Pulang Merantau Dari Australia, Mantan Aktivis Mahasiswa Kembali Ke Desa Dirikan Saung Inggris Kanguru Sarana Belajar Bahasa Inggris Warga Kampung

Abbadi Said Talib Pulang Merantau Dari Australia

Abbadi Said Talib Pulang Merantau Dari Australia, Mantan Aktivis Mahasiswa Kembali Ke Desa Dirikan Saung Inggris Kanguru Sarana Belajar Bahasa Inggris Warga Kampung.
Abbadi Said Talib Pulang Merantau Dari Australia, Mantan Aktivis Mahasiswa Kembali Ke Desa Dirikan Saung Inggris Kanguru Sarana Belajar Bahasa Inggris Warga Kampung.

Pria ini bernama Abbadi Said Talib. Dia mengecap pendidikan dan menamatkan perkuliahannya di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang, Banten pada 2012.

Abbadi masuk sebagai mahasiswa di Fakultas Manajemen Untirta pada 2005. Abbadi adalah aktivis pendidikan. Dia mendirikan Organisasi bernama Nuansa Daerah Pendidikan (NDP). Sosoknya menjadi panutan para aktivis di Banten, khususnya di Untirta.

Sejak menamatkan pendidikannya pada 2012, Abbadi masih sempat mengabdikan dirinya di NDP. Pada tahun 2015 dia merantau ke Negeri Kanguru, Australia.

Di Negeri Kanguru, Abbadi sempat bekerja sebagai buruh. Kemudian menapaki pekerjaan secara profesional, sembari menimba ilmu.

Tahun 2019, Abbadi kembali ke Pandeglang, Banten, ke desanya. Untuk membangun kampung halamannya yang masih tertinggal.

Maka, Saung Inggris Kanguru pun hadir di kampungnya, sejak awal maret 2020 yang lalu. Suasana di Kampung Inggris ala Pandeglang, Banten itu  tampak asri dan nyaman.

Di tempat itulah Abbadi Said Thalib mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak di Kampung Babakan, Desa Kadubale, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, agar bisa menguasai bahasa Inggris.

Pria yang pernah bekerja di salah satu pabrik coklat di Australia ini pulang kampung untuk mendidik anak-anak di desanya, khususnya berbahasa Inggris.

Alumnus Unitirta yang nekat merantau ke Negeri Kanguru ini memiliki mimpi mulia untuk masa depan anak-anak di desanya.

“Selepas pulang dari Australia, saya mendirikan tempat belajar bahasa Inggris ini secara gratis. Alhamdulillah, saat ini sudah ada sebanyak 55 siswa yang belajar. Baik itu anak usia dini maupun anak SD,” ujar Abbadi, dalam perbincangan, Selasa (24/03/2020).

Usut punya usut, ternyata selain bekerja sebagai buruh di Australia, pria yang kini berumur 32 tahun ini ternyata di negeri rantau tak melupakan untuk mengasah ilmu.

“Kerja di pabrik cokelat dari sore sampai jam 12 malam. Jadi paginya disempatkan untuk kursus,” katanya.

Di Australia, Abbadi masuk ke salah satu lembaga kursus bahasa yakni di Central Queensland University dan Holmesglen College di Melbourne, Australia.

“Sehingga konsep yang digunakan mirip yang disana. Kebetulan anak saya yang pertama PAUD di Australia. Sehingga konsepnya digunakan di tempat ini,” tuturnya.

Semasa menjalani pendidikan di Untirta, Abbadi juga aktif di organisasi internal. Seperti pernah menjadi Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (Ketua DPM) Untirta. Dia mengatakan, konsep yang digunakan di Saung Inggris Kanguru yang dia dirikan yakni mengunakan konsep belajar ceria dan interaktif melalui games, video animasi, dan bercerita.

“Alhasil, anak-anak merasakan senangnya belajar bahasa Inggris di lingkungan tempat tinggal mereka,” kata Abbadi.

Dia menerangkan, kelas-kelas diadakan oleh Nuansa Daerah Pendidikan (NDP). Dan NDP itu pula didirikan olehnya beserta rekan-rekannya semasa dia mengenyam pendidikan di Untirta, sejak 2009 yang lalu. Dan salah satu program unggulannya saat ini diberi nama Saung Inggris Kanguru.

Menurut Abbadi, skill bahasa Inggris sangatlah penting sejak dini. Agar dapat membuka kesempatan berkarier dan berkarya untuk bangsa dan negara.

“Serta dapat menggapai mimpi besar untuk lebih maju di Indonesia maupun di luar negeri serta menyongsong 4.0,” ujarnya.

Selain itu, banyak anak-anak di kampungnya yang memiliki latar belakang keluarga kurang mampu. Juga minat belajar yang kurang untuk mengenyam bangku pendidikan tinggi.

“Di sini kebanyakan warganya hanya tamatan SD dan SMA. Saya berharap bisa memperluas lembaga kursus ini ke semua kecamatan, terutama desa tertinggal. Namun, terkendala pada operasional yang hanya mengandalkan swadaya pribadi dan baru memiliki tiga orang tenaga pengajar,” katanya.

Tokoh masyarakat setempat, Ijad mengapresiasi keberadaan Saung Inggris Kanguru di Kampung Babakan. Ia mengaku, keberadaan saung tersebut membantu anak-anak dan warga sekitar.

“Anak saya juga ikut belajar bahasa inggris di tempat ini. Kadang bernyanyi dan bermain. Jadi anak-anak terlihat senang dengan metode pengajarannya,” tukas Ketua RW setempat itu.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan