Breaking News

Polisi di Nias Melanggar dan Terus Tutupi Kesalahan, Pak Kapolri Jangan Tutup Mata!

Polisi di Nias Melanggar dan Terus Tutupi Kesalahan, Pak Kapolri Jangan Tutup Mata!

Institusi Kepolisian diminta tidak melindungi penyidik atau pejabatnya yang terbongkar telah melakukan upaya pelanggaran hukum dan atau dugaan kejahatan.

Kuasa Hukum Stevenson dan Djoniso, Itamari Lase mengatakan, jika jujur melihat dan melakukan proses hukum yang fair terhadap penangkapan kliennya pada malam hari menjelang subuh pada 6 Februari 2019 dari rumah masing-masing kliennya, maka penegak hukum pasti akan menemukan betapa kesalahan dan prosedur hukum yang sengaja dilabrak oleh Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik dkk sangat riil dan nyata.

“Tanpa ada Surat Perintah Penangkapan. Datang tengah malam, di saat keluarga tengah beristirahat, menggeledah rumah tengah malam, membangunkan seluruh penghuni rumah dan anak-anak yang masih kecil. Tidak ada bukti adanya narkoba yang ditemukan penyidik, tidak ada juga indikasi yang dapat dijadikan acuan menangkap. Lalu membawa Stevenson dan Djoniso di hadapan anak-anak mereka dan isteri, bagai penjahat atau teroris. Coba, apakah polisi yang begitu bisa disebut profesional? Niat mereka pun kita tidak tahu,” tutur Itamari Lase, Minggu (07/04/2019).

Anehnya lagi, lanjut Itamari Lase, sejak 6 Februari 2019 itu, pihak keluarga dan kuasa hukum keluarga sudah melaporkan ke Polres Nias dan Polda Sumatera Utara. Namun pihak keluarga dan kuasa hukum tidak pernah memperoleh respon yang memadai dan hampir tak ada informasi mengenai perkembangan kasus itu.

“Pimpinan Polri jangan melindungi anak buahnya yang tidak professional dan yang sengaja hendak melakukan kriminalisasi dan atapun dugaan pemerasan. Pimpinan Polri harus menindaktegas, ini berkaitan dengan nyawa masyarakat dan juga kinerja serta nama baik Kepolisian kita loh,” tutur Itamari Lase.

Lagi pula, kata dia lagi, setelah dirinya sebagai Kuasa Hukum, bersama pihak keluarga korban yakni Meriani Zendrato dan Venny Gan melaporkan kasus ini ke Divisi Mabes Polri dan diekspos media di Jakarta, barulah ada reaksi dari polisi dan jaksa di daerah.

Namun anehnya, reaksi yang diberikan polisi maupun jaksa sangat terkesan hendak melindungi dan menutup-nutupi berbagai ketidakprofesionalan polisi dan jaksa. Bahkan, reaksi aparat penegak hukum di daerah itu pun terkesan hendak menyerang balik para korban dan keluarga korban.

“Ini harus dibongkar dan dibuka secara transparan. Jangan ditutup-tutupi dan jangan malah melindungi pelaku dugaan kriminalisasi dan dugaan pemerasan,” ujar Itamari Lase.

Itamari Lase menegaskan, ada pasal dari Kode Etik Polri yang telah dilanggar oleh Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik dan kawan-kawannya dalam kasus ini.

Pasal yang dilanggar itu adalah Pasal 14 Huruf K, Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Bunyinya, Setiap Anggota Polri dalam melaksanakan tugas penegakan hukum sebagai penyidik, penyelidik pembantu dan penyidik, dilarang melakukan hubungan atau pertemuan secara langsung atau tidak langsung di luar kepentingan dinas, dengan pihak-pihak terkait dengan perkara yang sedang ditangani.

“Jadi, ketika Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik dan KBO Narkoba Polres Nias, Hesena Ziliwu datang ke rumah Ibu Meriani Zendrato pada pukul 09.00 WIB, di tanggal 6 Februari 2019, itu setelah penangkapan klien saya, itu bukan dalam kerangka kepentingan dinas. Saat itu juga Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik meminta menyediakan uang Rp 500 juta agar suami Ibu Meriani Zendrato bisa dibebaskan oleh Polisi. Jadi, dapat diduga kuat, itu melanggar etik profesi Polri,” tegar Itamari Lase.

Jika aparat hukum di tingkat daerah pun sudah tidak bisa dipercaya, lanjutnya, kini Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian harus mengetahui dan turun tangan untuk mengusut tuntas persoalan ini. “Pak Kapolri mesti tahu dan menindaktegas anak buah yang sudah melanggar,” ujarnya.

Isteri korban Djoniso, Venny Gan menambahkan, ketidakprofesionalan penyidik itu pun semakin terkuak lantaran laporan mereka ke Polda Sumatera Utara malah telah di-SP3-kan penyidik.

“Saya baru diinformasikan adanya SP3 atas laporan kami di Polda Sumatera Utara, setelah kami melaporkan ini ke Divisi Propam Mabes Polri,” ujarnya.

Padahal, selama beberapa bulan ini, dirinya tidak pernah mendapat informasi, dan tidak pernah tahu sejauh mana informasi yang dilakukan penyidik.

“Saya pun belum pernah diinformasikan, saya sebagai pelapor pun belum pernah dimintai keterangan. Kok tiba-tiba ada SP3? Ini benar-benar skenario yang sangat disengaja saya kira,” tutur Venny Gan.

Senada dengan Venny, Meriani Zendrato juga tidak pernah diberitahu oleh penyidik mengenai perkembangan kasus suaminya.

“Saat penangkapan di rumah saja mereka sudah tidak ada membawa Surat Perintah Penangkapan dan penggeledahan. Kami tanyakan, tetapi tidak digubris. Kok sekarang, mereka seperti hendak menyerang balik kami,” ujar Meriani Zendrato.

Sebelumnya, Dua orang ibu bernama Meriani Zendrato dan Venny Gan mendatangi Markas Besar Polri di Jalan Trunojaya, Jakarta Selatan pada Kamis (04/04/2019).

Keduanya adalah ibu rumah tangga biasa, yang bertekad berangkat dari rumah mereka di Pulau Nias ke Jakarta untuk melaporkan dugaan kriminalisasi dan pemerasan yang dilakukan oknum polisi di Polres Nias kepada suami dan keluarga mereka.

Dengan didampingi Kuasa Hukumnya, Itamari Lase, kedua ibu mendatangi Gedung Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri.

“Suami saya dibawa dari rumah tengah malam. Sekitar jam setengah satu malam. Ada gerombolan Polisi yang datang ke rumah, malam-malam. Suami saya dituduh mengedarkan dan memakai Narkoba. Padahal tidak ada apa-apa di rumah,” tutur Meriani Zendrato.

Suaminya yang bernama Stevenson alias Steven langsung digadang ke Kantor Polres Nias pada malam hari itu juga.

Tak jauh beda dengan yang dialami Meriani Zendrato dan suaminya Stevenson, hal yang sama juga terjadi kepada Ibu bernama Venny Gan. Di hari yang sama, yakni pada 6 Februari 2019 itu, gerombolan polisi itu juga mendatangi rumah Venny Gan.

“Kalau ke rumah kami, polisi datang sekitar jam setengah dua subuh. Suami saya lagi tidur, dibawa ke kantor polisi. Tuduhannya, memakai dan mengedarkan Narkoba. Tidak ada sedikitpun narkoba di rumah kami. Tidak juga ada barang bukti yang dibawa oleh polisi,” tutur Venny Gan.

Meriani Zendrato ternyata masih memiliki hubungan saudara dengan Venny Gan. Suami Meriani Zendrato yakni Steven masih kakak kandung Venny Gan. Venny Gan sendiri bersuamikan Djoniso alias Koban. Malam itu juga, Koban digelandang juga ke Polres Nias.

Gerombolan Polisi yang datang tengah malam itu diketahui adalah para penyidik Satnarkoba Polres Nias yang dipimpin oleh Kasat Resnarkoba, Inspektur Polisi Satu (Iptu) Martua Manik.

Tengah malam itu, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik yang didampingi KBO Narkoba Hesena Ziliwu dan pasukannya, antara lain James Simbolon dan kawan-kawannya, menyisir rumah Meriani Zendrato yang beralamat di Malaga, Jalan Arah Pelud Binaka Kilometer 15, Simpang Pastoran, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Berselang satu jam, Iptu Martua Manik dkk juga menyisir rumah Venny Gan yang beralamat di Jalan Diponegoro 432, Miga, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Kuasa Hukum mereka, Itamari Lase menuturkan, pada saat menciduk kedua suami dan kliennya itu, polisi tidak mampu menunjukkan Surat Perintah Penangkapan.

“Di rumah Steven, mereka langsung melakukan penggeledahan. Tidak ditemukan ada narkoba, Karena Steven dan Djoniso memang tidak memakai Narkoba. Mereka ditangkap tanpa adanya Surat Perintah Penangkapan,” tutur Itamari Lase.

Masih pada 6 Februari 2019, sekitar pukul 09 pagi, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik yang didampingi KBO Narkoba Hesena Ziliwu kembali mendatangi rumah Stevenson dan bertemu dengan Meriani Zendrato.

Tujuan kedatangan polisi itu lagi adalah untuk menanyakan tanggapan Meriani Zendrato atas penangkapan yang dilakukan kepada suaminya, Stevenson.

Pada saat itulah, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik langsung mengatakan kepada Meriani Zendrato, jika ingin selesai kasus yang menimpa suaminya, maka harus disediakan uang sebesar Rp 500 juta, hari itu juga.

“Saya menolak. Karena suami saya tidak bersalah, mengapa saya harus kasih uang Rp 500 juta? Buat apa? Kami juga tidak memiliki uang kok,” ujar Meriani Zendrato. Namun, Iptu Martua Manik bersikeras, “Saya memberi waktu 1 jam untuk mencari uang itu kepada sanak famili, jika tidak, akan saya tahan. Begitu katanya,” ujar Meriani menirukan ucapan Iptu Martua Manik.

Dikarenakan tidak bisa memenuhi permintaan Polisi untuk memberikan uang, maka pada sore hari pada 6 Februari 2019 itu, Polisi mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan kepada Stevenson  alias Steven dan kepada Djoniso alias Koban.

Sebelumnya, Dua orang ibu bernama Meriani Zendrato dan Venny Gan mendatangi Markas Besar Polri di Jalan Trunojaya, Jakarta Selatan pada Kamis (04/04/2019).

Keduanya adalah ibu rumah tangga biasa, yang bertekad berangkat dari rumah mereka di Pulau Nias ke Jakarta untuk melaporkan dugaan kriminalisasi dan pemerasan yang dilakukan oknum polisi di Polres Nias kepada suami dan keluarga mereka.

Dengan didampingi Kuasa Hukumnya, Itamari Lase, kedua ibu mendatangi Gedung Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri.

“Suami saya dibawa dari rumah tengah malam. Sekitar jam setengah satu malam. Ada gerombolan Polisi yang datang ke rumah, malam-malam. Suami saya dituduh mengedarkan dan memakai Narkoba. Padahal tidak ada apa-apa di rumah,” tutur Meriani Zendrato.

Suaminya yang bernama Stevenson alias Steven langsung digadang ke Kantor Polres Nias pada malam hari itu juga.

Tak jauh beda dengan yang dialami Meriani Zendrato dan suaminya Stevenson, hal yang sama juga terjadi kepada Ibu bernama Venny Gan. Di hari yang sama, yakni pada 6 Februari 2019 itu, gerombolan polisi itu juga mendatangi rumah Venny Gan.

“Kalau ke rumah kami, polisi datang sekitar jam setengah dua subuh. Suami saya lagi tidur, dibawa ke kantor polisi. Tuduhannya, memakai dan mengedarkan Narkoba. Tidak ada sedikitpun narkoba di rumah kami. Tidak juga ada barang bukti yang dibawa oleh polisi,” tutur Venny Gan.

Meriani Zendrato ternyata masih memiliki hubungan saudara dengan Venny Gan. Suami Meriani Zendrato yakni Steven masih kakak kandung Venny Gan. Venny Gan sendiri bersuamikan Djoniso alias Koban. Malam itu juga, Koban digelandang juga ke Polres Nias.

Gerombolan Polisi yang datang tengah malam itu diketahui adalah para penyidik Satnarkoba Polres Nias yang dipimpin oleh Kasat Resnarkoba, Inspektur Polisi Satu (Iptu) Martua Manik.

Tengah malam itu, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik yang didampingi KBO Narkoba Hesena Ziliwu dan pasukannya, antara lain James Simbolon dan kawan-kawannya, menyisir rumah Meriani Zendrato yang beralamat di Malaga, Jalan Arah Pelud Binaka Kilometer 15, Simpang Pastoran, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Berselang satu jam, Iptu Martua Manik dkk juga menyisir rumah Venny Gan yang beralamat di Jalan Diponegoro 432, Miga, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Pulau Nias.

Kuasa Hukum mereka, Itamari Lase menuturkan, pada saat menciduk kedua suami dan kliennya itu, polisi tidak mampu menunjukkan Surat Perintah Penangkapan.

“Di rumah Steven, mereka langsung melakukan penggeledahan. Tidak ditemukan ada narkoba, Karena Steven dan Djoniso memang tidak memakai Narkoba. Mereka ditangkap tanpa adanya Surat Perintah Penangkapan,” tutur Itamari Lase.

Masih pada 6 Februari 2019, sekitar pukul 09 pagi, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik yang didampingi KBO Narkoba Hesena Ziliwu kembali mendatangi rumah Stevenson dan bertemu dengan Meriani Zendrato.

Tujuan kedatangan polisi itu lagi adalah untuk menanyakan tanggapan Meriani Zendrato atas penangkapan yang dilakukan kepada suaminya, Stevenson.

Pada saat itulah, Kasat Resnarkoba Polres Nias Iptu Martua Manik langsung mengatakan kepada Meriani Zendrato, jika ingin selesai kasus yang menimpa suaminya, maka harus disediakan uang sebesar Rp 500 juta, hari itu juga.

“Saya menolak. Karena suami saya tidak bersalah, mengapa saya harus kasih uang Rp 500 juta? Buat apa? Kami juga tidak memiliki uang kok,” ujar Meriani Zendrato. Namun, Iptu Martua Manik bersikeras, “Saya memberi waktu 1 jam untuk mencari uang itu kepada sanak famili, jika tidak, akan saya tahan. Begitu katanya,” ujar Meriani menirukan ucapan Iptu Martua Manik.

Dikarenakan tidak bisa memenuhi permintaan Polisi untuk memberikan uang, maka pada sore hari pada 6 Februari 2019 itu, Polisi mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan kepada Stevenson  alias Steven dan kepada Djoniso alias Koban.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*