Ramlan Hutahaean Si Pendeta Bejat Tak Dijatuhi Sanksi Tegas, Pendeta Senior Mundur Dari Gereja HKBP Rawamangun

Pdt Bernard Togi Parsaoran Siagian yang merupakan Pendeta di Gereja HKBP Rawamangun menyatakan mundur dari kependetaan, jika Pimpinan Pusat HKBP Tidak Menindaktegas Pdt Ramlan Hutahaean dkk sesuai Aturan dan Peraturan serta Konfessi HKBP. (Foto-Istimewa)
Pdt Bernard Togi Parsaoran Siagian yang merupakan Pendeta di Gereja HKBP Rawamangun menyatakan mundur dari kependetaan, jika Pimpinan Pusat HKBP Tidak Menindaktegas Pdt Ramlan Hutahaean dkk sesuai Aturan dan Peraturan serta Konfessi HKBP. (Foto-Istimewa)

Dikarenakan belum adanya tindakan tegas dari Pimpinan Tertinggi Gereja Huria Batak Kristen Protestan (HKBP) terhadap tindakan amoral dan bejat Ramlan Hutahaean sebagai pimpinan Gereja HKBP Rawamangun, Jakarta Timur, salah seorang pendeta senior yang bertugas di HKBP Rawamangun kembali menegaskan sikapnya untuk mengundurkan diri dari kependetaan.

Sikap itu disampaikan oleh Pendeta Bernard Togi Parsaoran Siagian, salah seorang pendeta senior yang bertugas di Gereja HKBP Rawamangun.




Untuk ketiga kalinya, Pdt Bernard TP Siagian menyurati pimpinan Gereja HKBP atas kondisi yang menimpa jemaat dan gereja HKBP Rawamangun, tidak mendapat respon positif dari Pimpinan HKBP.

“Saya sudah bersurat resmi. Yang terakhir pada Minggu 02 Februari 2020 dan Senin 03 Februari 2020. Surat saya tujukan kepada Pimpinan Pusat HKBP di Pearaja, Tarutung. Kemudian juga kepada Praeses HKBP Distrik VIII DKI Jakarta Pdt Midian KH Sirait, kepada Pdt Hardy Bontor Lumbantobing selaku Pendeta HKBP Ressort Rawamangun yang ditunjuk menggantikan Pdt Ramlan Hutahaean,” ungkap Pdt Bernard TP Siagian, Selasa (11/02/2020).

Surat-suratnya juga ditembuskan langsung ke pihak-pihak seperti Ompui Ephorus HKBP Pdt Darwin Lumbantobing, kepada Ketua Rapat Pendeta HKBP. Juga kepada Parhalado dan jemaat HKBP Rawamangun.




Inti suratnya, lanjut Pdt Bernard TP Siagian, menanyakan dan meminta sikap dan tindakan tegas Pimpinan Pusat HKBP dan Pimpinan Wilayah HKBP serta para pendeta di HKBP terhadap kasus yang merebak, yakni dugaan perzinahan, perbuatan bejat dan amoral yang dilakukan Pdt Ramlan Hutahaean, selaku pimpinan Gereja HKBP Rawamangun bersama seorang wanita bernama Rosma Mery Siagian, yakni jemaat Gereja Kristen Oikumene (GKO) Laharoi, Cijantung, Jakarta Timur.

“Termasuk meminta mengambil tindakan terhadap salah seorang Sintua di HKBP Rawamangun yakni Sintua Hotma Parulian Br Nababan, yang menurut saya sudah menghujat dan menuduh tugas kependetaan saya di HKBP Rawamangun, sebagai pendeta pemecah-belah atau tukang adu domba. Ini mesti ditindaktegas,” tutur Pdt Bernard TP Siagian.

Surat-suratnya itu juga berisikan pernyataan, pengalaman dan juga pergumulan keimanan kristianinya. Serta pergumulan batin sebagai seorang pendeta.




“Dengan ini, saya berharap kepada semua pihak dan Pimpinan HKBP sebagai para stakeholder, agar melihat kasus ini dari sudut pandang bersama, yang TUHAN kehendaki,” ujarnya.

“Mari kita lepaskan segala kepentingan dan cara pikir masing-masing, yang pasti akan membuat kita terus berbeda dan saling menyalahkan, agar hanya Kebenaran TUHAN sajalah yang dinyatakan,” lanjut Pdt Bernard TP Siagian.

Pdt Bernard TP Siagian berharap dan mendorong agar Pimpinan HKBP menerapkan aturan dan peraturan Gereja HKBP dalam mengambil tindakan tegas terhadap Pdt Ramlan Hutahaean dan para pendukungnya, yang karena kasus perzinahan dan tindakan bejatnya telah juga memecahbelah jemaat di HKBP Rawamangun.




