Revolusi Industri 4.0 Mencuat, Ancaman Penggusuran Lapangan Kerja Rakyat Kian Nyata, Kaum Marhaen dan Intelektual Harus Bersatu Melawan Penindasan Gaya Baru

Revolusi Industri 4.0 Mencuat, Ancaman Penggusuran Lapangan Kerja Rakyat Kian Nyata, Kaum Marhaen dan Intelektual Harus Bersatu Melawan Penindasan Gaya Baru.

Kaum Marhaen dan intelektual diajak bersatu dan solid untuk melawan berbagai jenis penindasan gaya baru yang ditimbulkan oleh mencuatnya wacana Revolusi Industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0 ini adalah sebuah ancaman baru bagi kaum marhaen, yang mana banyak sekali lapangan pekerjaan akan tergusur dan digantikan oleh mesin-mesin dan teknologi cyber.

Hal itu ditegaskan Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI), Manaek Hutabarat, dalam Seminar Nasional dan Pelantikan Dewan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia Sumatera Utara serta Dewan Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia Kota Medan, di Hotel Grand Antares, Medan,  Jumat (29/03/2019).

Organisasi yang diilhami marhaenisme, sebagai buah pemikiran dan perjuangan Pendiri Bangsa Indonesia, Soekarno dan kawan-kawannya ini, harus berada di garda terdepan memperjuangkan rakyat Indonesia, terutama kaum marhaen yang jumlahnya sangat besar di Indonesia.

“Marhaen jangan hanya jadi slogan saja. ISRI Sumut dan Kota Medan harus bisa mengaktualisasi diri dan membaca perubahan pada revolusi industri 4.0. Perubahan penghisapan terus terjadi pada kaum marhaen di era revolusi industri 4.0. Kaum marhaen tetap diancam dengan maraknya hilang pekerjaan digantikan oleh mesin yang terintegrasi cyber dan intelijen artifisial,” tutur Manaek Hutabarat.

Manaek menyampaikan, sebagai gerakan intelektual atau cendikiawan, ISRI harus terus berjuang bersama marhaen untuk membebaskan kaum marhaen dari ketertindasan dan keterpurukan.

Dia mengingatkan, ISRI Sumut dan Kota Medan jangan hanya berhenti di acara seremonial dan pelantikan saja. “Harus bisa hidup bersama dan mendefinisikan kaum marhaen dan terus berjuang membebaskan marhaen,” ujarnya.

Dia menuturkan, kapitalis dari revolusi industri pertama yang dimulai dari mesin uap sampai revolusi industri 4.0 saat ini, tetap saja dikuasai kapitalis.

“Penjajahan adalah bagian kapitalisme yang ditopang revolusi industri dan menyisakan kaum marhaen tetap tertinggal dan tidak berdaya,” ujarnya.

Manaek menegaskan lagi, para pendiri bangsa sudah merumuskan negeri ini majemuk, dan negara harus berdiri di atas semua golongan. Seperti itu juga latar belakang ISRI yang merupakan organisasi yang tidak berdasarkan pada suku, agama, ras dan golongan tertentu.

Ada pun flat form ISRI, lanjutnya, yakni setia dan menjunjung tinggi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Lambang Negara Garuda Pancasila dengan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bendera Negara Indonesia Sang Merah Putih, Bahasa Negara Bahasa Indonesia, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan selalu taat Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Manaek Hutabarat menjelaskan, sumpah janji kepengurusan tersebut menegaskan posisi Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia sebagai gerakan intelektual atau cendikiawan yang berhaluan nasionalis atau kebangsaan.

Dalam penyampaian pidato dan pesan-pesannya, Manaek juga berharap ISRI Sumut dan Kota Medan dapat memberikan kontrisbusi terhadap kenaikan taraf hidup marhaen.

Dia menegaskan, di sekitar Medan banyak kaum marhaen yang menggarap tanah-tanah. Mereka rawan dirampas tanahnya.

“Apabila mereka terampas maka mereka miskin dan harusnya ISRI lebih mendorong landreform. Selain itu Revolusi industri 4.0 akan menghilangkan banyak pekerjaan yang diisi kaum marhaen. ISRI harus bisa memberikan masukan, pemberdayaan dan pelatihan kepada marhaen yang akan tergusur sistem agar disiapkan mutasi keahlian untuk pekerjaan tertentu,” ujar Manaek.

Adapun Dewan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia Sumatera Utara yang dilantik, dipimpin oleh Dr Nikous Soter Sihombing selaku Ketua dan Dewan Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia Kota Medan dipimpin oleh Amril selaku Ketua.

Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk memberikan sambutan dan acara kemudian dilanjutkan dengan Seminar Nasional bertemakan Revitalisasi Pembangunan Ekonomi Sumatera Utara di Era Revolusi Industri 4.0.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan