Setubuhi Anak di Bawah Umur, Pelaku Dihukum Kebiri Plus 20 Tahun Penjara

Setubuhi Anak di Bawah Umur, Pelaku Dihukum Kebiri Plus 20 Tahun Penjara

- in DAERAH, HUKUM, NASIONAL
20
0
Setubuhi Anak di Bawah Umur, Pelaku Dihukum Kebiri Plus 20 Tahun Penjara. - Foto: Pelaku persetubuhan anak di bawah umur di Lampung Timur, bernama Dian Ansori, dihukum kebiri secara kimia, dan kemudian dimasukkan penjara selama 20 tahun.(Ist)Setubuhi Anak di Bawah Umur, Pelaku Dihukum Kebiri Plus 20 Tahun Penjara. - Foto: Pelaku persetubuhan anak di bawah umur di Lampung Timur, bernama Dian Ansori, dihukum kebiri secara kimia, dan kemudian dimasukkan penjara selama 20 tahun.(Ist)

Pelaku persetubuhan anak di bawah umur di Lampung Timur, bernama Dian Ansori, dihukum kebiri secara kimia, dan kemudian dimasukkan penjara selama 20 tahun.

Tindak pidana persetubuhan anak di bawah umur alias fedofil itu terbukti dilakukan oleh Dian Ansori.

Karena itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri Lampung Timur (Kejari Lamtim) telah memastikan penjatuhan hukuman kebiri secara kimia dan penjara 20 tahun itu, setelah menghadiri secara virtual persidangan Pengadilan Negeri Sukadana. Dengan agenda pembacaan Putusan Hakim dalam perkara tindak pidana persetubuhan anak di bawah umur atas nama Terdakwa Dian Ansori.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Leonard Eben Ezer Simanjuntak menyampaikan, awalnya Terdakwa yang bernama Dian Ansori itu merupakan merupakan Pendamping Anak Korban dari Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2PTP2A) Lampung Timur.

Dian Ansori sebenarnya diserahi tanggung jawab untuk melindungi, membimbing dan membina anak-anak korban tindak pidana pencabulan dan atau pemerkosaan.

“Akan tetapi, Terdakwa Dian Ansori justru melakukan pemerkosaan terhadap anak bimbingnnya. Bahkan korban sempat dijual oleh Terdakwa kepada temannya untuk melakukan hubungan badan,” ujar Leonard, di Komplek Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (11/02/2021).

Dalam amar putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sukadana yang dibacakan oleh Ketua Majelis Hakim Eti Purwaningsih, didampingi anggota Anggota Majelis Ratna Widyaning Putri, dan Liswerni Rengsina Debataraja, telah menjatuhkan vonis terhadap Terdakwa Dian Anspori hukuman berat itu.

Putusan Majelis Hakim menyatakan, Terdakwa Dian Ansori, pertama, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana persetubuhan anak di bawah umur, melanggar pasal 81 ayat 1 UU Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2016 menjadi Undang Undang tentang Perlindungan Anak.

Dua, menjatuhkan pidana oleh karenanya dengan pidana penjara selama 20 tahun dan Denda Rp 800 juta, subsidiair 3 bulan  kurungan.

Tiga, menjatuhkan pidana tambahan berupa kebiri secara kimia dan membayar restitusi sebesar Rp 7.700.000,- (tujuh juta tujuh ratus ribu rupiah). Empat, membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp 5 ribu.

Dalam persidangan sebelumnya, Dian Ansori telah dituntut oleh Tim Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Lampung Timur yaitu Ana Marlinawati dan Afina Mariza, dengan amar tuntutan, pertama,  menyatakan Terdakwa Dian Ansori terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana persetubuhan anak di bawah umur, melanggar pasal 81 ayat 1 UU Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2016 menjadi Undang Undang tentang Perlindungan Anak.

Dua, menjatuhkan pidana oleh karenanya dengan pidana penjara selama 15 tahun dan Denda Rp 800 juta, subsidiair 3 bulan  kurungan.

Tiga, menjatuhkan pidana tambahan berupa membayar restitusi sebesar Rp 22.330.000,- (dua puluh dua juta tiga ratus tiga puluh ribu rupiah), jika tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 6 bulan. Empat, membebankan biaya perkara kepada Terdakwa sebesar Rp 5 ribu.

Leonard Eben Ezer Simanjuntak melanjutkan, atas putusan tersebut, Terdakwa Dian Ansori maupun Tim JPU menyatakan pikir-pikir selama 7 hari untuk menentukan sikap atas putusan Pengadilan Negeri Sukadana.

“Masih mikir-mikir, apakah menerima atau melakukan upaya hukum Banding ke Pengadilan Tinggi,” tutup Leonard.(JR)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like