Prof Rokhmin Dahuri Paparkan Potensi Laut Indonesia di Cina

Prof Rokhmin Dahuri Paparkan Potensi Laut Indonesia di Cina.

Potensi ekonomi kelautan Indonesia mencapai nilai 1,33 miliar dolar Amerika Serikat per tahun. Sedangkan potensi perikanan budidaya mencapai 200 miliar dolar amerika per tahun.

Hal itu dipaparkan Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof DR Rokhmin Dahuri, pada Global Aquaculture Summit di Fuzhou, Cina, Kamis (31/5/2018).

Selain itu, Rokhmin juga secara panjang lebar memaparkan potensi akuakultur Indonesia serta kebijakan kerjasama asing.

Prof Rokhmin Dahuri yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menerangkan makalahnya bertajuk The Status of Indonesia Aquaculture and Foreign Cooperation Policy.

Mantan Menteri Kelautan tersebut menjelaskan, potensi ekonomi sektor perikanan tangkap hanya sekitar 15 milyar dolar amerika per tahun  atau hanya 1,1%.

“Sektor perikanan budidaya mencakup, perikanan budidaya di laut atau mariculture, perikanan budidaya di perairan payau atau tambak, atau yang disebut juga dengan coastal aquaculture, dan perikanan budidaya di perairan tawar atau darat, seperti di danau, waduk, sungai, kolam, sawah atau minapadi, akuarium, dan wadah lainnya,” tutur Rokhmin, dalam siaran pers, Minggu (03/06/2018).

Menurut dia, apabila dikelola secara profesional, menggunakan sains dan teknologi serta manajemen yang inovatif, inklusif, dan ramah lingkungan maka sub-sektor marikultur bukan hanya bakal berkontribusi secara signifikan bagi kemajuan perekonomian nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarkat.

“Tetapi juga bisa menjadi salah satu sektor unggulan  atau leading sector, yang dapat menghela Indonesia menjadi negara maju, sejahtera, dan berdaulat,” tuturnya.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, lanjutnya, dimana tiga perempat wilayahnya berupa laut, Indonesia memiliki potensi produksi marikultur terbesar di dunia. “Yakni mencapai sekitar 60 juta ton per tahun,” ujarnya.

Prof Rokhmin menambahkan, usaha marikultur bukan hanya menghasilkan sumber pangan protein berupa berbagai jenis ikan, kekerangan (moluska), dan crustacean (udang, lobster, kepiting, rajungan, dan lainnya).

“Tetapi juga sumber bahan baku bagi industri farmasi, kosmetik, perhiasan (seperti kerang mutiara), cat, film, biofuel, dan ratusan jenis industri lainnya, yang berasal dari micro algae, macro algae, avertebrata, dan biota (organisme) laut lainnya,” ungkapnya.

Bahkan, lanjutnya, dalam dekade terakhir Tiongkok sudah berhasil membudidayakan padi di perairan laut pesisir. Dengan perkataan lain, ke depan usaha marikultur juga bisa menghasilkan sumber pangan karbohidrat.

“Sementara itu, permintaan atau demand manusia, baik di Indonesia maupun pada tataran global, terhadap ikan, seafood, dan produk-produk marikultur lain seperti tersebut akan terus meningkat, seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk dunia,” ujarnya.

Forum tersebut dihadiri oleh sekitar 500 peserta dari berbagai belahan dunia. Diselenggarakan oleh China Aquatic Product Processing and Marketing Alliance (CAPPMA) and Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries, People Republic of China, di Hotel Jeurong, Fuzhou, Provinsi Fujian, Cina.(JR)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*