Setahun Lebih Dilaporkan, Polisi Lamban Usut Penganiayaan Aktivis di Danau Toba

Kasus Pengeroyokan Hanya Tetapkan Satu Terdakwa, Persidangan Tetap Digelar, Sandiawara Hukum Terhadap Aktivis Harus Dibongkar.

Aparat Kepolisian dinilai lamban mengusut dugaan penganiayaan yang dialami oleh aktivis di Danau Toba.

Aktivis Lingkungan Hidup Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Jhohannes Marbun alias Joe mengungkapkan, pada Senin, 15 Oktober 2018, 2018 adalah tepat 1 tahun 2 bulan kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan oleh terlapor Jautir Simbolon alias JS dkk terhadap dirinya dan kawannya sesama aktivis. JS diketahui adalah saudara tua kandung Bupati Samosir.

Dijelaskan Joe, penanganan kasus ini berjalan sangat lambat dan hampir terlupakan. “Jika tidak terus-menerus diingatkan kepada aparat penegak hukum. Bahkan sampai saat ini, saya belum menerima salinan SP2HP dari Kepolisian Resort Samosir sebagaimana pada tahun 2017 masih rutin diberikan,” ungkap Joe Marbun, di Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Dia melanjutkan, pemeriksaan terakhir yang dijalaninya bersama dengan korban lain yaitu pada 6-7 November 2017. Pada pemeriksaan itu, dilakukan konfrontasi kepada para saksi lainnya.

Pada saat itu, pihak penyidik di Kepolisiaan Resort Samosir menambahkan pasal yang tadinya hanya penganiayaan tunggal menjadi penganiayaan secara berama-sama atau pasal 170 jo 351 KUHP.

“Namun sejak itu, tidak pernah ada lagi terdengar kabar perkembangan kasus tersebut,” ujar Joe.

Kemudian, minggu lalu pada  8 Oktober 2018, pihak Penyidik menginformasikan kepada Joe bahwa berkas sudah dilimpahkan kembali ke Kejaksaan.

“Kami bersyukur Kepolisian Resort Samosir masih memberikan perhatiannya pada kasus ini setelah terjadi pergantian Kapolres dan beberapa kali Kasat Reskrim.  Kiranya Kepolisian konsisten mengawal kasus ini dan mengungkap pelaku-pelaku lain di luar JS,” tuturnya.

Jika sebelumnya polisi bertahan hanya menetapkan 1 tersangka yaitu JS, maka pada pelimpahan berkas perkara baru ini diharapkan sudah menyertakan tersangka lainnya, sebagaimana didasarkan hasil konfrontir yang dilakukukan pada 6-7 November 2017 lalu.

“Sebab mustahil pemukulan dilakukan oleh 1 orang pelaku sementara korbannya 2 orang,” ujar Joe.

Joe mengungkapkan, dirinya dan kawannya Sebastian Hutabarat yang menjadi korban pemukulan dan penganiayaan itu, waktu  itu tidak berdaya. Dia mengaku tidak bisa melakukan pembelaan karena dipukul oleh beberapa orang.

“Pelaku lainnya memegang kedua tangan saya. Bahkan rekan saya Sebastian Hutabarat sempat diturunkan celananya dan sempat pula disandera oleh para pelaku,” ujarnya.

Joe berharap, penyidik dan aparat penegak hukum benar-benar bekerja profesional dan menegakkan kebenaran dan keadilan.

“Tentu, Polisi selalu punya cara untuk mengungkap tersangka yang berbohong untuk kemudian mengungkapkan kebenaran. Semoga,” harapnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan