Rencana Impor Rektor Asing Kerdilkan Pendidikan Indonesia

Rencana Impor Rektor Asing Kerdilkan Pendidikan Indonesia.
Rencana Impor Rektor Asing Kerdilkan Pendidikan Indonesia.

Wacana yang dilontarkan Kemenristekdikti untuk mengimpor rektor dari luar negeri, mengerdilkan pendidikan dalam negeri dan dianggap sesat.

Pengamat Kebijakan Publik Melkior Wara Mas mengatakan, wacana itu adalah tamparan bagi para akademisi, dosen, dan profesor-profesor di dalam negeri.

“Seakan tidak memiliki kemampuan. Seakan gagal paham akan tugas rektor untuk mengatur penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pembinaan terhadap dosen, mahasiswa, dan tenaga penunjang akademik,” ujarnya, Kamis (08/08/2019).

Setelah tujuh puluh empat tahun Indonesia merdeka, Melki mempertanyakan, apakah ilmu pengetahuan dan pendidikan di Negeri ini terlalu miskin?

“Sehingga tidak mampu menjelaskan pikiran terbaik untuk kemajuan pendidikan dan sumber daya manusia Indonesia. Jika itu terjadi, maka kita lebih baik tidak ada,” imbuhnya.

Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ini menegaskan,  pendidikan adalah bahasa dan cermin diri.

Bahkan, pendidikan adalah investasi yang serius dan bermanfaat dalam bidang sumber daya manusia. Seperti penelitian, peningkatan pembinaan dan pelatihan managerial pengelolaan pendidikan.

“Keuntungannya akan jauh melebihi biaya investasi. Hal ini akan menjadi dasar untuk kemajuan pendidikan,” ujarnya.

Bagi Analis Data dan Informasi Perhimpunan Indonesia Muda ini, penelitian-penelitian sains murni, karya ilmiah, tidak dilihat dari sudut pandang nilai guna langsung.

Karya ilmiah harus dilakukan demi karya itu sendiri. Demi keindahan ilmu pengetahuan. Dan akan selalu ada peluang bagi penemuan ilmiah yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

“Terbuka lahan luas untuk percobaan demi mencapai kemajuan pendidikan. Salah satunya dengan penelitian ilmiah yang memberikan kontribusi permanen bagi ilmu pengetahuan,” ucap Melki.

Perlu difahami, masa depan pendidikan tidak menurun seperti anak tangga. “Membangun masa depan pendidikan harus dari sejarah, keinginan dan keputusan kita,” ucapnya.

Pendidikan juga harus mampu menjawab tantangan pendidikan secara simultan. Membangun kemampuan baru. Menghasilkan dampak kinerja pendidikan yang bermutu.

Dia melanjutkan, tantangan untuk mengidentifikasikan pengalaman belajar yang efektif sangat penting. Menarik semua aspek dari lingkungan belajar, dan juga sumber pengetahuan eksternal yang relevan.

Oleh karenanya, Pemerintah jangan mengembangkan ketidakpercayaan mendasar terhadap otoritas pendidikan dalam negeri sendiri.

Mahasiswa perlu didorong untuk mengkritik ide-ide dan buku-buku yang dipelajari. “Mereka diajar untuk menantang pemikiran orang lain, bahkan pemikiran profesor, bukan dengan buta menerima kebijakan yang sudah didapat, apalagi wacana sesat seperti mengimpor rektor dari luar negeri,” ujar Melkior.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*