RUU Pemberantasan Terorisme Mengatur Prosedur Menembak Tersangka, Anggota DPR Mengaku Lebih Takut Lihat Cara Polisi

RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme mengatur tentang prosedur penembakan, TNI lebih oke, Polisi sering membuat salah tembak, lebih menakutkan.

Pembahasan Rancangan Undang Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme memuat tentang detail cara melakukan penembakan terhadap seorang tersangka terorisme. Revisi Undang Undang Nomor 15 Tahun 2013 itu juga melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam perburuan terorisme.

 

Anggota Komisi III DPR RI Muhammad Syafii mengatakan, Revisi Undang Undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang melibatkan TNI  itu sudah benar.

 

“Saya sudah tanya sama ahlinya. TNI itu punya SOP (Standar Operasional Prosedur) yang jelas kalau nembak orang,” kata Syafii di DPR RI, Kamis (28/7/2016).

 

Dia mengatakan, TNI mempunyai aturan dalam mengambil tindakan untuk menembak seseorang . Tidak seperti Polisi yang sering melakukan tindakan terhadap para tersangka.

 

“Misalnya gini, ketika dia akan menembak seseorang yang sudah terpojok, dia harus berteriak. Anda sudah terkepung. Supaya menyerah. Kalau tidak menyerah kami akan ambil tindakan,” ucapnya menirukan
suara memberi  peringatan.

 

Peringatan itu menurutnya harus diulang samapai tiga kali. Jika peringatan yang diberikan juga tidak dihiraukan oleh tersangka atau pelaku, maka TNI akan mengeluarkan tembakan peringatan.

 

“Maka harus ada tembakan peringatan. Kalau tembakan peringatan juga tidak di indahkan, baru SOP – nya  tembak mendatar,” jelasnya.

 

Prosedur itu sangat berbeda dengan prosedur di Kepolisian. Prosedur itu pula akan berpengaruh terhadap kinerja di lapangan dalam menangani terorisme. Syafii mengatakan, Polisi sangat jarang memberikan peringatan kepada tersangka. Polisi dianggap sangat sering mengambil tindakan sepihak, dan sering salah dalam mencurigai seseorang yang mengakibatkan orang yang tidak bersalah menjadi target.

 

“Enggak macam Polisi asal tembak aja. Saya sekarang lebih takut melihat keganasan polisi. Lebih takut saya,” paparnya.(Tornando)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan