Breaking News

Selamatkan Aset Dari Penguasaan Asing, Buruh Pelabuhan JICT Lanjut Gelar Aksi Mogok Kerja

Selamatkan Aset Dari Penguasaan Asing, Buruh Pelabuhan JICT Lanjut Gelar Aksi Mogok Kerja.

Para buruh dan pekerja di Jakarta International Container Terminal (JICT) Tanjung Priok, Jakarta Utara, menggelar aksi mogok kerja.

 

Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Jakarta Internasional Container Terminal (JICT) Pelabuhan Tanjung Priok, Ade Armando menegaskan, aksi mogok kerja yang dilakukan oleh karyawan PT JICT bukan menuntut upah, tetapi untuk menyelamatkan aset pemerintah Indonesia dari  perusahaan Hong Kong.

 

“Kalau Anda memang mencintai NKRI, perlu Anda ketahui saat ini di pelabuhan Tanjung Priok sedang berlangsung upaya menyelamatkan Indonesia dari penjarahan asing yang sungguh nyata. Aksi luar biasa ratusan pekerja pelabuhan peti kemas terbesar di Indonesia, JICT untuk menyelamatkan aset bangsa dari eksploitasi oleh perusahaan Hong Kong, Hutchison Port,” kata Armando, di Jakarta, Senin (7/8/2017).

 

Para peserta menolak pemberian konsesi yang dilakukan oleh Direksi Pelindo II terhadap Hutchison Port Holding. Soalnya, perpanjangan konsensi diduga diberikan tanpa persetujuan  dari Menteri Perhubungan.

 

Aksi mogok kerja tersebut dilakukan sejak 3 Agustus sampai 10 Agustus mendatang. “Perpanjangan konsesi JICT yang dilakukan Direksi Pelindo II pada Hutchsison melanggar peraturan perundangan (UU No 17, 2008). Keputusan untuk memperpanjang konsesi JICT seharusnya hanya bisa dilakukan melalui persetujuan resmi Menteri Perhubungan,” lanjut Armando.

 

Menurut Armando, perpanjangan kontrak yang dilakukan oleh Direksi Pelindo II tersebut dilakukan pada 2014 lalu. Proses perpanjangan konsesi yang seharusnya berakhir pada 2019 itu beraroma busuk. Kebusukan mulai terjadi ketika pada Agustus 2014, alias 5 Tahun sebelum kontrak selesai, Dirut Pelindo II RJ Lino secara sepihak memperpanjang kontrak JICT dengan Hutchison selama 20 tahun (2019-2039) tanpa sepengetahuan pemerintah, tanpa tender terbuka dan dengan harga murah.

 

“Tahun 1999 harga jual JICT 243 juta dolar amerika, sementara tahun 2014 harga jualnya hanya 215 juta dolar amerika dengan volume dan profit meningkat dua kali lipat,” ucapnya.

 

Selain itu, selama melakukan aksi, banyak isu yang sengaja diplintir untuk melarikan tujuan utama aksi mogok kerja yang dilakukan para karyawan JICT tersebut.

 

“Namun kubu seberang melakukan pemelintiran berita sehingga yang muncul di banyak media adalah solah-olah aksi ini adalah gerakan menuntut kenaikan gaji. Tak kurang dari Menteri Negara BUMN, Rini Soemarno, seperti berpura-pura tak paham dengan alasan pemogokan dan berkomentar seolah-olah yang dituntut pekerja adalah gaji dan bonus yang tinggi,” ungkap Armando.(Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*