Sikapi Bahaya Rencana Penambahan Kodam di Seluruh Indonesia; Hentikan Rencana Penambahan Kodam di 38 Provinsi, Presiden Jokowi Diminta Evaluasi Menteri Pertahanan

Sikapi Bahaya Rencana Penambahan Kodam di Seluruh Indonesia; Hentikan Rencana Penambahan Kodam di 38 Provinsi, Presiden Jokowi Diminta Evaluasi Menteri Pertahanan

- in DAERAH, DUNIA, EKBIS, HUKUM, NASIONAL, POLITIK, PROFIL
627
0
Foto: Salah satu momen diskusi di IMPARSIAL. (Net)Foto: Salah satu momen diskusi di IMPARSIAL. (Net)

Masyarakat Sipil menolak rencana penambahan Komando Daerah Militer (Kodam) di 38 Provinsi yang ada di Indonesia.

Masyarakat Sipil dari Imparsial, yaitu sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak mengawasi dan menyelidiki pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), meminta kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, agar segera mengevaluasi Menteri Pertahanan (Menhan) karena mendorong adanya rencana penambahan Kodam, untuk seluruh Provinsi di Indonesia.

Direktur Imparsial, Gufron Mabruri, menyampaikan, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tetap bersikukuh untuk melanjutkan rencana penambahan Komando Daerah Militer (Kodam) di seluruh Provinsi Indonesia meskipun banyak kritik dan penolakan dari berbagai kalangan.

Dia mengatakan, juru bicara Menteri Pertahanan, Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan penambahan struktur teritorial TNI AD tersebut penting untuk memperkuat pertahanan Indonesia.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Hamim Tohari menyampaikan bahwa TNI AD telah mengirimkan surat ke Mabes TNI dan rencana penambahan Kodam di tiap provinsi prosesnya sekarang ada di Mabes TNI.

“Imparsial memandang, langkah Kemenhan yang terus melanjutkan rencana penambahan Kodam di tiap Provinsi menunjukkan Pemerintah tidak memiliki visi yang reformis di bidang pertahanan Negara, khususnya untuk menjaga dan mengawal Reformasi TNI sebagai aktor penting di dalamnya,” tutur Gufron Mabruri dalam siaran pers yang diterima Jumat (26/05/2023).

Menurutnya, alih-alih akan memperkuat pertahanan Negara, penambahan Kodam di tiap Provinsi mengkhianati Amanat Reformasi TNI 1998 dan justru berdampak buruk terhadap kehidupan demokrasi.

Gufron Mabruri menegaskan, penambahan Kodam menunjukkan masih kuatnya orientasi pembangunan postur dan gelar kekuatan TNI yang lebih banyak ditujukan dan diorientasikan inward looking, bukan outward looking dengan dominannya persepsi ancaman internal.

“Hal ini berimplikasi pada kecenderungan terlibatnya militer dalam kehidupan politik, dan sebagai konsekuensinya sulit untuk menciptakan TNI sebagai alat pertahanan negara yang kuat, profesional, dan modern,” sebut Gufron Mabruri.

Penting dicatat, dia melanjutkan, Agenda Reformasi TNI 1998 telah mengamanatkan kepada otoritas politik, dalam hal ini Pemerintah dan DPR untuk merestrukturisasi komando teritorial, yaitu eksistensi Kodam hingga Koramil di level yang paling bawah.

“Pelaksanaan agenda tersebut senafas dengan upaya penghapusan peran sosial-politik ABRI/TNI yang didorong pada tahun 1998, mengingat pengalaman historis di era Orde Baru ia lebih berfungsi sebagai alat politik kekuasaan, bukan untuk pertahanan Negara,” terangnya.

Penghapusan Koter secara tersirat telah diamanatkan dalam Penjelasan Pasal 11 Ayat (2) UU TNI menyatakan bahwa “dalam pelaksanaan penggelaran kekuatan TNI, harus dihindari bentuk-bentuk organisasi yang dapat menjadi peluang bagi kepentingan politik praktis. Pergelarannya tidak selalu mengikuti struktur administrasi pemerintahan.”

Dengan dasar tersebut, eksistensi komando teritorial mestinya dihapuskan, bukan ditambah dan disesuaikan mengikuti jumlah Provinsi di Indonesia.

“Imparsial menilai, penambahan Kodam di semua provinsi sesungguhnya lebih menyiratkan adanya sebuah kehendak untuk melanggengkan politik dan pengaruh militer, khususnya matra darat dalam kehidupan politik dan keamanan dalam negeri seperti zaman Orde Baru dari pada bertujuan memperkuat peran TNI dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai alat pertahanan Negara,” tuturnya lagi.

“Dengan masih kuatnya persepsi ancaman internal dan orientasi inward looking, prajurit TNI yang ditempatkan dan mengisi struktur teritorial tersebut, mulai dari Kodam hingga Koramil akan lebih banyak disibukkan untuk mengurusi persoalan politik, sosial masyarakat dan isu keamanan dalam negeri, bukan fokus ke tugas pokoknya dalam menghadapi ancaman eksternal dari Negara lain,” beber Gufron melanjutkan.

Dengan semakin menguatnya Koter, ruang dan kecenderungan bagi militer untuk berpolitik menjadi tinggi.

Secara organisasional, Koter dibangun dengan asumsi pembagian administrasi pemerintahan, karena itu strukturnya menduplikasi birokrasi pemerintahan dari pusat sampai daerah hingga di level yang paling rendah.

Dengan struktur semacam itu, pimpinan atau komandan Koter dapat terlibat secara langsung dengan Pemerintah Daerah, termasuk untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan di Daerah.

“Aparat teritorial akan lebih banyak bertugas atau berkaitan dengan urusan politik, keamanan dalam negeri, dan pemerintahan sipil. Pengalaman historis juga menunjukkan Koter menjadi instrumen kontrol terhadap masyarakat, termasuk misalnya digunakan dalam menghadapi konflik agraria yang terjadi di Daerah,” terang Gufron Mabruri.

Lebih jauh, eksistensi komando teritorial tidak lagi memiliki relevansi dan signifikansi dengan konteks ancaman yang dihadapi secara geografi Indonesia sebagai Negara Kepulauan.

Struktur Koter sebagai bagian dari postur pertahanan dan gelar kekuatan TNI harus diganti dengan model yang konstektual yang diharapkan mampu merespon situasi perkembangan ancaman yang bersifat dinamis dan mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Oleh karena itu, berdasarkan pandangan tersebut, Imparsial mendesak beberapa poin kepada Presiden Republik Indonesia.

Pertama, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemenhan) harus menghentikan rencana penambahan Kodam di semua Provinsi Indonesia.

Selain tidak berkontribusi memperkuat pertahanan Negara, penambahan Kodam hanya akan menimbulkan sengkarut pengelolaan keamanan dalam negeri dan berdampak buruk bagi demokrasi.

“Lebih dari itu, penambahan Kodam untuk seluruh provinsi di Indonesia juga sebagai bentuk pemborosan anggaran pertahanan Negara di tengah terbatasnya anggaran untuk pemenuhan dan modernisasi alutsista kita saat ini,” sebut Gufron.

Kedua, Pemerintah dan DPR segera melakukan restrukturisasi komando teritorial (Kodam hingga Koramil) dan digantikan dengan model postur dan gelar kekuatan militer yang lebih kontekstual dengan dinamika ancaman dan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Ketiga, dalam upaya mendorong reformasi sektor keamanan, khususnya militer, Presiden harus mengevaluasi Menteri Pertahanan (Menhan) mengingat banyak kebijakan yang dibuat Menteri Pertahanan memundurkan agenda reformasi TNI 1998, termasuk salah satunya rencana penambahan Kodam di seluruh Provinsi,” tandas Gufron Mabruri.(RED)

 

Contact Person:

  1. Gufron Mabruri +62 815-7543-4186
  2. Ardi Manto Adiputra +62 812-6194-4069
  3. Hussein Ahmad 081259668926

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Seruan PARKINDO di Hari Lahir Pancasila: Hentikan Identitas Politik Suap dan Transaksional

Suap janganlah kau terima, sebab suap membuat buta