Seharusnya Hengkang Dari Kawasan Danau Toba, Desak Bupati Darwin Siagian Hentikan Ijin RSI, GAMKI Tolak Pemindahan KJA Ke Kawasan Toba

GAMKI Tolak Pemindahan Keramba Jaring Apung (KJA) Milik Regal Springs Indonesia (RSI) Ke Kabupaten Toba

Seharusnya Hengkang Dari Kawasan Danau Toba, Bupati Darwin Siagian Didesak Hentikan Ijin Regal Springs Indonesia (RSI), GAMKI Tolak Pemindahan Keramba Jaring Apung (KJA) Ke Kawasan Kabupaten Toba. – Foto: Jajaran Pengurus Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sumatera Utara. (Istimewa)
Seharusnya Hengkang Dari Kawasan Danau Toba, Bupati Darwin Siagian Didesak Hentikan Ijin Regal Springs Indonesia (RSI), GAMKI Tolak Pemindahan Keramba Jaring Apung (KJA) Ke Kawasan Kabupaten Toba. – Foto: Jajaran Pengurus Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sumatera Utara. (Istimewa)

Penolakan keras terhadap upaya memindahkan Keramba Jaring Apung (KJA) milik PT Regal Spring Indonesia (RSI) yang sebelumnya bernama PT Aquafarm ke kawasan Kabupaten Toba, Sumatera Utara, terus bergulir.

Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Kabupaten Toba (DPC GAMKI Toba) menyatakan menolak rencana pemindahan KJA itu. Dan memperingatkan Bupati Toba, Darwin Siagian agar segera menghentikan niat menggeser KJA milik Regal Springs Indonesia itu ke Kawasan Kabupaten Toba.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Kabupaten Toba (DPC GAMKI Toba) Mekar Sinurat menyampaikan, lewat hasil rapat DPC GAMKI Toba, pihaknya meminta seluruh KJA yang ada di Kawasan Danau Toba (KDT) segera angkat kaki dari kawasan Danau Vulkanik Terbesar di Dunia itu.

“Apabila RSI akan direlokasi ke Porsea dan Uluan di Kabupaten Toba, maka akan mengganggu segala aktivitas yang selama ini sudah berjalan baik. Kami dari GAMKI Toba menghimbau Pemkab Toba agar tidak memberi ijin kepada RSI untuk direlokasi,” tutur Mekar Sinurat, Senin (25/05/2020).

Jika Pemkab Toba bersikeras mengijinkan relokasi atau pemindahan itu, lanjutnya, maka dapat dipastikan Bupati Darwin Siagian adalah musuh rakyat di Kawasan Danau Toba.

“Tidak ada alasan yang membenarkan harus dipindah ke Porsea dan Uluan, malah seharusnya RSI yang beroperasi di seluruh Kawasan Danau Toba juga harus segera ditutup. Karena sudah melakukan pencemaran terhadap Danau Toba,” imbuhnya.

Mekar Sinurat melanjutkan, beberapa waktu lalu, ribuan ikan mati di Danau Toba. Dan ada juga ditemukan bangkai ikan dalam karung yang ditenggelamkan ke dasar danau.

Kehadiran Keramba Jaring Apung (KJA) di KDT sudah merusak ekosistem Danau Toba, merusak kesehatan masyarakat, dan merusak mata pencaharian warga. Keindahan dan keselarasan alam pun hancur karena kehadiran KJA di Danau Toba.

“Para akademisi dari beberapa universitas sudah melakukan penelitian terhadap kualitas air Danau Toba dan hasilnya air Danau Toba sudah tercemar parah,” lanjut Mekar.

Terungkapnya rencana PT Aquafarm yang kini telah berganti nama menjadi Regal Spring Indonesia itu sudah disampaikan pihak RSI. KJA akan direlokasi ke Porsea dan Uluan. Hal itu disampaikan oleh sebagai External Affairs Senior Manager RSI, Kasan Mulyono dalam konperensi pers yang disampaikan di Medan, Minggu (17/05/2020) yang lalu.

GAMKI Kabupaten Toba mengingatkan dampak buruk apabila RSI tersebut benar akan direlokasi ke Porsea dan Uluan.

Kawasan Danau Toba adalah salah satu Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN) yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Untuk mengembangkan pariwisata di seputaran Danau Toba tersebut, Pemerintah Pusat akan menggelontorkan dana sekitar Rp 3,5 Triliun.

Porsea dan Uluan adalah salah satu kawasan wisata yang ada di Danau Toba. Lokasinya persis berada di Kabupaten Toba. Beberapa objek wisata yang ada di Porsea yang kini telah dibangun dan dilengkapi fasilitas oleh Pemkab Toba diantaranya Pantai Pasir Putih Parparean dan dan Pantai Pasifik. Sedangkan di Kecamatan Uluan adalah Pantai Janji Matogu dan Aek Rangat Siregar Aek Na Las.

“Objek wisata tersebut sudah ramai dikunjungi oleh wisatawan. Apalagi pada hari libur, karena pantainya sangat landai sehingga nyaman berenang,” jelas Mekar Sinurat.

Masyarakat sekitar Porsea dan Uluan juga memanfaatkan air Danau Toba untuk keperluan rumah tangga dan pertanian. Beberapa nelayan juga sering menangkap ikan dengan menggunakan peralatan sederhana dan selalu menjaga kelestarian danau tersebut.

“Pemkab Toba harusnya serius dan konsisten terhadap pengembangan Pariwisata Danau Toba agar sejalan dengan program Pemerintah Pusat. Karena akan sangat bertolak belakang jika pariwisata Danau Toba dikembangkan, tapi di sisi lain tetap memberi ijin kepada perusahaan untuk membuka Keramba Jaring Apung (KJA) di sekitar Danau Toba. Oleh karena itu, kami GAMKI Toba dengan tegas menolak relokasi RSI tersebut,” ujar Mekar Sinurat.

Mekar Sinurat menambahkan, kehadiran RSI di wilayah Ajibata, masih di Kabupaten Toba, juga tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Malah masyarakat  terganggu dengan operasional truk-truk mereka yang lewat tiap hari di jalan Parapat-Ajibata. Jalan jadi rusak, sementara kontribusi perusahaan untuk perbaikan jalan hampir tidak ada. Makanya beberapa waktu lalu masyarakat setempat memblokade jalan tersebut,” lanjutnya.

Beberapa waktu yang lalu, lanjutnya lagi, saat kunjungan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan ke Kawasan Danau Toba, sudah mendesak dan memerintahkan agar PT Aquafarm segera angkat kaki.

“Dan harus segera dikosongkan. Tidak bagus untuk pariwisata katanya. GAMKI Toba sangat menyetujui rencana tersebut, karena Danau Toba adalah salah satu danau vulkanik terindah yang dimiliki Indonesia bahkan dunia, sehingga harus dijaga kelestariannya,” tandas Mekar Sinurat.(ASM)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan