Rekan Kerja Dilaporkan Atas Dugaan Penggelapan Jual Beli Kopi, Penetapan Status Tersangka di Polda Sumut Prematur

Kuasa Hukumnya Dr Benny Hermanto, Advokat Muara Karta Simatupang: Rekan Kerja Dilaporkan Atas Dugaan Penggelapan Jual Beli Kopi, Penetapan Status Tersangka di Polda Sumut Prematur.
Kuasa Hukumnya Dr Benny Hermanto, Advokat Muara Karta Simatupang: Rekan Kerja Dilaporkan Atas Dugaan Penggelapan Jual Beli Kopi, Penetapan Status Tersangka di Polda Sumut Prematur.

Penetapan status tersangka terhadap salah seorang rekan kerja pengusaha bisnis kopi di Medan, Sumatera Utara, prematur.

Dr Benny Hermanto yang merupakan rekan kerja sekaligus karyawan dari Suryo Pranoto ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penahanan oleh penyidik kepolisian. Suryo Pranoto sendiri adalah sebagai Pelapor atas adanya dugaan penggelapan dan penipuan dalam bisnis jual beli kopi terhadap Dr Benny Hermanto.

Kuasa Hukumnya Dr Benny Hermanto, Muara Karta Simatupang mengungkapkan, penyidik di Kepolisian belum melakukan upaya penyelidikan yang semestinya atas laporan yang dilakukan Suryo Pranoto itu. Karena itu, status tersangka dan penahanan terhadap Dr Benny Hermanto itu dianggap terlalu prematur atau terburu-buru.

Advokat Muara Karta Simatupang mengungkapkan, Dr Benny Hermanto sudah berkawan dengan Suryo Pranoto selama 30 tahun. Dan selama tahun 2010 hingga 2016, Benny dan Suryo Pranoto menjalin bisnis kopi bersama-sama.

“Padahal, Benny telah bekerja selama kurang lebih 6 tahun kepada Suryo Pranoto. Namun akhirnya dimasukkan ke penjara dengan tuduhan melakukan dugaan penggelapan dan pinipuan terkait jual beli kopi. Hak-hak Benny selama bekerja juga tidak dipenuhi,” tutur Muara Karta Simatupang, dalam keterangan persnya, Sabtu (21/12/2019).

Suryo Pranoto melaporkan Benny kepada polisi atas tuduhan penipuan dan penggelapan kurang lebih Rp 400 juta. Atas laporan yang dilakukan Suryo Pranoto itu, penyidik polisi  dinilai terlalu terburu-buru menetapkan status  tersangka kepada kliennya.

“Harusnya penyidik berkunjung ke gudang kopi milik Dr Benny dong, supaya melihat sendiri apakah stok kopi masih ada atau tidak,” ujar Muara Karta Simatupang.

Dia menjelaskan, dalam perjanjian antara Dr Benny dan Suryo  menyebutkan bahwa barang berupa kopi akan dibayar apabila terjual. Artinya, hukum Perdata sangat kuat dalam perjanjian tersebut.

“Tidak ada unsur penipuan dan penggelapan seperti yang disangkakan oleh penyidik,” lanjut Muara Karta.

Kasus berawal ketika kliennya ingin menuntut haknya yaitu gaji, profit, deviden kepada Suryo Pranoto. Benny melakukan somasi, namun berbalik dilaporkan dugaan penipuan dan penggelapan oleh Suryo Pranoto. Dan penyidik kepolisian lebih cepat merespon laporannya Suryo Pranoto.

“Benny Hermanto dan Suryo Pranoto itu berteman kurang lebih 30 tahun loh. Kok tega ya, akhirnya Benny harus mendekam dalam penjara. Padahal, tidak ada unsur penipuan dan penggelapan seperti yang disangkakan oleh penyidik,” jelasnya.

Sementara itu,  Ketua Komunitas Rejeki Berlimpah Ustad Anas Zulham Almansur mengaku  resah dengan pemberitaan salah satu media online edisi Sabtu 14 Desember 2019 yang mengaitkan kasus dugaan penipuan itu dengan mualaf,  dengan judul Dua Pengusaha ini sama-sama Bernama Hermanto, Tapi Keduannya Berbeda, Satu Putuskan Masuk Islam.

“Harusnya berdiri sendiri-sendiri pemberitaan tersebut walaupun namanya sama. Alangkah baiknya jangan dikait-kaitkan seolah-olah ada hubungan,” ujar Anas di Jakarta, Sabtu (21/12/2019).

Menurut dia, bagusnya soal kriminal berdiri sendiri dan mualaf sendiri juga. “Kan lebih baik seperti itu, akan lebih elok soal etika jurnalistik,” jelas Anas.

Anas mengharapkan agar awak media perlu memperhatikan hal itu dan juga menjaga agar tidak mengabungkan mualaf dan kriminal.

Adapun isi berita tersebut yakni Dr Benny Hermanto, yang masuk daftar pencarian orang (DPO) terkait kasus penipuan pembelian kopi, ditangkap personel Unit II Subdit III Jatanras Ditkrimum Polda Sumut di Jakarta pada Kamis (12/12/2019) malam.

Sedangkan Hermanto Wijaya menjadi Mualaf dihadiri Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, hingga Gubernur Sumsel. Hermanto Wijaya mengucapkan dua kalimat syahadat di  Masjid Raya Citra Grand City, Jumat (3/4/2019). Prosesi pembacaan syahadat  dihadiri oleh tokoh-tokoh penting di Sumatera Selatan.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan