Simpel Kok, Ingin Ketemu Presiden Jokowi dan Ikut Upacara 17 Agustus di Istana Negara, Ratusan Petani Simalingkar Sumut Lanjutkan Aksi Long March ke Jakarta

Simpel Kok, Ingin Ketemu Presiden Jokowi dan Ikut Upacara 17 Agustus di Istana Negara, Ratusan Petani Simalingkar Sumut Lanjutkan Aksi Long March ke Jakarta. – Foto: Sebanyak 170 petani dari Simalingkar, Medan, Sumatera Utara (Sumut) melanjutkan aksi jalan kaki atau long march dari Sumut menuju Jakarta.(Ist)
Simpel Kok, Ingin Ketemu Presiden Jokowi dan Ikut Upacara 17 Agustus di Istana Negara, Ratusan Petani Simalingkar Sumut Lanjutkan Aksi Long March ke Jakarta. – Foto: Sebanyak 170 petani dari Simalingkar, Medan, Sumatera Utara (Sumut) melanjutkan aksi jalan kaki atau long march dari Sumut menuju Jakarta.(Ist)

Pekanbaru, Sinarkeadilan.com – Sebanyak 170 petani dari Simalingkar, Medan, Sumatera Utara (Sumut) melanjutkan aksi jalan kaki atau long march dari Sumut menuju Jakarta.

Keinginan para petani yang tanahnya dirampas PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa itu simpel saja. Ingin bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo dan mengikuti Upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus di Istana Negara.

Dengan begitu, petani yang tergabung dalam Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) itu bisa menyampaikan langsung dan dengan sebenar-benarnya persoalan yang sedang mereka hadapi.

Salah seorang Petani bernama Tarigan, yang ikut dalam barisan aksi long march itu mengatakan, tanah para petani yang dirampas pihak PTPN II Tanjung Morawa itu harus dikembalikan.

“Saya sudah tinggal lebih dari 30 tahun, saat ini juga lahan kami itu sudah menjadi hutan, ditumbuhi semak belukar di sana. Kami ingin membangun rumah kami kembali di tanah kami. Mengapa kami yang digusur?” ujar Tarigan kepada Sinarkeadilan.com, saat rombongan petani itu sedang beristirahat di Base Camp Sementara, di Komplek Ruko Purna MTQ, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Selasa (21/07/2020).

Simpel Kok, Ingin Ketemu Presiden Jokowi dan Ikut Upacara 17 Agustus di Istana Negara, Ratusan Petani Simalingkar Sumut Lanjutkan Aksi Long March ke Jakarta. – Foto: Para petani dari Simalingkar, Medan, Sumatera Utara (Sumut) yang menggelar aksi jalan kaki atau long march sedang istirahat di Base Camp Sementara, di Komplek Ruko Purna MTQ, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Selasa (21/07/2020). (Ist)
Simpel Kok, Ingin Ketemu Presiden Jokowi dan Ikut Upacara 17 Agustus di Istana Negara, Ratusan Petani Simalingkar Sumut Lanjutkan Aksi Long March ke Jakarta. – Foto: Para petani dari Simalingkar, Medan, Sumatera Utara (Sumut) yang menggelar aksi jalan kaki atau long march sedang istirahat di Base Camp Sementara, di Komplek Ruko Purna MTQ, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Selasa (21/07/2020). (Ist)

Para petani yang sejak tanggal 25 Juni 2020 lalu mulai menggelar aksi jalan kaki dari Sumatera Utara itu, sedang menuntut hak-hak mereka yang terampas. Kini, rombongan petani sudah memasuki Pekanbaru, Riau. Melakukan long march dari Kawasan MTQ menuju wilayah Labersa, melewati Jalan Parit Indah Pekanbaru.

Para petani ini telah melakukan perjalanan dari perbatasan Sumatera Utara  ke Provinsi Riau. Yakni Kabupaten Batu Bara melewati Kabupaten Rokan Hilir, dan selanjutnya melakukan perjalanan menggunakan Truk hingga sampai di Pekanbaru.

“Ya, sebelum tiba di Pekanbaru ini, kita sempat menginap di Terminal Lama Kabupaten Batubara,” ujarnya.

Penanggungjawab Aksi, yang juga Dewan Pembina Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB), Aris Wiyono menyampaikan, salah satu tujuan rombongan petani berjalan kaki menuju Jakarta adalah untuk mengikuti Upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus di Istana Merdeka.

“Sembari nantinya menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo terkait masalah yang dialami para petani di Desa Simalingkar. Hingga kini, petani masih dijajah oleh bangsanya sendiri. Oleh sebab itu kita ingin sampaikan hal ini kepada Bapak Presiden Jokowi,” ujar Aris Wiyono, ketika dikonfirmasi Sinarkeadilan.com lewat sambungan video call.

Menurut Aris, pihak PTPN II Tanjung Morawa sudah mengkriminalisasi para petani. Dengan cara-cara yang melanggar aturan dan hukum maupun perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

“Perusahaan Milik Negara seharusnya  mensejahterakan para patani yang mana adalah rakyat Indonesia itu sendiri. Dan, bukan untuk mengkriminalisasi para petani,” tandas Aris.

Dalam melanjutkan aksi long march, para petani berjalan beriringan dengan mendapat pengawal dari Kepolisian.

Tidak kurang dari 170 petani dari berbagai usia menggelar aksi jalan kaki dari Medan menuju Ibukota Negara, Jakarta.

Para petani yang berjalan kaki itu adalah korban konflik agraria dengan PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II) Tanjung Morawa, Sumatera Utara.

Para petani yang tergabung dalam Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) melakukan aksi jalan kaki dari Medan, Sumatera Utara menuju Istana Negara di Jakarta untuk mencari keadilan.

Para petani itu memulai aksi jalan kaki pada 25 Juni 2020. Mereka bergerak dari Simalingkar, Kecamatan Pancur, Kabupaten Deli Serdang.

Bukan hanya petani yang masih muda dan segar bugar yang menjadi korban konflik agraria dengan PTPN II ini. Para lansia dan usia senja seperti Nenek Sura Beru Sembiring berusia 63 tahun dan Kakek Wagiran Atmadja berusia 76 tahun pun ikut memperjuangkan mencari keadilan dengan berjalan kaki ke Jakarta.

Mereka ikut aksi jalan kaki yang dimulai dari Dusun Bekala, Desa Simalingkar A dan Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, ke Jakarta.

Sura Beru Sembiring (63) dan Wagiran Atmadja (76), mengaku rela berjalan kaki ke Jakarta untuk mengadukan nasibnya kepada Jokowi. Kedua kakek dan nenek ini yakin, perjuangan mereka ini akan membuahkan hasil yang diharapkan para petani.

“Sejak orang tua saya masih hidup pada zaman Belanda, saya termasuk pelaku sejarah. Kami sudah mengadukan permasalahan ini ke Menteri, DPR RI, kalau soal ke Gubernur Sumut, jangan ditanyakan lagi sudah berkali-kali kami sampaikan. Makanya kami nekad jalan kaki hingga ke Istana Negara,” tutur Kakek Wagiran Admadja yang diamini Nenek Sura Beru Sembiring.

Nenek Sura Beru Sembiring yakin, jika sudah tiba di Jakarta dan menyampaikan persoalannya ke Presiden Joko Widodo, para petani akan mendapatkan haknya.

“Kami perkirakan Bulan Agustus mendatang. Karena kami yakin perjuangan kami akan membuahkan hasil,” ujar Nenek Sura Beru Sembiring.(Jhonny M)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan