Breaking News

Saksi Kunci Kasus Dana Hibah Meninggal di Tahanan, Kelanjutan Pengusutan Perkara Jangan Masuk Angin

Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badan Koordinasi (Badko) Jawa Timur, Gayuh Satriyo B: Saksi Kunci Kasus Dana Hibah Meninggal di Tahanan, Kelanjutan Pengusutan Perkara Jangan Masuk Angin.

Meninggalnya saksi kunci dalam kasus dugaan korupsi dana hibah Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM), dokter Bagoes Soetjipto di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Surabaya, di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur pada Kamis 20 Desember 2018, menimbulkan segudang pertanyaan.

Soalnya, dokter Bagoes Soetjipto dalam kesaksiannya sudah mulai membeberkan sejumlah nama yang diduga terlibat dalam kasus itu.

Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badan Koordinasi (Badko) Jawa Timur, Gayuh Satriyo B mengatakan, kasus itu harus diusut tuntas, dan kematian dokter Bagoes juga harus dibuka.

“Hal ini tentu menjadi sumber pertanyaan di masyarakat. Bagaimana bisa seorang saksi kunci tersebut yang sebelumnya sempat menyebut beberapa nama yang terlibat, kini telah ditemukan meninggal dunia di lapasnya,” tutur Gayuh, dalam keterangan persnya, Sabtu (22/12/2018).

Kasus Dana Hibah P2SEM adalah berkaitan dengan dana bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang diperuntukkan bagi Kelompok Masyarakat atau Pokmas, senilai lebih Rp200 miliar pada 2008.

Bagoes Soetjipto semenjak ditetapkan sebagai terpidana dalam proses peradilan in absentia atau tanpa kehadiran terdakwa, telah divonis bersalah.

“Setelah 8 tahun buron, Bagoes Soetjipto akirnya ditangkap di Malaysia pada akhir 2017 lalu dan langsung ditempatkan di Lapas Porong mengingat setatusnya yang sudah terdakwa,” terang Gayuh.

Penangkapannya membawa angin segar, mengingat Bagoes Soetjipto merupakan saksi kunci dalam kasus mega korupsi Jawa Timur tersebut.

Saat itu, Kejaksaan menyebut ada beberapa nama muncul dari bibir Dokter Bagoes. Kasus ini sudah masuk tahap penyidikan, tapi belum ada tersangka.

“Kita sebagai masyarakat tentu harus jeli melihat titik permasalahan tersebut. Dan kami, HMI bersama Masyarakat menuntut Pemerintahan Jawa Timur segera menyelesaikan permasalahan ini,” ujarnya.

Gayuh menyampaikan, pihak-pihak yang berwenang harus membuka kebenaran penyebab meninggalnya Bagoes Soetjipto.

“Kami meminta, agar dibuka kembali dan menuntaskan Kasus Dana hibah P2SEM yang sampai saat ini belum terselesaikan sebagaimana mestinya,” ujar Gayuh.

Aparat penegak hukum pun harus menindaklanjuti informasi dari Bagoes Soetjipto mengenai pihak-pihak yang terkait dalam perkara tersebut. “Itu harus diusut tuntas,” ujarnya.

Fany Setyawati, istri dokter Bagoes Soetjipto Soelyoadikoesoemo, saksi kunci kasus korupsi dana hibah Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat atau P2SEM yang meninggal di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya, mengaku terkejut dengan kematian sang suami.

Fany juga terkejut, lantaran ada surat wasiat yang justru ditujukan pada para wartawan, mengingat keluarganya malah tak mendapatkan surat tersebut.

Di rumah duka Adijasa, Surabaya, Fany mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui jika mendiang suaminya meninggalkan surat wasiat pada wartawan. Sebab, selama dokter Bagoes di dalam penjara, ia mengaku tidak pernah menjenguk maupun berkomunikasi dengannya.

Bukan tanpa alasan. Sebab, selama terbelit kasus, dokter Bagoes hanya berupaya mengamankan anak dan istrinya.

“Saya benar-benar tidak tahu jika ada surat wasiat itu. Selama ini saya melalui pengacara dr Bagoes, dilarang untuk berkomunikasi,” ujarnya.

Saat ditunjukkan, tanda tangan di surat wasiat, Fany mengakui bahwa itu adalah tanda tangan asli sang suami. Ia memastikan keaslian tandatangan tersebut, lantaran sama dengan tandatangan yang ada di dalam ijazah.

“Betul, itu tanda tangan suami saya. Saya tahu itu asli karena saya istrinya. Di ijazah juga seperti itu,” ujarnya.

Fany menyampaikan, selama dirundung kasus P2SEM, dr Bagoes tidak sekalipun pernah melibatkan keluarga. Demikian juga saat dr Bagoes pergi ke Malaysia, keluarganya justru ditinggalkan di Indonesia.

“Saya tidak tahu tekanan atau ancaman apa yang dialami oleh suami selama ini. Namun, saya tahu pasti jika ia sedang stress berat karena masalah (P2SEM) besar ini,” tuturnya.

Disinggung mengenai riwayat sakit sang suami, Fany mengakui jika dr Bagoes pernah mengalami sakit jantung. Tapi ia tidak bisa memastikan, apakah penyebab kematian dari dr Bagoes ini karena penyakit yang pernah menderanya dulu.

“Dulu sekali, itu pun sudah lama, ia pernah opname karena sakit jantung dan sedikit hipertensi. Tapi itu sudah lama,” ujar Fany.

Nama dr Bagoes, di Jawa Timur sempat fenomenal pada tahun 2010-an, lantaran ia disebut-sebut sebagai salah satu saksi kunci yang dapat membuka tabir korupsi berjemaah kasus P2SEM di Jawa Timur.

Dokter Bagoes adalah terpidana kasus dana hibah P2SEM yang buron sejak ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jatim pada 2010 silam. Dia ditangkap di Malaysia pada Desember 2017 lalu. Karena sudah berstatus narapidana, dia langsung menjalani hukuman di Lapas Porong.

Dana hibah P2SEM adalah dana bantuan dari Pemprov Jatim untuk kelompok masyarakat atau Pokmas senilai lebih Rp200 miliar pada 2008 silam. Ratusan Pokmas di seluruh Jatim sudah menerima itu, dengan rekomendasi dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jatim.

Kejaksaan mengendus peruntukan dana hibah P2SEM tidak sesuai. Tahun 2009, Kejaksaan mengusut kasus tersebut.

Puluhan penerima dana hibah pun sudah ada yang dipidana. Bahkan, Ketua DPRD Jatim saat itu, almarhum Fathorrasjid juga sempat menjadi pesakitan. Karena buron, dokter Bagoes disidangkan secara in absentia atau tanpa kehadiran terdakwa. Dia divonis bersalah dan kini menjalani masa pidananya di Lapas Porong hingga akhir hayatnya.

Kasus itu dinilai publik belum tuntas lantaran dinilai banyak pihak yang terlibat belum terjamah hukum. Namun sayangnya, hingga ia tertangkap, belum ada kemajuan yang berarti terkait dengan kasus tersebut.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*