Sebelum mengambil tindakan yang lainnya, Pdt Bernard TP Siagian mendesak Pimpinan HKBP dan para pendeta maupun jemaat HKBP untuk menegakkan Aturan dan Peraturan HKBP, sebagaimana dituangkan dalam Konfessi HKBP.

Aturan itu harus diterapkan juga kepada Pdt Ramlan Hutahaean, kepada Sintua Hotma Parulian Br Nababan dan para pendukung Pdt Ramlan Hutahaean yang merusak dogma gereja, aturan peraturan gereja dan nilai-nilai kekristenan di HKBP Rawamangun.

“Inilah saatnya HKBP berbenah diri secara moral, untuk membangun kesadaran dan komitmen bersama dalam menjaga kekudusan gereja sebagai Tubuh Kristus. Telah begitu banyak beban yang ditanggung oleh perilaku tidak layak di antara banyak pelayan HKBP selama ini yang menjadi buah bibir di kalangan umat,” tutur Pdt Bernard TP Siagian.




“Terlebih, cara-cara penyelesaian masalah yang tidak konsisten dengan ketentuan dan konsep Aturan Peraturan yang menyebabkan menumpuknya masalah, dan timbulnya berbagai ekses yang menjadi preseden buruk selama ini,” lanjutnya.

Pdt Bernard TP siagian berharap, momentum ini menjadi pembaharuan yang baik bagi gereja HKBP. Menyatakan kebenaran dan bertindak melakukan sanksi tegas kepada setiap Pendeta dan pekerja di Gereja HKBP yang melakukan pelanggaran dan kejahatan.

Sebagaimana hal yang sama juga telah sering diterapkan kepada jemaat-jemaat HKBP yang melanggar.




“Saya mengharapkan seluruh pihak dan stakeholder yang mengasihi TUHAN dan mencintai HKBP, untuk merelakan diri dikoreksi oleh kebenaran Firman TUHAN dan Injil Yesus Kristus, dan menyingkirkan segala kepentingan diri dan kelompok,” ujar Pdt Bernard TP Siagian.

Dia juga berharap, jemaat HKBP di mana pun berada, mau bersikap dan bertindak kritis terhadap kepemimpinan di gereja HKBP.

Sehingga, bisa mengawasi dan menindaktegas para pendeta, Sintua dan para petugas di HKBP sesuai Aturan dan Peraturan yang berlaku di Gereja HKBP.




“Marilah kita membangun komitmen dan kejujuran serta jatidiri HKBP yang sesungguhnya sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja dan Kepala Gereja, sebagaimana yang kita anut dan hayati bersama sesuai Konfessi dan Ruhut Parmahanion dan Paminsangon (RPP) HKBP, begitu pun konsep Dasar Iman yang kita sepakati, untuk menjadi gereja yang benar,” tutur Pdt Bernard TP Siagian.

Surat-surat dan pernyataan maupun permintaannya itu telah disampaikan ke semua Pimpinan HKBP di Pearaja, Tarutung.

Pdt Bernard TP Siagian berharap, aka nada respond an tindaklanjut yang positif dari Pimpinan HKBP untuk menindaklanjuti persoalan-persoalan itu sesuai Aturan Peraturan dan Konfessi HKBP.




Persoalan di HKBP Rawamangun merebak, sejak  Tahun 2019 lalu, yang mana terungkapnya serangkaian dugaan kejahatan dan pelanggaran yang dilakukan Pdt Ramlan Hutahaean selaku Pimpinan Gereja HKBP Rawamangun.

Adanya dugaan penyelewengan penggunaan uang gereja atau korupsi gereja, dugaan perilaku pendeta yang sudah melanggar Aturan dan Peraturan Gereja HKBP, sejumlah dugaan kejahatan yang terbungkus rapih.

Dan yang menghebohkan adalah adanya perbuatan bejat dan amoral yang sangat dilarang dilakukan oleh seorang Pendeta yakni berupa perzinahan dan perselingkuhan. Hubungan terlarang ini yang sudah lumayan lama terjadi dan dilakukan oleh Pdt Ramlan Hutahaean bersama Rosma Mery Siagian.




Rosma Mery Siagian diketahui adalah anggota jemaat Gereja Kristen Oikumene (GKO) Laharoi, Cijantung, Jakarta Timur. Rosma Mery Siagian juga masih memiliki suami yang sah bernama Marlen Sirait. Pasangan Rosma Mery Siagian dan Marlen Sirait juga memiliki seorang putri yang sedang beranjak dewasa.

(JR/Nando)

1 Trackback / Pingback

  1. Pdt. RH Oknum Pendeta Bejat tidak ditindak tegas Ephorus HKBP - satukanindonesia.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*