Breaking News

Singkirkan Islamofobia, Kelas Menengah Muslim Bisa Jadi Solusi Pragmatisme Politik Indonesia

Diskusi dan Bedah Buku “Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia”, yang digelar Serikat Rakyat Indonesia (Serindo), di Jalan H Khair No 41, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (24/11/2018).

Kelas Menengah Muslim Indonesia mampu menyingkirkan Islamofobia atau prasangka atau diskriminasi terhadap Islam atau Muslim di Tanah Air.

Peneliti Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati mengungkapkan, perbincangan mengenai kelas menengah muslim Indonesia dalam ruang sosial-politik kekinian menghasilkan sejumlah temuan penting.

Dibandingkan dengan segmen kelas menengah Indonesia pada umumnya, karakter dan pola kelas menengah muslim memiliki keunikan tersendiri.

“Keunikan itu terletak pada pegangan prinsip nilai-nilai agama dan juga kolektivisme. Itu merupakan bentuk dari anomali persepsi terhadap kelas menengah yang pada umumnya berkiblat ke Barat,” tutur Wasisto Raharjo Jati, dalam Diskusi dan Bedah Buku “Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia”, yang digelar Serikat Rakyat Indonesia (Serindo), di Jalan H Khair No 41, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (24/11/2018).

Wasisto Raharjo Jati menyampaikan, dalam banyak pengalaman sejarah, kelas menengah tampil sebagai kekuatan pembaharu dan juga kekuatan politik masyarakat.

Wasisto yang juga Penulis Buku ‘Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia’ melihat, derajat politik kelas menengah Indonesia masih terjebak antara kepentingan politis dan pragmatis.

“Secara politis, kelas menengah muslim ingin mendapatkan rekognisi dan representasi dari negara, namun bertindak pragmatis, yakni masih berupaya untuk mendapatkan perlakuan istimewa dari negara,” ujarnya.

Memang, lanjut dia, ambilavensi masih menggejala di kalangan kelas menengah Indonesia. Secara historis, menurut Wasisto, kelas menengah muslim adalah kelompok masyarakat yang selama ini dianggap minoritas. “Namun kini mencoba untuk bangkit, tampil dalam ruang sosial politik, meskipun masih mencari bentuk,” ujarnya.

Dunia Islam yang selama ini didera islamofobia, lanjut dia, perlahan tersingkirkan dengan peran-peran dan kedudukan kelas menengah muslim di masyarakat yang lebih humanis dan egaliter.

“Perkembangan dan diseminasi nama Islam yang sedemikian meluas menjadikan Islam tidak dipandang lagi sebagai sebuah agama an sich, tetapi berkembang menjadi nilai, prinsip, norma, bahkan juga berkembang dalam bentuk budaya populer,” tutur Wasisto.

Dijelaskan dia, di bukunya yang diterbitkan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) itu pun menjelaskan, pola Islamisasi yang terjadi dengan terbentuknya kelas menengah muslim Pasca-Orde Baru menunjukkan bahwa popularitas Islam kini diterima secara inklusif dan menyeluruh.

“Publik kini sudah tidak merasa terancam, dan tidak merasa takut lagi manakala mendengar kata Islam, yang dulu disitigmatisasi sebagai radikalisme,” ujar Wasisto.

Di tempat yang sama, Peneliti Megawati Institute, Dida Darul Ulum mengatakan, ajaran Islam harus dimaknai dan dijalankan sebagai bentuk nilai-nilai kemanusiaan. Di Indonesia, ajaran Islam yang diketengahkan oleh kelas menengah muslim dengan bersahabat.

“Muslim Indonesia mesti meneladani perilaku, sikap dan tindakan Nabi Muhammad SAW yang tidak mengedepankan konflik, namun pada ajaran samawi yang diterima semua kalangan yang beragam latar belakang,” ujarnya.

Sementara itu, menanggapi Buku Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia yang ditulis Wasisto Raharjo Jati itu, Editor Scripture Union Indonesia Rinto F Pangaribuan mengatakan, buku tersebut menyuguhkan sebuah kelas menengah yang sederajat tanpa memandang perbedaan Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

“Yakni sebuah kelas menengah yang sedang mencari jatidiri, eksistensi, namun tidak mau kehilangan kesalehan agama,” ujar Rinto.

Ketua Umum DPP Serikat Rakyat Indonesia (Serindo) Jones Batara Manurung menambahkan, masyarakat Indonesia harus tetap membuka ruang-ruang dialog untuk menyelesaikan berbagai persinggungan atau konflik yang muncul di masyarakat.

“Kita harus tetap melakukan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran massa rakyat akan hak-hak sosial, ekonomi, dan politiknya sebagai warga negara Indonesia,” ujarnya.

Dia menyatakan, seperti yang dipaparkan dalam kajian maupun temuan di Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia yang ditulis Wasisto Raharjo Jati itu, kelas menengah muslim Indonesia merupakan segmen kelas menengah yang spesial.

Kelas menengah itu lahir dari adanya otoritarianisme, ketimpangan dan alineasi terhadap Islam. “Ini merupakan implikasi dari rivalitas kelompok Nasionalis dan Islam dalam merengkuh kekuasaan politik di Indonesia,” ujarnya.

Sifat spesial yang melekat pada kelompok menengah ini karena mereka adalah menengah ideologis yang mengedepankan nilai-norma-prinsip Islam dalam kehidupan. Karena itu mereka memiliki tingkat kohesivitas sosial politik lebih kuat ketimbang kelas menengah lainnya.

Secara simultan, mereka bisa menjadi kelompok kepentingan dan kelompok penekan dalam upaya memperjuangkan kepentingan kolektif. Namun, mereka tetap tampil koeksisten dengan elemen masyarakat Indonesia.

“Adanya konstelasi internasional juga berpengaruh penting dalam menentukan agenda perubahan sosial politik kelas menengah muslim,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*