Ratusan Orang Sudah Tertipu & Polisi Sudah Tetapkan Tersangka, Pengembang Nakal Go Hengky Setiawan Dkk Harus Segera Ditangkap

Jangan Biarkan Kejahatan Pebisnis Properti Ngelunjak, Pengembang Nakal Go Hengky Setiawan & Budianto Halim Harus Dihukum Berat.

Pengembang Nakal Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya harus segera ditangkap dan menjalani proses penegakan hukum di Indonesia.

Sepak terjang pria keturunan ini harus dihentikan lantaran menyelenggarakan bisnis yang merugikan masyarakat dan Negara Indonesia.

Majelis Pertimbangan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sandi Ebenezer Situngkir mengungkapkan, Go Hengky Setiawan sudah ditetapkan sebagai tersangka di Polres Jakarta Utara, atas dugaan pengembangan palsu dan menjual apartemen fiktif di Pluit Sea View, Jakarta Utara.

“Go Hengky Setiawan bersama rekan-rekannya seperti Budianto Halim harus segera ditangkap dan diproses hukum. Para pengembang nakal seperti itu tidak perlu ada dan beroperasi di Indonesia. Mereka ini yang merusak masyarakat Indonesia. Untuk Pluit Sea View saja, sudah ratusan orang mengaku tertipu, dan saya sebagai Kuasa Hukum dari Saudari Lim Ratna Sari, mendesak agar para pengembang nakal seperti Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya dihukum berat,” tutur Sandi Ebenezer Situngkir, kepada wartawan, di Jakarta, Senin (25/02/2019).

Pemilik Kantor Hukum Sesa Law ini menjelaskan, selama ini para mafia property berkedok pengembang masih dibiarkan bebas berkeliaran. Meskipun tidak memiliki izin untuk membangun property di Indonesia, para pengembang nakal seperti Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya itu kerap lolos dari jeratan hukum.

“Mungkin lantaran ada main dengan pihak-pihak tertentu. Padahal, pengusaha nakal seperti ini dengan nyata-nyata melakukan penipuan kepada warga Negara dan kepada Negara. Ini tidak boleh dibiarkan. Aparat penegak hokum kita, harus berani dan tegas memburu dan menindak tegas para pengembang nakal,” ujar Sandi Ebenezer.

Kasus pengembang nakal ini kembali terungkap, ketika Lim Ratna Sari, salah seorang warga di Jalan Pluit Timur Blok C Timur Nomor 11 RT 11/RW 09, Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, melaporkan Go Hengky Setiawan ke Polisi, lantaran diduga menjual properti fiktif di Pluit Sea View, Jakarta Utara.

Lim Ratna Sari, melaporkan dugaan penipuan yang dilakukan pengembang PT Binakarya Bangun Propertindo milik Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya.

Dia menjelaskan, Lim Ratna Sari berniat membeli satu unit apartemen di Pluit Sea View Tower Belize A, Lantai 20, Unit 1, Tipe 3 BC, seluas 68.00 M2. Apartemen itu dimiliki dan dipasarkan oleh PT Binakarya Bangun Propertindo, Tbk, yang beralamat di Mall Taman Palem Lantai 3, Cengkareng, Jakarta Barat.

Pada 25 Maret 2012, Lim Ratna Sari melakukan booking fee kepada PT Binakarya Bangun Propertindo sebesar Rp 200 juta. Booking fee itu terkonfirmasi berdasarkan Surat Konfirmasi Unit Nomor 0745 tertanggal 25 Maret 2012 melalui Credit Card BCA Master 2500.

Pada 30 Maret 2012, PT PT Binakarya Bangun Propertindo Group sebagai Pengembang Pluit Sea View menerbitkan kuitansi yang diteken dan disetujui bersama pemesan yakni Lim Ratna Sari dengan penerima pesanan bernama Ridwan, Master Stock Zakiyah dan Zales Andrew.

Harga satu unit apartemen itu adalah Rp 466 juta. Selanjutnya Lin Ratna Sari melakukan angsuran sampai lunas.  Pada 5 Maret 2014, angsuran ke 24 sebagai angsuran terakhir atau pelunasan telah dilakukan lewat Internet Banking pada Bank BCA Nomor Rekening 5910995555 atas nama Binakarya Bangun Property pada BCA.

“Lim Ratna Sari dijanjikan akan menerima kunci apartemen akhir bulan itu. Nah, ternyata unit itu tidak ada. Di cek di Pluit Sea View Tower Belize A, Lantai 20, Unit 1, Tipe 3 BC, seluas 68.00 M2, tidak ada unit seperti itu. Fiktif. Sampai sekarang malah uang Lin Ratna Sari ditahan dan tidak dikembalikan pihak pengembang,” beber Sandi.

Dua tahun laporan Ratna Sari ditangani penyidik Polres Jakarta Utara. Bahkan, dari konfirmasi yang diberikan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemprov DKI Jakarta, diterangkan bahwa izin membangun apartemen oleh PT Binakarya Bangun Propertindo tidak ada.

Dalam surat bernomor 4805/-1.752.13, tertanggal 31 Juli 2017 dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemprov DKI Jakarta, dijelaskan bahwa proses izin mendirikan bangunan dari PT Binakarya Bangun Propertindo untuk bangunan Apartemen Pluit Sea View Tower Belize A yang berlokasi di RW 03, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, tidak ada.

Wakil Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemprov DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto menjelaskan, Proses Izin Mendirikan Bangunan dari PT Binakarya Bangun Propertindo untuk bangunan Apartemen Pluit Sea View Tower Belize A yang berlokasi di RW 03, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemprov DKI Jakarta, belum dapat diproses. “Karena masih terdapat kekuarangan berkas persyaratan,” tuturnya.

Padahal, belum ada izin itu, PT Binakarya Bangun Propertindo untuk bangunan Apartemen Pluit Sea View Tower Belize A. Pihak pengembang  Apartemen Pluit Sea View Tower Belize A yakni PT Binakarya Bangun Propertindo dilaporkan dan diancam dengan pidana pasal 372 KUHP, Pasal 378 KUHP dan Pasal 62 Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Penyidik Polres Jakarta Utara, AKP Samsono yang dibantu oleh Iptu Sutiaji dan Aiptu SM Sinabutar membenarkan, Direktur Utama PT Binakarya Bangun Propertindo, Budianto Halim dan Direktur PT Binakarya Bangun Propertindo Go Hengky Setiawan telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Sudah ditetapkan sebagai tersangka Kamis 3 Januari 2019, di Ruang Kerja Unit II/Harda Lantai 4, Polres Metro Jakarta Utara,” ujar AKP Samsono.

Selain ditetapkan sebagai tersangka, penyidik juga sudah diperintahkan melakukan penyitaan terhadap Bangunan Apartemen Pulit Sea View milik Go Hengky Setiawan.

Surat Perintah Penyitaan, Nomor: Sp.Sita/108/III/2018/Reskrim/ Tanggal 26 Maret 2018, dan telah memperoleh penetapan persetujuan ijin penyitaan dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara, berdasarkan penetapan Nomor: 1386/Pen.Pid/2018/PN.Jkt.Utr, tanggal 23 Juli 2018. “Masih kami proses dan kembangkan,” ujar AKP Samsono.

Tahun 2015 lalu, Go Hengky Setiawan dan PT Binakarya Jaya Abadi Tbk malah menggelar paparan publik terkait rencananya melepas saham perusahaan. Dana hasil pelepasan saham akan dipakai membiayai sejumlah proyek properti.

Komisaris Utama Perusahaan Go Hengky Setiawan mengungkapkan, setidaknya ada 3 proyek properti baru yang akan dikembangkan melalui entitas anak usaha Perseroan di tahun 2015. Antara lain, Hotel Horison Bali oleh PT Binakarya Makmur Sentosa, dengan luas area mendekati 2.000 m2, yang ditargetkan selesai tahun 2017.

Proyek kedua adalah Hotel Dhyana Pura Seminyak, dibangun oleh PT Karya Cipta Makmur Abadi dengan luas lahan hampir 13.000 m2. Ditargetkan selesai pada 2018.

Sedangkan proyek ketiga yang dibangun oleh PT Binakarya Makmur Abadi, yakni Apartemen Juanda, Bekasi. Luas lahan proyek ketiga ini melebihi 11.000 m2, dan ditargetkan tuntas di tahun 2019.

“Ke depan akan ada proyek baru sejalan dengan akuisisi lahan-lahan potensial,” dalam sebuah kesempatan pemaparan publik, di Raffles Ballroom, Jakarta, Jumat (12/6/2015).

Rupanya, Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya adalah komplotan dan sindikat yang telah beroperasi di Indonesia.

Bahkan, Go Hengky Setiawan yang menjadi Chief Executive Officer (CEO) PT Agung Sedayu Group dan CEO Binakarya Propertindo Group (BPG) sudah berkali-kali berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sandi Ebenezer Situngkir mengungkapkan, Go Hengky Setiawan pernah berurusan dengan bisnis milik koruptor kakap M Nazaruddin, yang merupakan Bendahara Umum Partai Berkuasa di era lalu.

Go Hengky Setiawan bahkan berkali-kali diperiksa KPK terkait kasus dugaan gratifikasi pelaksanaan proyek PT Duta Graha Indonesia dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pembelian saham PT Garuda.

“Makanya Go Hengky Setiawan dan kawan-kawannya itu harus diberantas. Mereka harus segera ditangkapi dan dihukum berat, serta kembalikan kerugian Negara dan kerugian masyarakat selama ini,” tutup Sandi Ebenezer Situngkir.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan