Breaking News

Sampaikan Tiga Catatan Pemilu, Sekum PGI Pdt Gomar Gultom: Sekarang Ini Seperti di Zaman Nazi

Bicara Demokrasi di Acara Kantor Urusan Presiden

Bicara Demokrasi di Acara Kantor Urusan Presiden Sampaikan Tiga Catatan Pemilu, Sekum PGI Pdt Gomar Gultom: Kok Kembali Ke Zaman Nazi.

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt Gomar Gultom menyampaikan tiga catatan pentingnya terkait penyelenggaraan Pemilu 2019.

Hal itu disampaikan Pdt Gomar Gultom saat didapuk menjadi pembicara dalam Dialog Merawat Kerukunan Pasca Pemilu 2019, yang diinisiasi oleh Kantor Urusan Presiden, di Kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (02/05/2019) lalu.




Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban, yang mengundang perwakilan seluruh tokoh-tokoh agama.

Pdt Gomar Gultom menegaskan, proses demokrasi sudah menjadi sebuah kesepakatan bagi Bangsa Indonesia. Karena itu, semua unsur melakukukan proses demokrasi sesuai dengan kesepakatan itu.

“Catatan pertama, sebagai Bangsa Indonesia, kita telah sepakat menempuh demokrasi sebagai kendaraan, sebagai jalan bagi kita menuju cita-cita Kemerdekaan Indonesia,” tutur Gomar Gultom.

Meskipun diakuinya, demokrasi yang berlangsung belumlah sebagai kendaraan atau jembatan yang utuh, tetapi bagaimanapun dari berbagai studi memperlihatkan bahwa demokrasilah yang paling dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan, nilai kebenaran, nilai kejujuran, dalam kerangka menata kehidupan bersama.

“Dan di dalamnya ada kepastian-kepastian, ada mekanisme terukur yang bisa dilihat oleh semua dan dinikmati oleh semua,” ujarnya.

Catatan kedua, keperpihakan kepada kebenaran. Pdt Gomar Gultom mengatakan, saat ini keberpihakan kepada kebenaran masih menjadi problem besar sebagian besar penduduk Indonesia.

“Apakah kita mau berpihak kepada kebenaran? Ini adalah problem kita dalam post truth yang sekarang. Dimana propaganda-propaganda massif dilakukan membungkus kebohongan, seolah-olah itulah kebenaran. Saya kira ini sudah dipraktekkan di zaman Nazi, dan itu kita pakai lagi, tidak hanya di Indonesia tetapi itu menjadi gejala mondial sekarang ini, dengan adanya hoaks dan sebagainya,” jelasnya.

Karena itu, lanjutnya, peran media sangat penting untuk menyatakan kebenaran. Sebab, jika menelan mentah-mentah informasi yang ada, bisa-bisa kesasar kemana-mana.

“Apa jadinya bangsa ini? Di sinilah pentingnya media yang berspektif perdamaian dan mengedepankan kesejukan,” tutur Gomar.

Catatan ketiga, peran tokoh-tokoh agama sangat diperlukan untuk mengajak umat menggeluti esensi beragama.

Menurut Pdt Gomar Gultom, esensi yang dimaksud bukan agama sebagai simbol dan ritual, tetapi esensi beragama itu sendiri dalam kerangka menawarkan damai, kemanusiaan, dan kesetaraan.

Terkait berbagai persoalan pelaksanaan Pemilu, Pdt Gomar Gultom menyarankan, agar pihak-pihak yang mengalami pelanggaran, hendaknya menyelesaikannya lewat mekanisme demokrasi yang sudah diatur di Indonesia. Seperti, melakukan gugatan lewat Mahkamah Konstitusi (MK).




Menurut dia, jika ada pihak-pihak yang keberatan dengan hasil Pemilu 2019, disarankan mengumpulkan bukti-bukti dan mengajukannya ke MK. Sebab, hal ini merupakan mekanisme yang dapat ditempuh sesuai dengan perundang-undangan yang ada.

“Walaupun sebenarnya hal ini masih terlalu dini untuk dipersoalkan. Sebab pengumuman dari KPU baru akan dilakukan pada tanggal 22 Mei nanti,” tandas Pdt Gomar.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*