pesisir Sukabumi termasuk zona megathurst yang dapat memicu gempa dan tsunami.

Menurut Kepala Pusat Gempabumi dan Tsuni BMKG, Rahmat Triyono, wilayah pesisir Sukabumi secara tektonik berhadapan dengan zona megathurst Samudera Hindia.

Zona megathurst ini merupakan zona subduksi lempeng aktif dengan aktivitas kegempaan yang tinggi. Catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah selatan Jawa Barat dan Banten sudah beberapa kali terjadi gempa kuat, seperti pada 22 Januari 1780 (M 8,5), 27 Februari 1903 (M 8,1), dan 17 Juli 2006 (M 7,8).

Hasil kajian BMKG yang dilakukan pada tahun 2011 menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Sukabumi memiliki magnitudo gempa tertarget hingga M 8,7.

Hasil pemodelan peta tingkat guncangan gempa (shakemap) oleh BMKG dengan skenario gempa dengan kekuatan M 8,7 di zona megathrust, menunjukkan dampak gempa di Sukabumi dapat mencapai skala intensitas VIII-IX MMI yang artinya dapat merusak bangunan.

“Jika besaran magnitudo M 8,7 ini digunakan untuk masukan skenario model tsunami, maka wilayah Pantai Sukabumi diperkirakan berpotensi mengalami status ancaman “AWAS” dengan tinggi tsunami di atas 3 meter,” imbuh Daryono selaku Kepala Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG.

Hal terpenting yang harus dipahami masyarakat, skenario gempa berkekuatan M 8,7 adalah potensi hasil kajian. Ini bukan prediksi. Perlu diingat, meski kajian ilmiah mampu menentukan potensi magnitudo di zona megathrust, akan tetapi hingga saat ini teknologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan gempa akan terjadi.

Daryono menambahkan, kajian potensi bahaya sangat penting dilakukan untuk tujuan mitigasi dan pengurangan risiko bencana.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan