Anies Baswedan Berpeluang Besar Jadi Kampiun Pilpres 2024

Semakin Dihambat Semakin Merambat

Direktur Politika Institute, Zainul A Sukrin: Semakin Dihambat Semakin Merambat, Anies Baswedan Berpeluang Besar Jadi Kampiun Pilpres Selanjutnya. Foto: Anies Rasyid Baswedan mendapat Ulos Batak setelah Diulosi oleh Pendeta dan Tokoh Kristen di Jakarta pada sebuah acara belum lama ini. (Istimewa).
Direktur Politika Institute, Zainul A Sukrin: Semakin Dihambat Semakin Merambat, Anies Baswedan Berpeluang Besar Jadi Kampiun Pilpres Selanjutnya. Foto: Anies Rasyid Baswedan mendapat Ulos Batak setelah Diulosi oleh Pendeta dan Tokoh Kristen di Jakarta pada sebuah acara belum lama ini. (Istimewa).

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan disebut memiliki pelung terbesar sebagai kampiun atau pemenang pada Pemilihan Presiden (Pilpres) Indonesia mendatang.

Meski sangat banyak pengeritik dan bahkan buzzer yang anti terhadap Anies, pria yang pernah menjadi Menteri Pendidikan di Kabinet Kerja I Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla ini malah semakin melejit.

Direktur Politika Institute, Zainul A Sukrin mengatakan, Anies Rasyid Baswedan semakin dihambat semakin merambat.

“Membaca peluang Anies dalam Capres 2024 saat ini bukan hal yang prematur. Karena berkembang biaknya kritikan kebijakan dan kinerja Anies dalam menata Jakarta hari ini, syarat dengan status politiknya di 2024. Anies sangat berpeluang menang jika dicapreskan di Pemilu 2024,” tutur Zainul A Sukrin, di Jakarta, Jumat (28/02/2020).

Aktivis PP Muhammadiyah ini menyebut, jika melihat saat ini, maka peluang keterpilihan Anies di Pilpres 2024 begitu besar.

“Cenderung dikuatkan oleh tidak adanya incumbent. Dan Anies padat dengan modal sosial. Jaringan dan daya rekat sosial Anies begitu kuat dan mengakar. Terutama dengan pemilih muslim atau umat Islam. Pengaruh modal sosial Anies ini cenderung dapat mengikat modal politik, dan ekonomi,” prediksi Zainul.

Peluang Anies tersebut, lantas tidak membebaskannya dari hambatan yang signifikan terhadap keterpilihannya. Mengulas budaya dan sosiologi politik sangat penting membaca panggung politik nasional. Terutama budaya politik tradisional dan masalah transaksional politik.

Zainul merinci, ada beberapa prasangka buruk yang selalu dihembuskan oleh lawan-lawan politik Anies saat ini. Seperti, dengan mengkampanyekan bahwa Anies Orang Arab.

Zainul mengatakan, ada tiga mitologi politik yang menjadi pra syarat keterpilihan di panggung politik Indonesia. Pertama, beragama Islam. Kedua, Militer. Ketiga, etnis Jawa.

“Terpilihnya Joko Widodo di pemilu tahun 2014 sebenarnya telah meruntuhkan mitos ini. Karena dari kalangan sipil atau rakyat jelata, bisa keluar menjadi pemenang dalam pemilu,” ucapnya.

Namun terpilihnya Joko Widodo tidak seluruhnya memusnahkan mitos ini. Terutama mitos etnis Jawa yang sangat kental lagi pekat dalam budaya politik Indonesia.

Anies yang bukan etnis Jawa akan sedikit kedodoran dalam pemilu di tahun 2024. Karena identitas politik etnis atau kesukuan cenderung lebih kuat dibandingkan agama, masalah kemiskinan, dan ketertindasan dalam konteks masyarakat yang plural dan tradisional.

Ego mayoritas atau dominasi etnis atau suku Jawa dalam daftar pemilih akan melekatkan mitologi dan simbol politik dalam pemilu yang akan datang.

“Hambatan ini sedapatkan mungkin direnungi oleh Anies. Mengelola hambatan politiknya ini sangat penting. Bukan tidak mungkin Anies yang orang Arab dapat meruntuhkan mitos politik yang masih bersarang dengan citra Anies sendiri,” jelas Zainul.

Kendala selanjutnya, Anies tidak memiliki kendaraan politik dari partai politik. Menurut Zainul, tidak memiliki kereta politik itu harus diakui Anies.

“Hambatan ini tidak kalah seriusnya dengan mitologi politik Jawa di atas. Apalagi di tengah arus dan sistem demokrasi Indonesia yang multipartai dan liberal, ini akan menjadi batu sandungan yang utama,” katanya.

Walaupun dalam sejarah Partai Nasional Demokrasi (NasDem) Anies merupakan bagian dari tokoh aktif yang berkecimpung saat NasDem belum menjadi partai politik. Dan Surya Paloh telah memberikan sinyal untuk mengusung Anies di 2024 pada November 2019 yang lalu. “Bukan berarti Anies telah mengantongi kereta politik,” katanya.

Transaksi kepentingan masih terbuka lebar dengan jeda waktunya cukup lama. Artinya Anies tidak diusung oleh NasDem tentu sangat mungkin terjadi. Apalagi saat Surya Paloh mencapreskan Anies bagian dari gertak sambal untuk Megawati. Tujuannya melumasi tarik menarik kepentingan dalam penyusun Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin 2019-2024.

“Jadi kesulitan Anies yang paling mendasar juga yaitu tidak adanya kereta politik di tahun 2024,” ucapnya.

Maka, dikatakan Zainul lagi, berbeda dengan Prabowo yang memiliki Geridra, Risma dan Ganjar yang memiliki PDIP, AHY memiliki Partai Demokrat, Airlangga di usung oleh Golkar, dan atau Nasdem sediri mengusung Surya Paloh di tahun 2024.

“Jadi Anies harus mematangkan langkah di tengah ketidakpastian kereta politiknya,” ujarnya.

Tidak bisa dipunggkiri, kecenderungan terpilihnya Anies sebagai presiden Indonesia 2024 nanti karena Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini. Dan jabatannya tersebut akan berakhir di tahun 2022.

Dia menambahkan, kecemerlangan dan citra Anies saat ini cenderung dapat redup seketika, saat tidak menjabat  Gubernur DKI di tahun 2023-2024.

Kehilangan jabatan  Gubernur, bisa menjadi pukulan telak atas keterpilihannya di tahun 2024. Hambatan ini sebagai faktor yang menentukan, karena lawan politiknya Anies akan memanfaatkan peluang tersebut untuk menggusur elaktabilitas Anies saat ini.

Apalagi, skema UU Nomor 10 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 1 tahun 2015 tentang pemilihan kepala daerah (Pilkada), Pasal 201 dijadwalkan Pilkada DKI Jakarta akan berlangsung Bulan November 2024.

“Jadi tidak adanya pilkada di tahun 2022 merupakan hasil kerja politik dari lawannya Anies,” ingatnya.

Lagi pula, hanya karena masalah banjir di akhir pecan lalu, elektabilitas Anies kembali melambung tinggi.

Modalitas politik  Gubernur DKI menjadi faktor kunci Anies. Dan Anies akan kehilangan modalitas politiknya di tahun 2022.

Hambatan ini sedapat mungkin dicetuskan alternatif yang dapat menjaga Anies agar tetap terjaga dalam frekuensi keterpilihannya. Termasuk menjaga modalitas Anies.

Jadi, kematangan strategi dan kemantapan konsep politik yang mengusung Anies menjadi kunci dalam melewati hambatan ini.

Tentu, katanya, hambatan-hambatan politik yang lainnya masih ada. Namun, kondisi ini juga akan seperti balon yang meletus. Jika terjadi Perubahan UUD 1945 tentang pemilihan Presiden Republik Indonesia melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) selesai di tahun 2023.

“Dan ini tidak hanya menguburkan harapan Anies, akan tetapi pemilu secara langsung di tahun 2024,” pungkas Zainul.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan