Selain Surati Jaksa Agung, Korban Persidangan Kasus Pencopotan Plang dari Depan Rumahnya di Dairi Mengadu ke Komisi Yudisial di Jakarta

Selain Surati Jaksa Agung, Korban Persidangan Kasus Pencopotan Plang dari Depan Rumahnya di Dairi Mengadu ke Komisi Yudisial di Jakarta

- in DAERAH, EKBIS, HUKUM, NASIONAL, PROFIL
311
0
Foto: Kantor Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi). (Net)Foto: Kantor Kejaksaan Negeri Dairi (Kejari Dairi). (Net)

Selain telah mengajukan Surat Permohonan Perlindungan Hukum kepada Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof Dr Sanitiar Burhanuddin, korban persidangan kasus pencopotan plang dari depan rumah sendiri di Sumbul Pegagan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, juga bersurat kepada Komisi Yudisial (KY) di Jakarta.

Leo Fernando Zai, anggota Kuasa Hukum Ibu Lestari Lusinda Sianturi, Boston Benni Butar-Butar dan Matius Fernando Barus dari Law Firm D.R.S & Partners, yang mendampingi para Terdakwa dalam kasus ini, kepada wartawan dalam keterangannya, membenarkan bahwa pihaknya telah mengirim surat berupa aduan dan laporan kepada Komisi Yudisial (KY) di Jakarta.

Leo Fernando Zai mengatakan, surat itu adalah Surat Permohonan Pengawasan serta atensi khusus terkait jalannya persidangan dengan nomor register perkara 47/Pid.B/2024/PN.Sdk di Pengadilan Negeri Sidikalang atas dugaan Tindak Pidana ‘secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap barang’ yang diduga dilakukan oleh kliennya Lestari Lusinda Sianturi, Boston Benni Butar- Butar, dan Matius Fernando Barus yang dilaporkan oleh Jerrys Henri Sianturi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 ayat (1) KUHP atau Pasal 406 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Iya benar, kami bersurat kepada Jaksa Agung Republik Indonesia, dan kepada Komisi Yudisial di Jakarta,” ujar Leo Fernando Zai, kepada wartawan, Minggu (7/7/2024).

Leo menerangkan, sejak proses pelaporan kliennya kepada Polres Dairi, sudah terjadi sejumlah kejanggalan dan keanehan dalam prosesnya. Bahkan, hingga kini sudah memasuki persidangan, kasus yang menimpa Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan keluarganya itu masih terjadi kejanggalan oleh oknum Jaksa.

“Klien kami sepertinya sengaja, dan diskenariokan harus masuk penjara oleh Pelapor yang notabene adalah saudara kandung dari klien kami sendiri. Melalui oknum penyidik hingga oknum Jaksa yang menangani kasus ini, semuanya sangat kasat mata bersengaja untuk memaksakan harus menghukum klien kami,” ujarnya.

“Jadi, kami mohon kepada KY dan Mahkamah Agung di Jakarta, dan juga kepada Majelis Hakim yang menyidangkan perkara ini, agar kiranya keli dan adil dalam menelusuri kasus ini, sebab, kami yakin klien kami tidak bersalah,” tutur Leo Zai.

Leo Zai menjelaskan, bahwa Lestari Lusinda Sianturi, Boston Benni Butar- Butar, dan Matius Fernando Barus yang dilaporkan oleh Jerrys Henri Sianturi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 ayat (1) KUHP atau Pasal 406 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, saat ini merupakan terdakwa atas dugaan Tindak Pidana “secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap barang”. Dengan nomor register perkara 47/Pid.B/2024/PN.Sdk, yang sedang disidangkan  di Pengadilan Negeri Sidikalang.

Awal mula dugaan peristiwa pidana tersebut dikarenakan adanya plang bertuliskan “TANAH & BANGUNAN INI MILIK JERRYS SIANTURI” yang didirikan oleh Jerrys Sianturi tepat di depan pintu masuk rumah yang sejak 2014 – saat ini ditempati oleh Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan Boston Butar-Butar beserta anak-anak mereka, yang terletak di Jl Sisingamangaraja No.238, Kelurahan Pegagan Julu I, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi.

Adapun Tanah dan Bangunan yang terletak di Jl Sisingamangaraja No.238, Kelurahan Pegagan Julu I, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi itu yang diklaim oleh Jerrys Henri Sianturi dengan mendirikan plang bertuliskan “TANAH & BANGUNAN INI MILIK JERRYS SIANTURI” tersebut merupakan masih Harta Warisan peninggalan (Alm) Pantas Ojahan Sianturi dan (Alm) Hermina Bakkara yang merupakan orang tua dari Ibu kandung dari Lestari Lusinda Sianturi dan juga Jerrys Henri Sianturi, beserta 10 (sepuluh) orang lainnya yang jika ditotal ialah 12 (sebelas) bersaudara.

“Yang artinya Jerrys Sianturi dan Ibu Lestari Lusinda Sianturi sama kedudukannya sebagai ahli waris terhadap Tanah dan Bangunan yang diklaim oleh Pelapor Jerrys Sianturi tersebut,” ujar Leo Zai.

Adapun yang menjadi bukti bahwasanya Tanah dan Bangunan yang terletak di di Jl Sisingamangaraja No.238, Kelurahan Pegagan Julu I, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi yang diklaim oleh Jerrys Henry Sianturi menjadi miliknya itu merupakan Harta Warisan yaitu belum adanya sampai saat ini Sertifikat Hak Milik atas Tanah dan Bangunan tersebut.

Pada tanggal 03 Oktober 2023, tiba-tiba klien mereka, Bapak Boston Butar-Butar yang juga merupakan suami dari Klien Ibu Lestari Lusinda Sianturi menemukan Plang bertuliskan “TANAH & BANGUNAN INI MILIK JERRYS SIANTURI” tepat di depan pintu masuk rumah yang sejak 2014 – saat ini ditempati oleh Ibu Lestari Lusinda Sianturi dan Boston Butar-Butar beserta anaknya, yang terletak di Jl Sisingamangaraja No.238, Kelurahan Pegagan Julu I, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi.

Dengan didirikannya Plang bertuliskan “TANAH & BANGUNAN INI MILIK JERRYS SIANTURI” yang didirikan oleh Jerrys Sianturi tepat di depan pintu masuk rumah maka menjadi penghalang untuk akses masuk ke rumah.

“Pemasangan plang itu tidak ada ijin, dan itu ilegal. Oleh karena itu maka Bapak Boston Butar-Butar beserta temannya Bapak Martinus Barus mencopot plang tiang tersebut,” jelas Leo Zai.

Setelah dicopotnya Plang bertuliskan “TANAH & BANGUNAN INI MILIK JERRYS SIANTURI” yang didirikan oleh Jerrys Sianturi itu, Jerrys Sianturi melaporkan kegiatan mencopot plang tiang tersebut ke Polres Dairi dengan dalil pengrusakan barang, yaitu dugaan tindak pidana pengrusakan barang sebagaimana diatur pada Pasal 170 junto Pasal 406 KUHP dengan terlapor Ibu Lestari Lusinda Sianturi , Bapak Boston Butar-Butar dan Bapak Martinus Barus.

Dalam proses persidangan tepatnya pada saat pembuktian yang dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU)  dengan membawa Closed Circuit Television (CCTV) yang menurut Jaksa Penuntut Umum dalam video CCTV tersebut ialah Ibu Lestari Lusinda Sianturi.

“Kami menilai, rekaman video CCTV itu tidaklah tepat sebagai alat bukti dalam kasus ini. Kami menilai proses pembuktian dari CCTV tersebut tidak sah karena dibuat bukan atas permintaan penyidik, sehingga sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi No. 20/PUU- XIV/2016 bukanlah sebagai alat bukti, dan juga dalam isi video CCTV tersebut sangat kabur dan sangat tidak jelas siapa orang yang ada di dalam CCTV tersebut,” tutur Leo Zai.

Berdasarkan uraian kronologis yang disampaikan di atas, melalui poin-poin di atas Leo Zai menilai terdapat banyak kejanggalan, dan terkesan memaksa pada proses penegakan hukum dengan nomor register perkara 47/Pid.B/2024/PN.Sdk di Pengadilan Negeri Sidikalang yang dialami Ibu Lestari Lusinda Sianturi, Bapak Boston Butar-Butar, dan Bapak Matius Fernando Barus.

“Yang menurut kami sepanjang proses perkara mulai dari penyelidikan sampai proses persidangan belum ada bukti yang jelas yang disampaikan oleh pihak kepolisian maupun kejaksaan selama proses penyidikan dan persidangan bahwasanya Klien kami tersebut,” terangnya.

Meskipun sepanjang proses perkara mulai dari penyelidikan sampai proses persidangan Belum ada Alat Bukti yang Cukup dan Jelas yang disampaikan oleh pihak kepolisian maupun kejaksaan selama proses penyidikan dan persidangan, namun pada faktanya Ibu Lestari Lusinda Sianturi, Bapak Boston Butar-Butar, dan Bapak Matius Fernando Barus tetap dijadikan Tersangka yang kemudian menjadi Terdakwa dengan proses yang sangat cepat.

“Tanpa mempertimbangkan Bukti, Fakta Hukum, dan Keadaan Klien kami yang memiliki 2 orang anak kecil yang masih harus diurus,” jelasnya.

Dengan demikian, melalui suratnya, Leo Zai memohon kepada Ketua Komisi Yudisial (KY) Republik Indonesia agar melakukan pengawasan berupa atensi khusus terhadap perkara dengan nomor register perkara 47/Pid.B/2024/PN.Sdk di Pengadilan Negeri Sidikalang yang sedang dialami oleh Ibu Lestari Lusinda Sianturi, Bapak Boston Butar-Butar, dan Bapak Matius Fernando Barus sebagai Terdakwa di perkara tersebut.

“Yang dimana seperti uraian kronologis yang kami sampaikan di atas agar persidangan dapat berjalan dengan adil sebagaimana mestinya,” ujar Leo Zai.

Ketika dihubungi wartawan lewat telepon selulernya, penyidik Polres Dairi, Ilham Saputra Harahap, dan Jaksa dari Kejari Dairi, Junjungan Simbolon, yang menangani kasus ini, serta Kepala Kejaksaan Negeri Dairi (Kajari Dairi), Okto Rikardo, tidak merespon adanya permintaan klarifikasi dan atau penjelasan terkait kasus ini.(RED)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Sambutan Ketua Umum PGI pada Resepsi Interfaith PBNU Bersama Imam Besar Masjid Al-Azhar Mesir; Pdt Gomar Gultom: Mari Bersama-Sama Selamatkan Peradaban, Selamatkan Kemanusiaan, Selamatkan Keberagaman

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta