Breaking News

Ratusan Petugas KPPS Mati Tak Diperdulikan, Mahasiswa USU Gelar Aksi Tunggal

Ratusan Petugas KPPS Mati Tidak Dipedulikan, Mahasiswa USU Gelar Aksi Tunggal. Ratusan Petugas KPPS Mati Tidak Dipedulikan, Mahasiswa USU Gelar Aksi Tunggal.

Kekecewaan  Surya Dharma, seorang mahasiswa di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, ditumpahkan lewat pegelaran aksi tunggal di depan kampusnya.

Dia mengkritisi penyelenggaraan Pemilu 2019 yang memakan korban jiwa, dengan meninggalnya hingga 500-an orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).




Keprihatiannya juga ditumpahkan atas ketidakpedulian rekan-rekannya mahasiswa, terutama yang mengatasnamakan dirinya sebagai aktivis dan pergerakan mahasiswa yang tidak peduli dengan kesengsaraan pelaksanaan demokrasi Indonesia kali ini.

Surya Dharma menggelar aksi tunggalnya, Rabu (15/05/2019). Pria ini menutupi kepalanya dengan kantong plastik hitam. Sebuah keranda bertuliskan jumlah korban petugas KPPS yang meninggal dunia diletakkan di dihadapannya.

Tak henti-hentinya Surya Dharma membacakan suara hati nuraninya lewat bait-bait puisi berisi kritik pada pemerintah. Suaranya sampai terdengar gemetar, menggema bak amarah.




Kampus besar itu seperti gedung kosong saja. Tak satupun penghuninya mendengar apa yang ia sampaikan. Keranda mayat dan berbagai tulisan berisi kritik, menjadi simbol mati dan bungkamnya mahasiswa terhadap kondisi bangsa yang sudah begitu memprihatinkan.

Surya Dharma memutuskan berorasi sendiri di depan kampusnya. Dia sadar, keberadaannya dirundung sepi dalam keramaian.

Namun dia juga percaya, ada ribuan bahkan jutaan mahasiswa di luar sana, ingin bersuara menyampaikan kegelisahan atas kondisi bangsa ini.




Menurut Surya, saat ini Mahasiswa Indonesia tampak jelas berpihak dan menjadi tunggangan kepentingan politik tertentu. Kondisi itu juga yang menyebabkan banyak mahasiswa takut bersuara.

Bagi Surya Dharma, masih banyak juga mahasiswa yang memiliki idealisme dan nurani. Mereka sebenarnya sadar dengan kegelisahan rakyat saat ini, namun karena takut dituduh Tim Sukses (Timses) Pasangan Capres tertentu, membuat mereka tidak percaya diri menyampaikan kegelisahan dan permasalahan-permasalahan yang ada di depan mata itu.

“Saya aksi sendiri di sini. Ingin menggugah hati kawan-kawan yang lain. Bahwa sebenarnya keadaan yang sulit hari ini harus kita sampaikan, jangan sampai masyarakat dengan segala kegelisahan dan kerisauannya turun ke jalan melampaui batas kemanusiaan,” tutur Surya Dharma, dalam orasinya.




Dia menyampaikan, adalah menjadi salah satu tugas mahasiswa untuk turun ke jalan mengambil-alih semua masalah.

“Semua kegelisahan yang ada pada diri rakyat, harus disampaikan dengan cara baik agar tidak terjadi hal-hal di luar batas kemanusiaan,” ujarnya.

Surya Dharma pun melakukan aksi tunggal itu untuk membuktikan, sekaligus melawan opini buruk yang dialamatkan kepada mahasiswa, yang seolah mahasiswa kerap ditunggangi.




“Keadaan ini harus tetap kita sampaikan, apapun tantangan dan risikonya. Kita tidak boleh terjebak dalam pertarungan kekuasaan. Sebab kegelisahan rakyat bukan soal kekuasaan, tapi soal keadilan rakyat,” ujar Surya Dharma.

Dia melanjutkan, cita-cita reformasi hari ini sudah jauh dari harapan. Apalagi dengan kondisi demokrasi dan Pemilu 2019 yang berlangsung. Banyaknya dugaan kecurangan yang dilakukan para pemain, dari Pasangan Calon Presiden Nomor 01 dan Pasangan Calon Presiden-Wapres Nomor 2,  massifnya dugaan kecurangan yang dilakukan banyak anggota DPR, DPRD, DPD dan para Caleg, tidak boleh didiamkan.

“Mahasiswa harus mengambil peran. Jangan biarkan rakyat bergerak sendiri melampaui sisi kemanusiaannya,” ujarnya lagi.




Surya sengaja mengenakan penutup wajah sebagai simbol bahwa mahasiwa hari ini tidak berani menyampaikan kritiknya.

Pada jam 6 sore, dia melepaskan penutup wajah. “Sebagai simbol, bahwa kita sudah terbebas dari belenggu opini buruk yang menyebut mahasiswa telah kehilangan dan mati daya kritisnya,” ujar Surya Dharma.

Menanggapi aksi tunggal mahasiswa USU itu, Seketaris Presidium Pusat Kesatuan Aksi Mantan Pengurus Himpunan Mahasiwa Islam (KAPMI ) Abdullah Amas mengapresiasi aksi yang menggugah hati itu.




“Kami mengapresiasi langkah mahasiswa itu. Itu mahasiswa ikhlas, yang bergerak karena hati nurani. Mungkin teman-teman yang lain mau diajak demo tapi masih sibuk ngopi dan nongkrong, karena kelamaan, dia bergerak sendiri,” ujar Abdullah Amas.

Apresiasi yang sama disampaikan mantan aktivis Kelompok Cipayung lainnya, Jhon Roy P Siregar.

Menurut mantan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) ini, gerakan mahasiwa di Pemilu 2019 sangat jauh dari idealisme dan jiwa pergerakan yang harusnya berpihak kepada amanat penderitaan rakyat.




“Kebanyakan adek-adek mahasiswa yang juga aktivis pergerakan saat ini menghabiskan waktunya dengan hanya sibuk nongkrong, malas membaca, malas menyuarakan persoalan-persoalan masyarakat, Nampaknya mereka lebih memilih asyik sibuk selfie, mengejar gaya hidup gelamour, atau malah sibuk ditunggangi nyari proyek-proyek politik,” tutur Jhon Roy P Siregar.

Menurut dia, aksi tunggal yang dilakukan Surya Dharma itu, menunjukkan masih ada mahasiswa yang tidak terhanyut pada kegilaan jaman yang serba tidak mau tahu.

Surya Dharma layak didukung dan menggelorakan pergerakan mahasiswa untuk berani dan kembali ke marwa pergerakan mahasiswa.




“Semoga apa yang dilakukan Bung Surya Dharma itu, mampu mengetuk dan menebarkan jiwa pergerakan yang idealis dan pro para amanat penderitaan rakyat Indonesia,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*