Sebagai Ruang Perjumpaan Oikoumenis Membangun Visi Bersama Meresponi Pergumulan Kehidupan, Sidang Raya XVII PGI Akan Dibuka Oleh Presiden Joko Widodo

Sebagai Ruang Perjumpaan Oikoumenis Membangun Visi Bersama Meresponi Pergumulan Kehidupan, Sidang Raya XVII PGI Akan Dibuka Oleh Presiden Joko Widodo.
Sebagai Ruang Perjumpaan Oikoumenis Membangun Visi Bersama Meresponi Pergumulan Kehidupan, Sidang Raya XVII PGI Akan Dibuka Oleh Presiden Joko Widodo.

Sidang Raya ke XVII Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) akan dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Kepala Humas PGI, Irma Riana Simanjuntak mengatakan, pertemuan gereja-gereja di Indonesia itu adalah sebagai ruang perjumpaan oikoumenis untuk membangun visi bersama dalam meresponi pergumulan kehidupan masyarakat berbangsa Indonesia.

Sidang Raya XVII PGI ini dilangsungkan di Waingapu, Suma Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Yang berlangsung pada 8 November 2019 hingga 13 November 2019. “Sidang Raya ke tujuh belas PGI ini rencananya akan dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir Joko Widodo,” tutur Irma Riana Simanjuntak, dalam keterangan persnya, Kamis (07/11/2019).

Gereja yang menjadi tuan rumah Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (SR XVII PGI) ini adalah Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS). Irma menyampaikan, sekitar 1000 orang peserta akan mengikuti persidangan ini. Peserta adalah perwakilan dari sinode gereja anggota PGI, PGIW/SAG, lembaga mitra dalam dan luar negeri.

“Pembukaan akan dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, di Pantai Puru Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Sedangkan kegiatan persidangan sendiri akan dilaksanakan di GKS Jemaat Payeti, Jalan Prof Yohanes Payeti, Waingapu, Sumba Timur.

Irma menerangkan, dalam Tata Dasar PGI menyebutkan, Sidang Raya adalah lembaga tertinggi dalam pengambilan keputusan terakhir. Sedangkan tugas Sidang Raya PGI, pertama, membahas dan memperdalam hidup gerejawi dalam persekutuan, kebaktian, kesaksian, dan pelayanan,  dengan bersama-sama menelaah firman Allah.

Kedua, membahas keadaan dan tanggungjawab bersama gereja-gereja di Indonesia. Ketiga, menetapakan dokumen-dokumen keesaan gereja.

Keempat, menilai dan menerima pertanggungjawaban Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH-PGI).

Kelima, memilih dan atau menetapkan anggota-anggota dari Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI), Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPH-PGI), Badan Pengawas Perbendaharaan PGI,  dan Majelis Pertimbangan PGI.

Sidang Raya XVII PGI mengusung tema Aku Adalah yang Awal dan yang Akhir (bdk. Wahyu 22:12-13), dan sub tema Bersama Seluruh Warga Bangsa, Gereja Memperkokoh NKRI yang Demokratis, Adil dan Sejahtera bagi Semua Ciptaan Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

“Tema dan sub tema tersebut merefleksikan pengakuan iman Gereja-Gereja di Indonesia, bahwa meski di tengah persoalan yang semakin kompleks yang dihadapi masyarakat, iman kita kepada Kristus, yang telah menjalani penderitaan, bahkan mati di kayu Salib tetapi telah bangkit mengalahkan maut, memberikan secercah harapan untuk melangkah ke depan bersama seluruh anak bangsa,” tutur Irma Riana Simanjuntak.

Seperti biasa, lanjutnya, pesta iman lima tahunan ini, telah didahului dengan kegiatan Pra Sidang Raya, yaitu Pertemuan Raya Pemuda (PRPG), yang telah digelar pada 2-5 November 2019 di Waikabubak, Sumba Barat, dan Pertemuan Raya Perempuan Gereja (PRPrG), juga dilaksanakan pada 2-5 November 2019 di Waitabula, Sumba Barat Daya.

Selain itu, dilaksanakan pula Pekan Komunikasi Kristen (PKK) yang waktu pelaksanaan bersamaan dengan Sidang Raya XVII PGI.

PRPG adalah wadah dan kesempatan bagi perempuan perempuan gereja untuk berbagi pengalaman bergereja dan bermasyarakat dalam rangka pendalaman spiritual, mengasah pikiran untuk menghasilkan ide-ide penting dalam rangka memberikan kontribusi kepada Sidang Raya PGI XVII, untuk selanjutnya diterapkan dalam gereja-gereja.

Sedangkan PRPG antara lain sebagai ruang perjumpaan oikoumenis dalam membangun visi bersama dalam merespon berbagai pergumulan yang menjadi tantangan bersama sebagai orang muda Kristen di tengah bangsa maupun dalam keberadaannya sebagai manusia di tengah muka bumi ini untuk 5 tahun ke depan.

Selain itu, merupakan momentum untuk merayakan kasih dan penyertaan Tuhan dalam semangat kebersamaan sebagai sebuah kesatuan tubuh Kristus dalam sebuah pesta iman.

Sementara PKK menjadi ajang pertemuan para pekerja media Kristen untuk mendiskusikan perkembangan media komunikasi, menampilkan karyanya serta peluang untuk berbagi pengetahuan dan ketrampilan.

“Sidang Raya XVII PGI adalah kesempatan bagi para pimpinan gereja-gereja untuk membicarakan langkah-langkah nyata menanggulangi masalah-masalah, baik secara nasional maupun dalam gerakan oikoumene, yakni krisis kebangsaan, krisis ekologi, dan krisis keesaan. Di samping itu perhatian khusus diberikan pada tantangan revolusi digital,” jelas Irma.

Ketua Umum Panitia Sidang Raya XVII PGI, Dr Umbu M Marisi menambahkan, selain gereja dan masyarakat, kegiatan ini mendapat dukungan luar biasa dari Pemerintah Pusat dan 4 Kabupaten yang ada di Sumba.

“Bahkan, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan bahwa SR XVII PGI dan kegiatan pra Sidang Raya tidak hanya tanggungjawab Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS), tetapi juga Pemerintah Provinsi NTT,” ujar Dr Umbu M Marisi.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan