Breaking News

Sampah Indonesia Sudah Mendunia, Dibayar Murah Kok Upah Tukang Sapu Masih Dipotong

Sampah Indonesia Sudah Mendunia, Dibayar Murah Kok Upah Tukang Sapu Masih Dipotong. Sampah Indonesia Sudah Mendunia, Dibayar Murah Kok Upah Tukang Sapu Masih Dipotong.

Belakangan ini persoalan sampah di wilayah Jabodetabek kian menasional. Bahkan mendunia. Penanganan sampah menjadi salah satu fokus yang tak bisa dihindarkan oleh Pemerintah dan masyarakat.

Untuk mewujudkan kota yang bersih, asri, terhindar dari bau sampah yang tak sedap, dan yang menyebabkan sakit, dibutuhkan tenaga-tenaga kebersihan yang siap siaga.

Namun, perlakuan kepada para pekerja kebersihan masih sangat diskriminatif. Upah yang rendah, jaminan kesehatan minim, dan perhatian yang amburadul.

Imbasnya, kebersihan kota pun tak maksimal. Sampah-sampah tidak maksimal dibersihkan. Menumpuk di sudut-sudut permukiman penduduk.

Seperti yang dialami para petugas kebersihan di wilayah Kota Tangerang, Provinsi Banten. Pakar petugas kebersihan tidak mendapatkan haknya sebagaimana mestinya.

Juneldi, salah seorang warga, di daerah Cipondoh, Kecamatan Cipondoh, Tangerang, mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah kepada para petugas kebersihan di wilayah itu.

Setiap hari tumpukan sampah masih menggunung di sejumlah sudut permukiman. Di tempat-tempat penampungan sampah sementara pun, masih menumpuk.

“Coba dimonitor seperti di dekat Sekolahan Mutiara Bangsa. Sangat miris,” tutur Juneldi, Kamis (08/08/2019).

Juneldi menyampaikan, dia bersama rekanp-rekan petugas kebersihan Kota Tangerang, bekerja sebagai buruh harian lepas.

“Ada pemotongan gaji tenaga harian lepas dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Tangerang,” ujarnya.

Para pekerja harian lepas yang menjadi petugas kebersihan yang dipotong upahnya itu adalah para tukang sapu dan kernet. “Penyapu dan kernet, dipotong. Tidak ada slip gaji,” ujarnya.

Padahal, dengan alasan untuk jaminan kesehatan di BPJS Kesehatan, upah yang tak seberapa itu pun tetap mengalami pemotongan.

“BPJS Kesehatannya sendiri pun belum dapat. Tetapi dipotong terus dari gaji sebagai tenaga harian lepas,” ujarnya.

Bayangkan saja, seperti dirinya, dipotong hampir Rp 900 ribu. “Belum lagi, teman saya, dipotong Rp 500 ribu. Bagaimana ini?” ujarnya.

Di DKI Jakarta,  gaji atau upah petugas kebersihan pada Dinas Kebersihan mengalami kenaikan.

Hal itu sesuai dengan terbitnya Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 356 Tahun 2016 tanggal 5 Februari tentang Standar satuan upah petugas kebersihan pada Dinas Kebersihan.

Pertimbangan menaikkan upah petugas kebersihan adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sehingga perlu didukung oleh petugas kebersihan yang andal dan profesional.

Untuk mendapatkan petugas kebersihan yang andal dan profesional perlu menetapkan standar satuan upah petugas kebersihan yang layak berdasarkan hasil kajian yang transparan dan akuntabel.

Selama ini, petugas kebersihan DKI Jakarta lebih dikenal sebagai Pekerja Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Besaran gaji disesuaikan dengan posisi atau jabatan masing-masing dari petugas kebersihan. Jabatan tenaga kebersihan dibedakan untuk keahlian dan non keahlian.

Jumlah upah untuk tenaga keahlian seperti pengemudi dumptruck/typer, security dan lain-lain paling rendah 1,3 kali Upah Minimum Provinsi (UMP), tertinggi mencapai 2,9 UMP untuk nakhoda kapal. Jika dirupiahkan antara Rp 4.030.000  sampai dengan Rp 8.990.000.

Bagi tenaga non keahlian, besaran gaji diperhitungkan masih di atas UMP Jakarta, yang ditetapkan yakni Rp 3.100.000 per bulan. Rentang upah petugas non keahlian seperti pesada, petugas kebersihan kantor, petugas sampah cakupannya 1,3 – 1,6 kali UMP atau Rp 4.030.000 – Rp 4.960.000.

Namun angka itu belum termasuk potongan pajak PPh Pasal 21 tentang Pekerjaan,Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi dan petugas kebersihan merupakan PHL bukan merupakan pegawai Aparatur Sipil Negara.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*