Sewenang-wenang Pecat Guru Sekolah Minggu, Pendeta Ramlan Hutahaean dan Pejabat HKBP Rawamangun Harus Ditindak Tegas

Kriminaliasi dan Penganiayaan Pelayanan Guru Sekolah Minggu HKBP Rawamangun

Kriminaliasi dan Penganiayaan Pelayanan, Sewenang-wenang Pecat Guru Sekolah Minggu, Pendeta Ramlan Hutahaean dan Pejabat HKBP Rawamangun Harus Ditindak Tegas.

Telah terjadi dugaan kriminalisasi dan penganiayaan pelayanan terhadap Guru Sekolah Minggu di HKBP Rawamangun, Jakarta Timur.

Pimpinan gereja dan sejumlah pejabat gereja di tempat itu disebut telah memecat seorang pelayan gereja yakni seorang Guru Sekolah Minggu (GSM) bernama Nana Ratna Sianturi. Dasar pemecatan tidak jelas dan cenderung dikarenakan arogansi pejabat gereja.

Ketua Pusat Bantuan Hukum Advokasi Masyarakat (PBHAM) Anggiat Gabe Maruli Sinaga mengungkapkan, Nana Ratna Sianturi telah dilecehkan, dan secara sporadis dikriminaliasi oleh pimpinan HKBP Rawamangun dan sejumlah pejabat gereja itu.

“Ito Nana Sianturi telah mengalami kriminalisasi, didiskreditkan, dihantam dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar, tuduhan-tuduhan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, lalu memecatnya dari pelayanan tulusnya sebagai Guru Sekolah Minggu di HKBP Rawamangun. Ini bentuk penganiayaan terhadap pelayan Kristus kepada jemaat HKBP oleh pimpinan gereja dan sejumlah pejabatnya sendiri,” ungkap Anggiat Gabe Maruli Sinaga, di Jakarta, Minggu (06/01/2019).

Lebih lanjut, advokat yang mendampingi Nana Ratna Sianturi ini menjelaskan, sejumlah upaya dan niat baik telah dicoba dilakukan untuk menyelesaikan persoalan ini. Anggiat Gabe bahkan telah membangun komunikasi dengan Pimpinan Gereja HKBP Rawamangun Pendeta Ramlan Hutahaean, namun tidak digubris.

“Kami juga sudah mengirimkan somasi kepada pimpinan gereja HKBP Rawamangun. Tidak ditanggapi. Malah nantangin, dan membangun opini buruk terhadap keberadaan Ito Nana. Dengan sikap melecehkan, pimpinan HKBP Rawamangun dan para pejabatnya yang pro Ramlan Hutahaean makin menjadi-jadi melakukan pelecehan lewat ucapan, sikap dan pembangunan opini di sejumlah jemaat,” bebernya.

Anggiat Gabe Maruli sangat menyayangkan sikap Pendeta dan para pejabat HKBP Rawamangun yang tidak mencerminkan sebagai Pelayan Kristus. Menurut dia, para begundal bertopeng dan berjubah, yang kini duduk sebagai pejabat di HKBP Rawamangun itu telah merusak pelayanan dan keimanan jemaat.

Oleh karena itu, lanjutnya, masih tak lelah mengedepankan pendekatan Kasih, persoalan ini pun harus diungkap ke publik, serta para pimpinan HKBP di Pusat, maupun gereja-gereja di seluruh dunia perlu tahu, betapa di HKBP bercokol para begundal, para serigala berbaju toga pendeta, yang harus ditindaktegas.

“Kita tidak mau para penjahat, para begundal dan para pendosa berat itu memakai jubah kekudusan untuk menutupi kebobrokan dan pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukannya. Ini harus disetop. Ditindak tegas. Gereja kok dijadikan lahan kekuasaan bagai perusahaan miliknya pribadi,” tutur Anggiat Gabe.

Dia pun meminta seluruh jemaat HKBP di seluruh penjuru dunia untuk melihat dan mengetahui persoalan yang sesungguhnya. Kepada pimpinan tertinggi HKBP, dia juga berharap agar persoalan ini diselesaikan dengan sebaik-baiknya, dan menindaktegas para oknum pelayan gereja yang brengsek.

“Kita juga sudah mempersiapkan surat, berkirim surat ke Pimpinan Pusat HKBP agar persoalan ini dibahas dan diselesaikan. Kasihan sekali gereja Batak yang sangat besar ini diisi oleh orang-orang yang menyalagunakan jabatan dan pelayanannya. Ini bukan perusahaan milik pribadi loh,” tuturnya.

Hingga Minggu (06/01/2019), diungkapkan Anggiat Gabe, respon yang diberikan pihak pejabat gereja HKBP Rawamangun adalah menantangi somasi, dan menyatakan siap berhadap-hadapan di proses hukum negara, di pengadilan.

“Ketua Seksi Guru Sekolah Minggu HKBP Rawamangun Hendra Hutabarat mengatakan ke kami, bahwa mereka tidak mau melakukan penyelesaian dengan kasih. Pak Pendeta Ramlan Hutahaean katanya ngotot harus memecat Nana, dan mereka menyatakan siap berpengadilan,” ungkap Anggiat Gabe.

Pemecatan terhadap Guru Sekolah Minggu HKBP Rawamangun Nan Ratna Sianturi terjadi pada 20 Oktober 2018 lalu. Nana sendiri tidak mengerti alasan kuat apa yang dijadikan landasan memecatnya.

“Pada 20 Oktober 2018, saya diberikan Surat Pemberhentian oleh Hendra Hutabarat sebagai Ketua Seksi Sekolah Minggu dan Arnold sebagai anggota seksi sekolah minggu bagian inventaris. Surat Pemberhentian atau pemecatan terhadap saya diberikan di ruangan kelas TK, tanpa ada anggota seksi yang lain, bahkan paniroi  (penasehat) tidak mengetahuinya,” ungkap Nana.

Nana menuturkan, dirinya dengan tulus melayani Kristus dengan menjadi Guru Sekolah Minggu di HKBP. Sepanjang sejarah hidupnya, tidak ada sikap dan perbuatan yang neko-neko yang dilakukannya. Tidak juga ada celah kecil yang bisa dijadikan alat untuk menghakimi dan mengkriminalisasi dirinya.

Nana adalah anak kelima dari enam bersaudara. Lahir di Dumai, 23 Juni 1979. Sejak kecil, Nana sudah menjadi warga jemaat HKBP Dumai Kota. Dia dibesarkan dan bertumbuh di gereja HKBP.

“Orang tua saya menyekolahkan saya dari TK dan SD di salah satu sekolah HKBP bernama Estomihi HKBP yang dinaungi oleh Yayasan  Pendidikan Estomihi HKBP Ressort Dumai,” ujar lulusan 5 terbaik tingkat SD Estomihi saat itu.

Semenjak 1997, Nana terdaftar menjadi warga jemaat di HKBP Rawamangun. Dia aktif di pelayanan Naposobulung. Sebelum menjadi Guru Sekolah Minggu di HKBP Rawamangun, Nana juga aktif menjadi pelayan bagi anak-anak Sekolah Minggu di gereja Tionghoa, atas ajakan temannya.

“Saya ingat ada pertanyaan dan perkataan orang tua saya di tahun 2001, supaya saya mau menjadi pelayan sebagai Guru Sekolah Minggu di HKBP Rawamangun,” ujar Nana.

Di tahun 2004, terjawab sudah. Nana diterima menjadi Guru Sekolah Minggu di HKBP Rawamangun. “Pada saat teduh pribadi, saya berkali-kali saya bertanya kepada Tuhan. Tuhan, apakah aku harus melayani Engkau melalui anak-anak di HKBP Rawamangun?” katanya.

Nana mendaftarkan diri menjadi seorang GSM di HKBP Rawamangun melalui proses tahapan perekrutan resmi, yang disampaikan di Warta Jemaat Gereja HKBP Rawamangun, untuk masa pelayanan 2 tahun.

Bagi Nana, pengabdian itu adalah kebahagian. Mengabdi memberikan yang terbaik untuk Tuhan,  karena Tuhan sudah memberikan yang terbaik kepada dirinya.

“Dengan segala karunia yang diberikan fikiran, tenaga, materi dan semangat dari Tuhan kepada pribadi saya maka saya akan memberikan pelayanan yang terbaik melalui pelayanan sekolah minggu, baik itu melalui penyampaian Firman Tuhan, aktivitas di kelas bersama anak bahkan komunikasi kepada anak,” tuturnya.

Nana mangungkapkan, proses kriminalisasi terhadap dirinya bermula pada 19 Agustus 2018. Salah seorang partner-nya di kelas Sekolah Minggu melaporkan Nana, karena membagikan catatan yang sudah diketikkan.

Padahal, bahan itu berisi bahan ajar yang sesuai dengan buku panduan dan sesuai dengan pengarahan di Sermon Sekolah Minggu yang akan ditempelkan di catatanAnak Sekolah Minggu (ASM).

“Saya dilaporkan untuk dievaluasi keberadaan saya sebagai Guru Sekolah Minggu pada Rapat Evaluasi. Hanya hanya karena saya membagikan catatan yang sudah saya ketikkan berisi bahan ajar yang sesuai dengan buku panduan,” tutur Nana.

Sejak saat itu, Nana kerap menjadi sasaran emosi dan  amarah sejumlah pejabat HKBP Rawamangun. Menurut dia, sejumlah perkataan kotor, amarah, bentak-bentak dan bernada intimidasi diterimanya.

Dalam setiap kali pertemuan, Nana selalu menjadi sasaran, dipojokkan dan dibully. “Sehingga 4 orang Guru Sekolah Minggu HKBP Rawamangun dan teman sepelayanan saya mundur. Bahkan seorang pendeta pendamping sekolah minggu menggundang seluruh orang tua dari anak-anak sekolah minggu untuk memojokkan kami berlima. Kami dihakimi layaknya sedang berada dalam sebuah pengadilan,” ungkapnya.

Pada 23 September 2018, salah satu hari yang tidak bisa dilupakan Nana. Dirinya dimarahi oleh seorang pejabat gereja yang notabene adalah seorang pendeta.

“Tidak pernah saya lupakan seumur hidup saya, kekecewaan yang teramat dalam dan kesedihan melihat seorang Hamba TUHAN, pendamping Sekolah Minggu memarahi, bahkan mengeluarkan statement yang meruntuhkan ekspektasi tinggi yang saya sedari kecil saya lihat di pribadi seorang pendeta  selama ini,” ujarnya.

Amarah Pendeta itu mencuat hanya karena Nana mengajukan sebuah pertanyaan kritis terkait apakah perlu pembakuan terkait notulen rapat di tanggal 2 September 2018. Nana menanyakan dengan santun, apa daya malah maki-makian yang diterimanya sebagai jawaban.

“Dengan marah dan bersahut-sahutan dengan nada tinggi dan membuka kisah 2 tahun lalu, memojokkan saya, mengatakan saya pembohong dan aneh dan secara sepihak memberikan perintah kepada seksi penyusun jadwal pelayanan sekolah minggu untuk tidak dijadwalkan apapun baik itu mengajar, baik itu song leader ataupun praktek sermon,” ungkap Nana.

Nana dipermalukan, dibentak-bentak, dipojok-pojokkan oleh seorang hamba TUHAN. Namun dengan pengendalian diri, Nana tetap tenang dan tidak terpancing emosi.

“Saya sedih dan kecewa, bahkan bertanya kepada TUHAN di setiap saat teduh saya, kenapa saya diperlakukan sampai begini? Setelah kejadian itu saya tetap datang di sermon dan di pelayanan minggu,” ujarnya.

Tanggal 5 Oktober 2018, dalam rapat sermon Sekolah Minggu, kembali membuat hati Nana sedih dan hancur. “Saya dikatakan trouble maker di depan forum sekolah minggu dan diberikan skorsing oleh Pendeta Ressort dengan catatan menemui beliau kapan saja untuk bicara,” ungkapnya lagi.

Setelah membuat janji dan kesepakatan, keesokan harinya, di ruang Pendeta Ressort yang di dalamnya ada juga Calon Pendeta yang bertugas di HKBP Rawamangun saat itu, Nana diberikan sepucuk tulisan hasil notulen pembicaraan sermon pada Jumat sebelumnya.

Tujuan Nana saat itu adalah menanyakan secara langsung apakah dengan kondisi skorsing dirinya masih diperkenankan untuk datang melayani di sekolah minggu setiap minggu dan sermon di setiap Jumat?

Dan Pendetea Ressort memberikan ijin untuk boleh datang di pelayanan dan sebagai pendamping seperti dua tahun lalu. “Layaknya seperti mengemis di ladangnya TUHAN, saya memohon,” ujar Nana.

Keesokan harinya, dirinya diinterogasi oleh Ketua Seksi Sekolah Minggu dan salah seorang seksi sekolah minggu.

Nana dipanggil keluar dari kelas anak sekolah minggu, sewaktu dirinya tengah mendampingi anak-anak sekolah minggu.

“Sontak perhatian anak-anak mengarah ke orang yang menjemput saya. Namun sebelum dipanggil, pintu dibuka setengah dan seksi mengambil dokumentasi saya saat mendampingi anak-anak sekolah minggu,” ujarnya.

Nana pun disuruh masuk ke ruangan rapat guru sekolah minggu. Layaknya seorang pimpinan di perusahaan, Ketua Seksi Sekolah Minggu dan salah seorang seksi sekolah minggu dengan nada tinggi mengatakan, “Kakak, tidak tahu kalau di perusahaan skorsing tidak boleh datang, kenapa kakak datang?”.

“Itu rasanya, layaknya seperti seorang majikan bertanya kepada orang suruhannya. Hati saya berdoa dan katakana, Tuhan ampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” ujar Nana.

Dengan nada yang sedikit menahan rasa sedih, Nana menyampaikan, “Maaf Amang, kemarin saya sudah datang menghadap amang Pendeta Ressort dan beliau mengijinkan saya untuk datang di pelayanan S.M dan sermon,”.

Sampai berkali-kali ditanyakan hal yang sama ke dirinya. Nana menyampaikan “Silahkan amang menanyakan kepada Uluan (Pimpinan Gereja)”.

“Pertanyaan itu terhenti ketika Amang Sintua Paniroi datang ke ruangan, dan seketika itu juga saya kaget, saya langsung disuruh masuk kembali ke kelas oleh Ketua Seksi Sekolah Minggu,” ujar Nana.

Tanggal  6 Oktober 2018, Nana dikeluarkan dari Whatsapp Group (WAG) Pelayanan. Sejak itu, nama Nana pun tidak tertera di daftar kehadiran sekolah minggu, terhitung tanggal 7 Oktober 2018.

Namun, tanggal 13 Oktober 2018, Nana datang melayani dan mendampingi Anak-anak Sekolah Minggu.

Nah, pada  Minggu, 20 Oktober 2018, Nana benar-benar remuk, sedih bercampur bingung dan seperti tidak dapat berkata-kata. Pada pukul 11.00 WIB hari itu,  ketika dirinya masih mendampingi anak-anak pada pelayanan shift ke-2, dia dipanggil ke ruangan kelas yang kosong oleh Ketua Seksi Sekolah Minggu dan salah seorang anggota Seksi, memberikan sepucuk surat di dalam amplop.

“Dan saya didokumentasikan kembali, dan ketika saya baca surat pemberhentian dengan alasan membawa situasi tidak kondusif dan tanggal pemberhentiannya tidak jelas,” ujarnya.

Dia pun bertanya kepada orang-orang yang menurutnya bisa menjelaskan semua itu kepada dirinya. Tapi tak satupun dapat memberikan jawaban.

“Seperti dilempar dan dicampakkan, tidak berarti dan tidak penggembalaan dari seorang gembala,” ucapnya.

Bahkan, sebulan setelah Nana menerima Surat Pemberhentian, sesuai atas arahan Pendeta Ressort kepada Seksi Musik, di mana Nana terlibat pelayanan sebagai seorang operator slide, dirinya diberhentikan sepihak tanpa ada kejelasan.

“Saya tidak mendapatkan penjelasan langsung terkait mengapa saya diberhentikan. Sebagai seorang guru, saya harus mau dikritik dan ditegur karena hidup ini pun sebagai proses belajar. Namun,  jika pun ada kesalahan yang saya telah perbuat, dimanakah penggembalaan dan pembinaan terhadap saya dari seorang gembala? Saya rindu melihat teladan gembala agung yaitu Kristus sungguh−sungguh nyata di setiap pelayan HKBP, yaitu pelayan yang mengklaim dirinya sebagai  pelayan atau seorang hamba Tuhan,” jelasnya.

Nana pun akan bersurat ke sejumlah Pimpinan Tertinggi HKBP. Juga ke sejumlah jejaring yang diharapkan bisa membantunya menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Sejumlah curahan hati dan juga perjalanan persoalan yang dihadapi Nana pun dikirimkan. “Kiranya Tuhan menolong saya,” ujarnya.(JR)

4 Comments

  1. Jangan percaya omongan yg dilontarkan nana sianturi. Saya kenal nana krn sesama pelayan GSM, si nana memang trouble maker dan tukang bohong. Muka bebal, tidak tau malu. Klo sudah punya kasus 2 tahun lalu (2016), udah di suruh resign tetep tebel muka jd GSM, padahal 4 gengnya si nana, lebih memilih keluar jadi GSM.
    Pokoknya si nana itu jahat orangnya, saya saksi hidup yg melihat kelakuan nana saat sermon GSM.

  2. khabar baiknya pendeta tersebut tersandung kasus amoral awal bulan desember 2019 ini, saya adlh jemaat sejak awal berdirinya gereja ini dan sangat sedih dan prihatin dngn apa yg disebut sebagai degradasi kualitas dari pelayan² saat skrg ini yg notabene diutus atau didelegasikan dari pusat, walaupun memang tdk seluruhnya spt itu.
    saat ini saya hanya bisa berdoa sambil menanti apakah kelanjutan dr kasus ini. berdoa dan berdoa semoga gereja ini akan menjadi bait suci yg sesungguhnya utk melayani seluruh jemaatnya. Amen.

    jakarta, 6 desember 2019

  3. khabar baiknya ia kini sedang tersangkut terkait kasus amoral awal desember 2019 ini, tkpnya sendiri menurut sumber adalah di sumut. sebagai anggota jemaat sejak awal berdirinya gereja saya sangat sedih dan prihatin karena sejak beberapa tahun belakangan ini sebagian besar gembala² yg dikukuhkan sbg gembala telah terjadi degradasi dalam kualitas yg notabene mereka adalah utusan dan didelegasikan dari pusat, walaupun memang ada jg diantaranya masih ada yg menjalankan pelayanannya dgn baik dan tulus. sebagai jemaat saya dapat berdoa…dan berdoa semoga Tuhan Allah melalui Roh Kudus menjaga dan memberkati Bait Allah agar dapat senantiasa melayani jemaatnya sepanjang masa tanpa halangan dan rintangan oleh karena kesesatan. Amen.

    jakarta, 8 desember 2019

Tinggalkan Balasan